Fluktuasi indikator produksi dan konsumsi di Indonesia tercermin dalam rilis BPS yang menunjukkan pertumbuhan sektor industri pengolahan sebesar 5,54% di Kuartal III 2025, sekaligus menunjukkan perubahan permintaan domestik dan eksternal dalam kegiatan produksi barang, sebagaimana dicatat dalam rilis resmi BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan III 2025 dan kinerja industri pengolahan.
Dalam konteks operasional logistik, decoupling point merujuk pada lokasi dalam rantai pasok di mana proses produksi berubah dari berbasis prakiraan ke berbasis pesanan aktual, yang memengaruhi kebutuhan buffer stok untuk menanggulangi fluktuasi tersebut. Titik ini berdampak pada pengendalian persediaan dan stabilitas aliran barang.
Aspek regulasi juga turut membentuk pertimbangan tersebut, terutama terkait pencatatan persediaan dan biaya produksi sesuai standar akuntansi yang berlaku di Indonesia. Penempatan buffer yang tidak proporsional dapat berdampak pada nilai persediaan dan efisiensi biaya yang dilaporkan.
Dari sisi operasional, variasi lead time pemasok dan perbedaan pola permintaan antar produk membuat satu pendekatan tidak selalu relevan untuk semua lini. Oleh karena itu, decoupling point kerap diposisikan sebagai keputusan strategis yang perlu diseimbangkan dengan karakteristik proses produksi dan distribusi.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Konsep Decoupling Point untuk Menjaga Stabilitas Pasokan
Decoupling point adalah titik strategis dalam rantai pasok yang memisahkan proses berbasis peramalan (forecast-driven) dengan proses berbasis pesanan pelanggan (order-driven). Titik ini berperan sebagai buffer untuk menahan dampak fluktuasi permintaan agar aliran operasional tetap stabil.
Secara operasional, decoupling point menandai batas ketika produksi massal berhenti dan produk menunggu spesifikasi pesanan pelanggan. Penentuan posisi yang tepat penting untuk menjaga kelancaran distribusi dan mencegah gangguan aliran barang.
Posisi decoupling point atau customer order decoupling point (CODP) memengaruhi struktur biaya dan tingkat layanan perusahaan. Penempatan di hulu menekan biaya persediaan namun memperpanjang waktu tunggu, sedangkan penempatan di hilir meningkatkan responsivitas dengan risiko stok berlebih.
Mengapa Menentukan Letak Decoupling Point Sangat Krusial?
Penentuan letak decoupling point yang tepat sangat krusial karena berdampak langsung pada efisiensi biaya operasional, kecepatan pengiriman ke pelanggan, dan fleksibilitas produksi. Kesalahan dalam menentukannya dapat menyebabkan terjadinya penumpukan stok mati (dead stock) atau kegagalan memenuhi permintaan pasar tepat waktu.
Salah satu alasan utama pentingnya CODP adalah untuk meredam fenomena Bullwhip Effect dalam rantai pasok. Fluktuasi kecil pada permintaan pelanggan dapat menyebabkan distorsi informasi yang besar di bagian hulu jika tidak ada penyangga yang tepat.
Decoupling point bertindak sebagai pemecah ombak yang mencegah kekacauan rencana produksi akibat perubahan mendadak di pasar. Selain itu, penentuan titik ini merupakan strategi penyeimbang antara kustomisasi produk dan efisiensi produksi massal.
Perusahaan perlu memutuskan seberapa banyak variasi yang ingin ditawarkan tanpa mengorbankan skala ekonomi yang menguntungkan. Keputusan ini akan sangat mempengaruhi daya saing perusahaan di pasar yang semakin dinamis.
Strategi CODP untuk Menyeimbangkan Stok Lead Time dan Layanan
Setiap model bisnis memiliki karakteristik unik yang menuntut pendekatan berbeda dalam penempatan stok strategis mereka. Berikut adalah strategi posisi CODP yang paling umum diterapkan:
1. Make to stock (MTS)
Strategi ini menempatkan decoupling point pada gudang barang jadi yang siap dikirimkan langsung ke pelanggan. Pendekatan ini sangat cocok untuk produk standar dengan volume permintaan tinggi dan pola yang relatif stabil.
2. Assemble to order (ATO)
Pada strategi ATO, decoupling point berada di tingkat komponen atau sub-rakitan yang siap dirakit. Produk akhir baru akan dirakit dan diselesaikan setelah ada pesanan masuk dari pelanggan.
3. Make to order (MTO)
Strategi MTO menempatkan titik pemisah pada persediaan bahan baku dan komponen dasar. Proses produksi atau fabrikasi baru dimulai dari awal setelah pesanan pelanggan diterima dan dikonfirmasi.
4. Engineer to order (ETO)
Dalam skenario ETO, decoupling point terletak sangat jauh di hulu, yaitu pada tahap perancangan atau desain. Pelanggan terlibat secara mendalam sejak awal proses, menentukan spesifikasi unik yang belum pernah dibuat sebelumnya.
Penentu Utama dalam Menentukan Lokasi Decoupling Point
Faktor utama yang mempengaruhi lokasi decoupling point meliputi volatilitas permintaan pasar, karakteristik produk, lead time yang diharapkan pelanggan, serta struktur biaya produksi.
Perusahaan perlu menganalisis data historis dan tren pasar untuk menetapkan posisi yang paling menguntungkan. Volatilitas permintaan pasar adalah faktor penentu utama, di mana produk stabil cocok dengan MTS sedangkan produk musiman lebih aman dengan MTO.
Siklus hidup produk juga memengaruhi pergeseran titik ini seiring berjalannya waktu. Produk yang baru diluncurkan mungkin memerlukan strategi yang berbeda dibandingkan produk yang sudah matang di pasar.
Hubungan antara waktu toleransi pelanggan dan waktu tunggu produksi juga menjadi pertimbangan yang sangat kritis. Jika pelanggan menuntut pengiriman cepat, perusahaan harus memindahkan stok lebih dekat ke hilir atau mempercepat proses produksi, termasuk lewat penataan ulang buffer dan koordinasi pasokan seperti pada kolaborasi lintas pihak untuk menyelaraskan rencana permintaan.
Bagaimana CODP Memisahkan Proses Push dan Pull?
Strategi Push beroperasi berdasarkan demand forecast di mana produksi dilakukan sebelum ada pesanan, sedangkan strategi Pull beroperasi berdasarkan permintaan aktual di mana produksi baru dimulai saat ada pesanan.
Aktivitas di sisi hulu atau sebelah kiri decoupling point didominasi oleh strategi push yang mengutamakan efisiensi dan perencanaan jangka panjang. Di zona ini, akurasi peramalan menjadi sangat vital untuk menghindari kelebihan produksi yang memboroskan biaya. Risiko utamanya adalah menumpuknya persediaan jika ramalan penjualan meleset dari kenyataan.
Sebaliknya, aktivitas di sisi hilir atau sebelah kanan titik ini didominasi oleh strategi pull yang merespons pesanan pelanggan spesifik. Fokus utama di area ini adalah kecepatan pemenuhan pesanan dan tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi.
Sistem Modern sebagai Pendukung Keputusan Penempatan Decoupling Point
Pemanfaatan sistem rantai pasok berbasis digital memungkinkan perusahaan manufaktur menentukan decoupling point secara lebih objektif melalui analisis data yang terintegrasi. Berbagai solusi manajemen rantai pasok saat ini mampu mengolah informasi permintaan, kapasitas produksi, dan ketersediaan persediaan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih presisi.
Dengan dukungan aplikasi pengelolaan rantai pasok yang terhubung antar fungsi, alur material dari pemasok hingga distribusi dapat dipantau secara menyeluruh. Visibilitas ini membantu tim operasional menempatkan buffer persediaan pada titik yang paling relevan guna menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan tingkat respons terhadap permintaan.
Pada skala operasional manufaktur, sistem supply chain terintegrasi digunakan oleh produsen minuman serbuk seperti Marimas untuk menyelaraskan perencanaan produksi, pengadaan bahan baku, dan pengelolaan gudang. Pendekatan berbasis data tersebut memungkinkan evaluasi posisi decoupling point dilakukan secara berkala sesuai perubahan pola permintaan dan kapasitas produksi, terutama saat perusahaan mulai membangun kemampuan pelacakan end-to-end untuk memantau pergerakan material.
Kesimpulan
Decoupling point merupakan keputusan strategis dalam rantai pasok yang memengaruhi stabilitas produksi, pengendalian persediaan, dan tingkat layanan pelanggan. Penempatannya perlu mempertimbangkan fluktuasi permintaan, karakteristik produk, serta keterbatasan lead time di setiap tahapan operasional.
Tidak ada satu pendekatan yang berlaku universal, karena setiap perusahaan memiliki struktur biaya, profil permintaan, dan toleransi pelanggan yang berbeda. Oleh sebab itu, evaluasi posisi decoupling point perlu dilakukan secara berkala berbasis data dan kondisi pasar terkini.
Untuk memastikan keputusan yang diambil tetap relevan dan terukur, perusahaan dapat mendiskusikan analisis penempatan decoupling point bersama tim internal atau pihak konsultan operasional. Pendekatan ini membantu menyelaraskan strategi pasokan dengan tujuan efisiensi jangka panjang dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Pertanyaan Seputar Decoupling Point
-
Apa perbedaan utama antara Make to Stock dan Make to Order berdasarkan decoupling point?
Pada Make to Stock, decoupling point berada di barang jadi untuk pengiriman cepat, sedangkan pada Make to Order, titiknya ada di bahan baku untuk fleksibilitas kustomisasi.
-
Bagaimana cara menentukan decoupling point yang tepat untuk bisnis retail?
Analisis volatilitas permintaan pelanggan dan lead time supplier; jika permintaan stabil, letakkan di barang jadi, jika fluktuatif, geser ke hulu.
-
Apa itu Bullwhip Effect dan hubungannya dengan decoupling point?
Bullwhip effect adalah distorsi informasi permintaan yang membesar ke arah hulu; decoupling point berfungsi sebagai penyangga untuk meredam efek ini agar produksi tetap stabil.



