Banyak bisnis mengira last mile visibility berarti memasang GPS di setiap armada kurir atau dashboard canggih dengan peta bergerak, last mile visibility lebih dari sekadar melacak posisi paket melainkan juga tentang mengelola ekspektasi pelanggan.
Last mile visibility bukan sekadar fitur tracking. Ini adalah gap antara ekspektasi pelanggan yang sudah terbiasa dengan real-time updates seperti pada aplikasi Gojek/Grab, dibandingkan dengan realita operasional logistik tradisional yang masih mengandalkan update manual setiap 6-12 jam.
Dengan strategi Last Mile Visibility yang tepat, bisnis dapat mengurangi risiko operasional dan menjaga kepercayaan pelanggan. Pendekatan ini menjadi fondasi penting untuk logistik yang lebih efektif dan kompetitif.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Last Mile Visibility dan Perbedaannya dengan Tracking Biasa?
Last mile visibility adalah kemampuan memantau dan mengelola seluruh proses pengiriman tahap akhir secara real-time, mulai dari barang meninggalkan hub distribusi hingga diterima oleh pelanggan, dengan data yang dapat ditindaklanjuti (actionable insights).
Misalnya, sistem dapat memberi peringatan jika kurir terjebak macet dan menyarankan rute alternatif. Dengan menggunakan software TMS lengkap untuk perusahaan logistik, Anda mengubah data lokasi menjadi keputusan strategis yang menyelamatkan biaya bahan bakar dan waktu.
Urgensi Visibilitas Pengiriman bagi Pertumbuhan Bisnis
Selain kepuasan pelanggan, visibilitas berperan penting dalam pengendalian biaya logistik, terutama pada pengiriman tahap akhir logistik yang kompleks. Data lapangan membantu mengidentifikasi inefisiensi seperti rute tidak optimal dan idling time armada, sehingga penghematan dapat dilakukan secara akurat.
1. Meningkatkan pengalaman dan kepercayaan pelanggan
Memberikan akses pelacakan real-time kepada pelanggan menciptakan rasa aman dan percaya. Ketika pelanggan bisa melihat pergerakan kurir di peta menuju lokasi mereka, kecemasan akan paket hilang berkurang drastis. Hal ini secara otomatis meningkatkan Customer Satisfaction Score (CSAT) dan memperbesar peluang pembelian berulang (retensi).
2. Identifikasi masalah operasional secara proaktif
Dengan visibilitas penuh, tim operasional dapat melihat potensi keterlambatan sebelum menjadi keluhan pelanggan. Misalnya, jika sebuah truk mengalami kendala teknis, manajer dapat segera mengirimkan armada pengganti atau menginformasikan penundaan kepada pelanggan lebih awal. Tindakan proaktif ini jauh lebih baik daripada membiarkan pelanggan bertanya-tanya.
3. Pengendalian biaya operasional logistik
Biaya logistik tahap akhir atau last mile sering kali memakan porsi terbesar dari total biaya pengiriman, mencapai hingga 53% menurut beberapa riset industri. Penggunaan transportation analyitics memberikan visibilitas memungkinkan analisis rute untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan memaksimalkan kapasitas muatan kendaraan. Efisiensi sekecil apa pun di tahap ini akan berdampak besar pada margin keuntungan perusahaan.
Studi kasus: optimasi rute distributor FMCG
PT Sinar Distribusi Nusantara (Surabaya)
Distributor consumer goods dengan 47 armada dan coverage Jawa Timur
Situasi awal:
- Biaya BBM mencapai Rp 890 juta/bulan untuk 47 truk
- Rata-rata jarak tempuh 280 km/hari per armada
- Drop point per hari: 12-15 toko dengan urutan berdasarkan “kebiasaan” driver
- Utilisasi kapasitas truk hanya 67%
Masalah yang ditemukan:
- Driver menentukan rute sendiri, sering melewati jalan yang familiar tapi bukan yang tercepat
- Tidak ada konsolidasi pengiriman truk ke Malang dan truk ke Pasuruan berangkat terpisah padahal bisa satu jalur
- Return rate 8% karena toko tutup/tidak ada yang terima — driver tidak ada sistem appointment
Intervensi:
- Implementasi route planning software dengan GPS tracking
- Sistem appointment confirmation via WhatsApp H-1 pengiriman
- Cluster-based delivery: pengelompokan drop point berdasarkan zona geografis
- Insentif driver berdasarkan fuel efficiency, bukan hanya jumlah pengiriman
Hasil (6 bulan implementasi)
| Metrik | Sebelum | Sesudah | Improvement |
|---|---|---|---|
| Biaya BBM/bulan | Rp 890 juta | Rp 612 juta | -31% |
| Jarak tempuh/hari | 280 km | 215 km | -23% |
| Drop point/hari | 12-15 | 18-22 | +47% |
| Utilisasi kapasitas | 67% | 84% | +17% |
| Return rate | 8% | 2.3% | -71% |
Tantangan Utama Visibilitas Logistik di Indonesia
Jika perusahaan Anda menggunakan banyak vendor logistik, mengintegrasikan data pelacakan dari berbagai sumber ke dalam satu dasbor software TMS untuk operasional pengiriman bisa menjadi sangat rumit. Tanpa integrasi yang baik, visibilitas menyeluruh (end-to-end) mustahil dicapai.
Berikut adalah dua tantangan utama dalam visibilitas logistik di Indonesia:
1. Akurasi alamat dan infrastruktur
Banyak alamat di daerah pelosok Indonesia hanya mengandalkan patokan lokal yang tidak terbaca oleh GPS standar. Teknologi geocoding yang canggih diperlukan untuk menerjemahkan deskripsi alamat manual menjadi titik koordinat yang presisi. Tanpa ini, efisiensi pengiriman akan selalu terhambat oleh faktor “kurir nyasar”.
2. Resistensi pengemudi terhadap teknologi
Sering kali, tantangan terbesar bukan pada teknologinya, melainkan manusianya. Pengemudi atau kurir mungkin merasa diawasi secara berlebihan atau merasa aplikasi pengiriman terlalu rumit digunakan. Pendekatan persuasif dan pelatihan yang tepat sangat dibutuhkan agar mereka melihat teknologi sebagai alat bantu, bukan beban.
Komponen Teknologi Pendukung yang Efektif
Untuk mencapai visibilitas penuh, bisnis tidak bisa lagi mengandalkan komunikasi manual via WhatsApp atau telepon. Diperlukan ekosistem teknologi yang saling terhubung. Inti dari sistem ini adalah Transport Management System (TMS) yang bertindak sebagai otak pengendali seluruh operasi.
Berikut adalah komponen teknologi pendukung yang efektif:
1. Pelacakan GPS dan geofencing
Teknologi ini memungkinkan manajer memantau armada secara real-time dan membuat pagar virtual (geofence) di sekitar lokasi tujuan. Ketika kurir memasuki area tersebut, sistem dapat mengirim notifikasi otomatis ke pelanggan bahwa paket akan segera tiba. Ini meningkatkan kesiapan penerima dan mengurangi risiko gagal kirim.
2. Integrasi komunikasi otomatis
Sistem modern mampu mengirimkan pembaruan status pengiriman secara otomatis melalui email atau aplikasi pesan instan. Hal ini mengurangi beban kerja tim customer service secara signifikan karena pertanyaan “paket saya ada di mana?” akan berkurang drastis. Pelanggan merasa lebih dihargai dengan informasi yang transparan.
Kesimpulan
Penerapan last mile visibility menjadi kunci strategis untuk meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan.
Transparansi pergerakan pengiriman membantu bisnis mengendalikan biaya dan meminimalkan risiko keterlambatan. Dengan dukungan Software TMS yang Akurat, visibilitas pengiriman dapat dikelola secara terintegrasi dan real-time dalam satu sistem.
Pertanyaan Seputar Last Mile Visibility
-
Apa perbedaan first mile, middle mile, dan last mile?
First mile adalah pengiriman dari pabrik ke gudang, middle mile antar gudang/hub, sedangkan last mile adalah tahap akhir dari hub distribusi ke alamat pelanggan.
-
Apakah sistem last mile visibility mahal untuk bisnis kecil?
Biaya bervariasi, namun kini banyak solusi SaaS berbasis cloud yang terjangkau dan skalabel, sehingga bisnis kecil pun bisa mendapatkan ROI positif dari efisiensi yang dihasilkan.
-
Bagaimana last mile visibility mengurangi komplain pelanggan?
Dengan memberikan notifikasi real-time dan estimasi waktu tiba yang akurat, pelanggan tidak perlu bertanya-tanya, sehingga mengurangi kecemasan dan potensi komplain akibat ketidakpastian.






