BerandaProductsInventoryRetail Apocalypse: Pengertian dan Dampaknya di Indonesia

Retail Apocalypse: Pengertian dan Dampaknya di Indonesia

Masih segar di ingatan bagaimana hebohnya pemberitaan mengenai penutupan sejumlah gerai Giant di beberapa kota. Kabar itu bahkan sempat menjadi trending topic di sejumlah media sosial selama beberapa hari lamanya. Banyak orang mensinyalir bahwa retail apocalypse mulai melanda Indonesia.

Namun, apakah benar wabah retail apocalypse tersebut kini melanda Indonesia? Jika benar, seberapa besarkah dampaknya terhadap perkembangan industri retail di tanah air? Artikel kali ini akan membahas secara mendalam mengenai fenomena yang menarik ini.

Apa itu retail apocalypse?

Tutupnya raksasa retail seperti Hero dan Giant di sejumlah provinsi di Indonesia membuat sebagian besar masyarakat bertanya, “ada apa?”. Ada beberapa orang yang menduga bahwa penyebab hal ini terjadi adalah pertumbuhan industri retail yang terlalu cepat. Menjamurnya pusat perbelanjaan di kota-kota besar kerap tidak seimbang dengan peningkatan daya beli masyarakat. Akibatnya sejumlah mall pun terlihat sepi, bahkan di akhir pekan sekalipun memperparah hal ini.

Ada juga yang menuding penyebab dari retail apocalypse ini adalah tidak mampu bersaingnya toko ritel di tengah gempuran e-commerce. Berubahnya kebiasaan belanja masyarakat dari datang ke toko menjadi belanja dari rumah, membuat toko ritel kehilangan pelanggan, dan berujung merugi.

Retail apocalypse di Amerika Serikat sudah memakan banyak korban. Sears Holding yang sebelumnya punya banyak cabang di berbagai negara bagian di tahun 2018 dinyatakan bangkrut oleh pemerintah Amerika. Bloomingdale juga punya nasib yang sama dengan Sears Holding. Yang terakhir, Toy’s “R” Us juga dinyatakan bangkrut.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama, namun sedikit sekali yang menyadarinya bahwa kejadian ini adalah kiamatnya bisnis retail. Mulai dari tumbangnya beberapa toko di sejumlah mall besar seperti Mangga Dua, yang kemudian merembet pada sepinya sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta.

Masyarakat mulai sadar bahwa ada kejadian besar yang bergerak di belakang layar ketika Giant dan Hero terkena imbasnya. Ada yang tidak beres pada industri ritel di Indonesia yang membuat bisnis multicabang tersebut tumbang dan terpaksa menutup sejumlah gerai di beberapa provinsi di Indonesia.

Baca juga: 7 Kesalahan yang Wajib Dihindari dalam Mengelola Bisnis Ritel

Penyebab retail apocalypse

Ada empat hal yang menyebabkan retail apocalypse di Amerika Serikat. Empat hal ini juga terjadi di Indonesia dan membuat sejumlah raksasa retail di Indonesia ambruk. Berikut lengkapnya:

Pertumbuhan pesat e-commerce

Tak sedikit orang yang mengambinghitamkan e-commerce atas kejatuhan para toko ritel. E-commerce lah yang membuat kebiasaan belanja masyarakat dari datang ke mall berubah menjadi belanja di rumah. Tak hanya itu, e-commerce sangatlah bersaing dalam hal harga. Promosi yang e-commerce tawarkan pun tak kalah menggiurkannya jika membandingkanya dengan diskon yang ada di pusat perbelanjaan.

Data mengatakan bahwa e-commerce mengalami peningkatan penjualan sampai 11% – 20% di masa liburan jika membandingkanya dengan toko ritel yang hanya mengalami peningkatan sebanyak 1.6%. Bahkan ada sejumlah department store yang justru mengalami penurunan angka penjualan sebanyak 4.8%.

Mall di mana-mana

Pertumbuhan jumlah mall di Amerika, dan juga di Indonesia, tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Data menyebutkan data pertumbuhan mall di Amerika Serikat dua kali lebih banyak jika membandingkanya dengan nilai pertumbuhan penduduk.

Dampaknya, pengunjung mall pun berkurang setengahnya dan membuat mall-mall baru pun terlihat sepi. Kejadian ini pun semakin parah seiring bertambahnya tahun. Dengan munculnya fenomena “restaurant renaissance”, alias pengunjung mall lebih memilih untuk membelanjakan uangnya untuk makan di restoran yang ada di mall, ketimbang membeli sepatu atau baju baru.

Baca juga: 5 Tips Jitu Meningkatkan Jumlah Pengunjung di Toko Ritel Offline Anda

Hilangnya konsumen kelas menengah

Buat toko ritel kelas menengah seperti Macy’s dan Sears, masyarakat kelas menengah adalah target pasar utama mereka. Namun mereka kalah bersaing dengan toko ritel yang lebih besar yang berani mengambil margin keuntungan yang lebih kecil.

Akibatnya, masyarakat kelas menengah pun lebih memilih berbelanja di tempat yang lebih murah. Toko ritel independen pun akhirnya terpaksa mengalah karena kehilangan pelanggan mereka. Di Indonesia, fenomena ini bisa kita lihat di toko ritel seperti Makro.

Manajemen yang buruk

Faktor terakhir yang menyebabkan ambruknya toko ritel adalah buruknya manajemen ritel yang dijalankan bisnis-bisnis tersebut. Manajemen inventory yang kacau menyebabkan toko sering kehabisan stok. Akibatnya pelanggan pun lebih memilih berbelanja secara online yang ketersediaan stoknya lebih baik.

Tak menariknya pengalaman berbelanja di toko ritel semakin memperparah hal ini. Di saat kita berbelanja di toko ritel, sering kali kita hanya mendapatkan pengalaman berbelanja yang itu-itu saja, atau tidak berkesan sama sekali.

Survive di industri ritel

Tak semua toko ritel berujung bangkrut di tengah-tengah gempuran e-commerce. Ada juga bisnis ritel seperti IKEA atau Walmart yang mampu beradaptasi dengan cepat dan menjadi survivor di industri retail. Tak hanya itu, toko ritel ini bahkan mampu meningkatkan penjualannya beberapa tahun belakangan ini.

Rahasia dari IKEA dan Walmart ini adalah mereka meningkatkan daya saing mereka dengan bantuan teknologi. Seperti misalnya penggunaan inventory management system untuk meningkatkan pengelolaan barang di gudang dan toko.

Ada juga yang mengintegrasikan inventory management dengan sistem Point of Sales untuk memberikan pengalaman berbelanja yang unik dan menarik. Selain memberikan kemudahan pada saat pembayaran, POS juga memudahkan toko ritel dalam mengatur promosi yang mereka jalankan.

Kesimpulan

Meraih kesuksesan di bisnis ritel di tahun 2021 bukanlah perkara mudah. Ada seribu macam tantangan yang harus dilewati hanya untuk bisa survive di lini bisnis ini. Tak hanya itu, berbagai cara untuk beradaptasi di tengah gempuran e-commerce pun merupakan kewajiban jika tak ingin tersingkir dari persaingan.

Salah satu cara untuk bertahan adalah dengan menggunakan sistem ERP terbaik untuk meningkatkan kinerja usaha. EQUIP memberikan solusi bagi ritel-ritel yang berusaha bertahan pada masa saat ini.

Software ERP

Jangan sampai bisnis ritel anda ikut digulung retail apocalypse! Dapatkan pengetahuan yang bisa menghindari anda dari kebangkrutan sekarang juga! Hadiri seminar yang diadakan oleh HashMicro yang bertajuk “Reviving the Retail Industry in the E-Commerce Era”. Klik di sini untuk mendaftarkan diri anda.

Tertarik Mendapatkan Tips Cerdas Untuk Meningkatkan Efisiensi Bisnis Anda?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Butuh Software untuk Bisnis Anda?

Konsultasikan kebutuhan Anda dengan mengisi form ini dan dapatkan demo GRATIS!

Ingin respon lebih cepat?

Hubungi kami lewat Whatsapp

Nadia

Nadia
Balasan dalam 1 menit

Novia
Ingin Demo Gratis?

Hubungi kami via WhatsApp, dan sampaikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim ahli kami
+6287888000015
×
Jadwalkan Demo Via WA