CNBC Awards
×

Kerja Lebih Tenang di Bulan Ramadan!

Diskon 20% untuk Semua Modul!*

Manfaatkan promo spesial ini dan pastikan bisnis tetap lancar selama Ramadan!

Sisa Waktu --:--:--

*hanya untuk 100 klaim pertama

Breakdown Maintenance dan Strategi Efektifnya di Industri Manufaktur

Diterbitkan:

Breakdown maintenance masih sering menjadi jalan cepat saat mesin tiba-tiba berhenti beroperasi. Namun, jika perusahaan terus mengandalkan cara ini tanpa strategi yang jelas, potensi risikonya bisa jauh lebih besar daripada sekadar perbaikan mendadak. Produksi bisa terhenti, biaya perbaikan membengkak, target pengiriman terganggu, dan performa mesin ikut menurun dari waktu ke waktu.

Saat tuntutan operasional makin tinggi, perusahaan manufaktur tidak cukup hanya bereaksi setelah kerusakan terjadi. Mereka perlu memahami penyebab gangguan dan memperkirakan dampaknya terhadap efisiensi, lalu menyiapkan mitigasi yang lebih terukur agar kerusakan serupa tidak terus berulang.

Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat menekan downtime, menjaga produktivitas, dan meningkatkan keandalan sistem produksi secara menyeluruh. Melalui artikel ini, Anda akan memahami apa itu breakdown maintenance serta strategi yang tepat digunakan dalam menghadapi situasi ini.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu Breakdown Maintenance?

      Breakdown maintenance adalah tindakan perbaikan yang perusahaan lakukan setelah mesin atau peralatan mengalami kerusakan. Dalam industri manufaktur, kondisi ini biasanya muncul saat mesin tiba-tiba berhenti beroperasi dan mengganggu alur produksi. Akibatnya, perusahaan perlu segera menangani kerusakan agar proses kerja dapat kembali berjalan.

      Banyak orang juga mengenal metode ini sebagai reactive maintenance karena tim teknis baru bertindak setelah masalah muncul. Pendekatan ini masih cukup umum dilakukan terutama untuk komponen dengan masa pakai singkat atau biaya penggantiannya relatif rendah, seperti baterai, lampu indikator, atau suku cadang sederhana. Pada kondisi tertentu, langkah ini memang terasa praktis karena perusahaan tidak perlu repot-repot menjadwalkan perawatan rutin sejak awal.

      Namun, ketergantungan pada breakdown maintenance juga dapat menimbulkan risiko yang lebih besar. Jika sewaktu-waktu kerusakan terjadi, perusahaan bisa menghadapi downtime yang biayanya tidak terduga dan juga menghambat produksi.

      Breakdown Maintenance and Preventive Maintenance, Mana yang Menguntungkan?

      Breakdown maintenance dan preventive maintenance sering dibandingkan karena keduanya sama-sama bertujuan menjaga mesin tetap berfungsi. Namun, cara kerja, risiko, dan dampaknya terhadap operasional sangat berbeda. Breakdown maintenance berfokus pada perbaikan setelah kerusakan terjadi, sedangkan preventive maintenance mengutamakan perawatan atau maintenance terjadwal untuk mencegah gangguan sedini mungkin. Apa saja perbedaan di antara keduanya? Tabel komprehensif berikut akan menjawab pertanyaan Anda.

      Kriteria Breakdown Maintenance Preventive Maintenance
      Biaya Biaya rutin cenderung lebih rendah karena perusahaan hanya melakukan perbaikan saat kerusakan terjadi. Membutuhkan anggaran perawatan berkala, tenaga teknis, dan suku cadang terjadwal.
      Waktu Downtime Tidak memerlukan jadwal perawatan rutin, tetapi risiko downtime mendadak lebih tinggi saat mesin tiba-tiba rusak. Membutuhkan jeda perawatan yang sudah dijadwalkan. Namun, pendekatan ini biasanya membantu mengurangi gangguan operasional yang tidak terduga.
      Risiko Kehilangan Produksi Lebih tinggi, terutama jika kerusakan terjadi pada mesin kritis yang langsung memengaruhi alur produksi. Cenderung lebih rendah karena perusahaan melakukan pemeriksaan dan penggantian komponen sebelum kerusakan mengganggu proses kerja.
      Fleksibilitas Cocok untuk aset non-kritis, komponen murah, atau peralatan yang tidak berdampak besar pada output saat rusak. Cocok untuk aset kritis karena membutuhkan jadwal inspeksi dan perawatan yang terstruktur.

      Dari tabel tersebut, bisa kita lihat bahwa breakdown maintenance bisa menjadi pilihan yang efisien dalam kondisi tertentu, terutama untuk peralatan non-kritis dengan biaya perbaikan yang relatif rendah. Namun, untuk mesin yang sangat memengaruhi kapasitas produksi, pendekatan ini membawa risiko yang lebih besar karena kerusakan dapat muncul tanpa peringatan dan langsung mengganggu struktur operasional.

      Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak memilih metode perawatan hanya berdasarkan biaya awal. Anda juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap downtime, target produksi, umur mesin, dan kontinuitas bisnis. Setelah memahami perbedaannya.

      Selanjutnya, mari kita bedah manfaat penerapan breakdown maintenance agar Anda dapat menentukan apakah metode ini masih layak digunakan dalam bisnis Anda.

      Tujuan dan Manfaat Breakdown Maintenance yang Wajib Anda Ketahui

      Infografis Breakdown Maintenance

      Bagi bisnis manufaktur, breakdown maintenance bertujuan memulihkan fungsi mesin secepat mungkin setelah gangguan terjadi agar proses produksi dapat kembali berjalan. Pendekatan ini umumnya cocok untuk peralatan non-kritis, komponen dengan umur pakai pendek, atau mesin yang biaya perbaikannya masih lebih rendah daripada biaya perawatan rutin. Breakdown maintenance pun memiliki beberapa tujuan dan manfaat dalam dunia bisnis manufaktur. Berikut adalah rinciannya.

      1. Memulihkan mesin secepat mungkin saat terjadi kerusakan

      Tujuan utama breakdown maintenance adalah mengembalikan fungsi mesin agar proses produksi bisa berjalan lagi. Karena itu, metode ini fokus pada tindakan cepat setelah gangguan muncul.

      2. Mengurangi gangguan produksi pada aset tertentu

      Jika perusahaan dapat menangani kerusakan dengan cepat, dampak terhadap output produksi bisa lebih kecil. Hal ini biasanya lebih efektif untuk mesin non-kritis atau komponen yang mudah diganti.

      3. Membantu penggunaan sumber daya secara lebih selektif

      Tim teknis dapat fokus pada perbaikan yang benar-benar dibutuhkan. Selain itu, perusahaan juga dapat mengalokasikan tenaga kerja, waktu, dan anggaran ke aset yang memang memerlukan penanganan langsung.

      4. Menekan biaya rutin pada kondisi tertentu

      Perusahaan tidak perlu selalu mengeluarkan biaya perawatan berkala untuk semua peralatan. Pendekatan breakdown ini cocok jika mesin jarang mengalami gangguan atau nilai komponen yang diganti masih relatif rendah.

      5. Menjadi pilihan praktis untuk komponen berumur pakai pendek

      Breakdown maintenance sering digunakan untuk komponen sederhana seperti baterai, lampu indikator, atau suku cadang yang murah dan mudah ditemukan. Dalam kasus seperti ini, perbaikan setelah rusak dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dan tidak rumit.

      6. Memberikan data kerusakan untuk evaluasi perawatan

      Setiap gangguan yang terjadi dapat dijadikan sebagai evaluasi. Selanjutnya, perusahaan bisa menggunakan data tersebut untuk melihat pola kerusakan dan menyusun strategi preventive maintenance yang lebih tepat.

      7. Mendukung fleksibilitas operasional pada kondisi tertentu

      Perusahaan tidak perlu selalu menghentikan mesin untuk perawatan terjadwal. Namun, manfaat ini hanya terasa jika risiko kerusakan masih dapat ditoleransi dan tidak mengganggu proses produksi secara besar.

      Dalam konteks bisnis manufaktur di Indonesia, di mana ketersediaan suku cadang dan biaya perbaikan sering menjadi faktor pembatas, breakdown maintenance dapat menjadi solusi yang efektif untuk menjaga kelancaran operasional pabrik dan meningkatkan daya saing industri manufaktur di pasar yang semakin kompetitif.

      Mengapa Industri Manufaktur Perlu Breakdown Maintenance?

      Untuk mempermudah pemahaman mengenai pentingnya perbaikan breakdown bagi industri manufaktur di Indonesia, kami sajikan tabel informasi perbandingan breakdown maintenance dan pengaruhnya terhadap pabrik: 

      Tanpa Breakdown Maintenance Dengan Breakdown Maintenance
      Akibat maintenance yang buruk, productive capacity asset pabrik turun 20% (Deloitte) Pengurangan risiko gangguan produksi yang tidak terduga
      Kondisi mesin bisa rusak lebih cepat Membantu memperpanjang umur pakai mesin
      Biaya perbaikan bisa menjadi lebih besar Menekan biaya perbaikan darurat
      Downtime cenderung lebih lama Mempercepat pemulihan operasional
      Produktivitas dapat menurun Membantu menjaga produktivitas
      Keterlambatan pengiriman dapat menurunkan kepuasan pelanggan Membantu menjaga kepuasan pelanggan

      Dari tabel di atas, terlihat bahwa cara perusahaan menangani kerusakan mesin akan sangat memengaruhi kelancaran operasional. Semakin cepat dan tepat penanganannya, semakin kecil risiko downtime yang dapat menyebabkan gangguan terhadap target produksi maupun potensi pembengkakan biaya.

      Namun, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan saat mesin rusak. Agar pengelolaan breakdown maintenance lebih efektif, sudah banyak bisnis manufaktur mulai menggunakan software manufaktur untuk memantau kondisi aset, mencatat riwayat kerusakan, dan mempercepat koordinasi perbaikan. Dengan langkah ini, operasional menjadi lebih terkontrol dan keputusan perawatan bisa diambil lebih cepat.

      Jenis-jenis Breakdown Maintenance

      Melakukan Breakdown Maintenance

      Umumnya, ada dua pendekatan di dunia manufaktur saat menangani kerusakan mesin. Masing-masing memiliki cara penerapan yang berbeda, tergantung pada seberapa tinggi tingkat kritis aset, kesiapan teknisi, serta kemampuan perusahaan memantau kondisi mesin secara berkala. Apa saja pendekatan tersebut? Mari kita kupas lebih detail:

      1. Unscheduled Breakdown Maintenance

      Pendekatan ini mengacu pada perbaikan yang dilakukan setelah mesin mengalami kerusakan secara tiba-tiba. Tim teknis baru mengambil tindakan saat gangguan sudah muncul dan produksi mulai terdampak. Cara ini masih sering digunakan perusahaan untuk aset non-kritis atau komponen yang biaya penggantiannya relatif rendah.

      2. Planned Corrective Maintenance

      Pendekatan ini dilakukan saat tim teknis sudah menemukan tanda penurunan performa atau gejala kerusakan pada mesin. Sederhananya, perusahaan tidak menunggu mesin sampai mati total, tetapi sudah menyiapkan langkah perbaikan pada waktu yang paling aman/tidak sibuk bagi operasional. Cara ini membantu menekan risiko kerusakan mendadak sekaligus menjaga kelancaran produksi.

      Perbedaan paling mendasar antara keduanya terletak pada waktu tindakan perbaikan. Unscheduled breakdown maintenance bersifat reaktif karena perusahaan bertindak setelah kerusakan terjadi. Sebaliknya, planned corrective maintenance bersifat lebih terkontrol karena perusahaan sudah lebih dulu melihat indikasi masalah dan menyiapkan perbaikan sebelum gangguan menjadi lebih besar. Keduanya sama baiknya bagi manufaktur, sesuaikan dengan kebutuhan produksi Anda.

      Strategi Efektif Menerapkan Breakdown Maintenance

      Breakdown maintenance tidak berarti dilakukan secara sembarangan. Tanpa pengelolaan yang tepat, perbaikan mendadak malah bisa memperpanjang downtime, menaikkan biaya, dan mengganggu target produksi. Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan langkah atau strategi yang terukur agar penanganan kerusakan tetap cepat dan operasional tetap stabil.

      1. Lakukan analisis risiko mesin

      Pertama-tama, identifikasi mesin yang paling sering bermasalah atau paling besar dampaknya terhadap produksi. Anda bisa memakai data historis kerusakan, hasil inspeksi, dan masukan dari operator untuk mengelompokkan aset yang perlu pengawasan lebih.

      2. Susun rencana penanganan mesin

      Walaupun breakdown maintenance bersifat reaktif, perusahaan tetap perlu punya rencana penanganan. Tentukan alur respons, tim yang bertanggung jawab, dan langkah perbaikan agar penanganan kerusakan berjalan secara teratur.

      3. Prioritaskan mesin dengan jam operasional tinggi

      Tidak semua mesin memiliki tingkat urgensi yang sama. Karena itu, utamakan mesin yang paling sering dipakai atau paling besar pengaruhnya terhadap alur produksi agar gangguan tidak meluas ke proses lain.

      4. Pastikan stok suku cadang selalu siap

      Ketersediaan suku cadang sangat menentukan kecepatan perbaikan. Jika komponen atau spare part sudah tersedia, tim teknis bisa langsung menangani kerusakan tanpa menunggu pembelian mendadak yang memperpanjang downtime.

      5. Latih operator dan teknisi

      Operator biasanya menjadi pihak pertama yang mengetahui tanda gangguan pada mesin. Dengan pelatihan yang tepat, mereka bisa mengenali gejala awal kerusakan untuk pencegahan kerusakan yang lebih cepat.

      6. Evaluasi hasil perbaikan secara rutin

      Setelah perbaikan dilakukan, perusahaan atau tim manajemen perlu mengevaluasi penyebab kerusakan, lama downtime, dan biaya yang muncul. Dari sini, Anda bisa menilai apakah pendekatan yang dipakai sudah efektif atau masih perlu disesuaikan lagi.

      7. Gunakan teknologi untuk memantau aset

      Agar pengelolaan breakdown maintenance lebih terkontrol, perusahaan bisa memanfaatkan software aset atau maintenance. Sistem ini secara real-time membantu memantau kondisi mesin, mencatat riwayat kerusakan, mengelola suku cadang, dan mempercepat pengambilan keputusan saat gangguan terjadi.

      Pada akhirnya, breakdown maintenance tidak cukup dijalankan hanya dengan memperbaiki mesin saat rusak. Perusahaan juga perlu mengatur prioritas aset, kesiapan tim, dan ketersediaan suku cadang agar penanganan kerusakan benar-benar efektif. Anda juga dapat mengimplementasikan form checklist maintenance yang detail untuk kebutuhan perawatan mesin perusahaan Anda.

      Tips Mengelola Breakdown Maintenance Mesin Produksi

      Dashboard Breakdown Maintenance

      Breakdown maintenance sering tidak dapat dihindari karena bisa saja mesin produksi mengalami kerusakan mendadak. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki strategi pengelolaan yang tepat agar gangguan tersebut tidak menimbulkan downtime berkepanjangan, kerugian produksi, maupun pembengkakan biaya perbaikan. Berikut merupakan tips-tips merencanakan breakdown maintenance:

      1. Prioritaskan Mesin Produksi yang Bersifat Kritis

      Setiap mesin memiliki tingkat urgensi yang berbeda-beda. Maka dari itu, perusahaan perlu mengidentifikasi mesin yang paling berpengaruh terhadap alur produksi. Dengan menetapkan prioritas aset kritis, tim maintenance dapat menangani kerusakan lebih cepat sehingga operasional utama tetap berjalan.

      2. Catat Riwayat Kerusakan dan Perbaikan Mesin

      Pencatatan riwayat kerusakan sangat penting untuk memahami pola kegagalan mesin. Data ini membantu tim teknisi mengetahui komponen yang paling sering rusak serta menentukan tindakan perbaikan yang lebih efektif di masa depan.

      3. Siapkan SOP Penanganan Kerusakan Mesin

      Perusahaan sebaiknya memiliki standar prosedur operasional (SOP) yang jelas ketika terjadi kerusakan mesin. SOP ini mencakup alur pelaporan kerusakan, proses pemeriksaan, hingga tindakan perbaikan yang harus dilakukan oleh tim teknisi.

      4. Pastikan Ketersediaan Suku Cadang Penting

      Kerusakan mesin sering kali memerlukan penggantian komponen tertentu. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan ketersediaan suku cadang penting agar proses perbaikan dapat dilakukan dengan cepat tanpa harus menunggu inden spare part yang memakan waktu.

      5. Gunakan Sistem Manajemen Aset untuk Monitoring Mesin

      Penggunaan sistem manajemen aset membantu perusahaan memantau kondisi mesin secara real-time dan lebih terstruktur. Sistem ini juga dapat mencatat riwayat perawatan, memberikan notifikasi kerusakan, serta membantu tim teknisi mengambil keputusan perbaikan dengan data yang lebih akurat.

      Jika perusahaan Anda ingin membuat proses maintenance lebih rapi, solusi aset yang tepat dapat menjadi pertimbangan yang layak untuk pengelolaan aset yang lebih terstruktur. Bisnis akan tetap siap menghadapi tuntutan produksi yang terus bergerak serta fokus tim tidak terbagi untuk mengerjakan pemantauan manual dengan kerjaan utamanya.

      Kesimpulan

      Breakdown maintenance memegang peranan penting dalam menjaga kelangsungan operasional mesin produksi. Namun, perusahaan tidak bisa menjalankannya secara sembarangan. Anda perlu menyiapkan strategi yang tepat agar proses perbaikan tidak mengganggu alur produksi dan menyebabkan dampak yang lebih luas seperti pembengkakan biaya maupun turunnya output produksi.

      Dari berbagai strategi yang telah dibahas, penggunaan software aset menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mempermudah pengelolaan maintenance. Dengan sistem yang tepat, Anda dapat mengotomatiskan pencatatan riwayat atau histori kerusakan serta mempercepat proses penanganan.

      FAQ Seputar Breakdown Maintenance

      • Apa itu breakdown maintenance?

        Breakdown maintenance adalah metode perawatan yang dilakukan setelah mesin atau peralatan mengalami kerusakan agar operasional bisa kembali berjalan.

      • Apa perbedaan breakdown maintenance dan preventive maintenance?

        Breakdown maintenance dilakukan setelah kerusakan terjadi, sedangkan preventive maintenance merupakan upaya lebih awal untuk mencegah kerusakan.

      • Apakah software aset membantu mengelola breakdown maintenance?

        Ya, software aset membantu memantau kondisi mesin, mencatat riwayat kerusakan, dan mempercepat proses penanganan gangguan secara real-time, memungkinkan pengguna solusi ini untuk mengambil tindakan lebih cepat sesuai dengan kondisi kerusakan mesin.

      • Kapan perusahaan sebaiknya menggunakan breakdown maintenance?

        Metode ini cocok untuk aset non-kritis, komponen murah, atau mesin yang tidak terlalu memengaruhi alur produksi saat rusak karena sifatnya yang simple dan tidak membutuhkan struktur penjadwalan yang rumit.

      Ana Kristiani

      Content Writer

      Ana adalah asset management specialist dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di bidang manajemen aset dan keuangan perusahaan. Fokus menulis tentang manajemen siklus hidup aset, inventarisasi dan pelacakan aset, dan integrasi sistem digital untuk monitoring aset, sehingga membantu bisnis mencapai kinerja maksimal.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya