Siemens memperkirakan downtime tak terencana membuat 500 perusahaan terbesar dunia kehilangan sekitar US$1,4 triliun per tahun, setara 11% dari pendapatan mereka. Deloitte juga mencatat strategi pemeliharaan yang kurang tepat dapat mengurangi kapasitas produktif aset 5–20%.
Angka-angka ini menjelaskan kenapa banyak perusahaan mulai menata aset dari hulu ke hilir, bukan sekadar mencatat daftar aset.
Asset Lifecycle Management (ALM) adalah pendekatan terstruktur untuk mengelola aset sejak tahap perencanaan, akuisisi, penggunaan, hingga penghapusan. Fokus ALM adalah menjaga setiap aset tetap produktif dan memberi nilai maksimal sepanjang siklus hidupnya.
Dalam praktiknya, cloud-based asset management membantu tim memantau performa dan biaya aset secara real-time, merapikan histori perawatan, serta memberi data yang lebih siap pakai untuk evaluasi ROI.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Asset Lifecycle Management?
ALM atau Asset Lifecycle Management adalah proses pengelolaan aset perusahaan sepanjang siklus hidupnya. Melalui implementasi tepat guna, aset dapat memberikan nilai maksimal dan berkontribusi secara efisien terhadap operasional bisnis jangka panjang.
Berdirinya ALM itu sendiri berfungsi sebagai kontrol operasional perusahaan agar tetap efektif dan meminimalkan downtime. Sehubungan dengan hal itu, siklus manajemen aset seperti SAP asset management melewati 4 tahapan utama, yaitu:
- Planning (perencanaan)
- Procurement or acquisition (pengadaan atau pembelian)
- Operation and maintenance (Operasional dan pemeliharaan)
- Disposal or archive (pembuangan atau arsip)
Untuk pembahasan yang lebih mendalam, keempat tahap dalam asset lifecycle management akan kami uraikan secara rinci melalui ulasan berikut.
4 Tahapan Asset Lifecycle Management

Walaupun jumlah tahapannya sedikit, penerapan asset lifecycle management tidak semudah yang Anda bayangkan. Apa sajakah empat tahap asset lifecycle management tersebut? Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
1. Planning (perencanaan)
Perencanaan adalah tahap awal dalam pengelolaan siklus hidup aset, di mana perusahaan merencanakan kebutuhan dan strategi penggunaan aset untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Pada tahap ini, Anda harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti anggaran, umur aset, serta estimasi biaya pemeliharaan. Perencanaan yang matang melalui dukungan sistem manajemen untuk aset akan memastikan aset yang akan Anda peroleh sesuai dengan kebutuhan bisnis dan dapat berfungsi optimal.
2. Procurement or acquisition (pengadaan atau pembelian)
Tahap pengadaan atau akuisisi adalah proses memperoleh aset, baik melalui pembelian langsung, kontrak, atau lelang. Dalam implementasinya, Anda harus memastikan bahwa aset telah memenuhi kebutuhan operasional bisnis serta memiliki dukungan purna jual yang baik.
Misalnya, jika Anda membeli truk baru untuk kebutuhan logistik, perhatikan hal-hal seperti ketersediaan suku cadang, spesifikasi, benefit dari vendor untuk Anda, serta kualitas akomodasi dibandingkan harga jual dan garansinya.
3. Operation and maintenance (operasional dan pemeliharaan)
Anggap saja, Anda telah memiliki aset yang Anda idam-idamkan. Selanjutnya, Anda akan masuk tahap operasional dan pemeliharaan yang memastikan bahwa aset berfungsi dengan baik dan memberikan performa maksimal.
Dalam tahap ini, Anda harus menyusun jadwal pemeliharaan preventif, memperbaiki kerusakan, dan melakukan pemantauan rutin. Dengan pemeliharaan yang baik, Anda akan mencegah kerusakan dini pada aset yang dapat berujung pada downtime.
4. Disposal or archive (pembuangan atau arsip)
Tahap terakhir dalam asset lifecycle management adalah pembuangan atau pengarsipan aset yang sudah tidak dapat berfungsi dan memberikan manfaat lagi. Terkait langkah selanjutnya, Anda perlu memutuskan apakah aset terkait akan Anda jual, daur ulang, atau lainnya.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan IT di Indonesia memutuskan untuk menjual server lama yang sudah tidak efektif untuk mengolah data. Menjadi penghujung tahapan ALM, proses disposal sejatinya dapat Anda undur waktu terjadinya agar aset dapat berumur panjang.
Bagaimanakah caranya? Secara umum, pebisnis andal banyak yang menggunakan smart asset solution. Perangkat lunak ini memetakan seluruh perencanaan, pertimbangan, dan pemeliharaan Anda dengan efisien melalui satu platform.
Mengapa Tracking Asset Lifecycle Penting?
Tahukah Anda? ALM atau dalam nama lain dapat Anda sebut sebagai tracking asset lifecycle, penting untuk memastikan kelancaran proses produksi.
Selain memperpanjang usia pemakaian aset, terdapat beberapa alasan penting mengapa Anda harus memiliki asset lifecycle management (atau cloud asset management), seperti:
- Memastikan pengelolaan aset yang efisien
- Menjaga keberlanjutan operasional perusahaan
- Mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat
- Membantu dalam perencanaan pengadaan dan penggantian aset
- Menyediakan data yang akurat untuk laporan dan audit
- Mengoptimalkan pemanfaatan aset selama masa operasional
Keputusan Penting di Tiap Fase ALM
ALM paling terasa manfaatnya saat perusahaan punya pola keputusan yang jelas di setiap fase. Aset mana yang diprioritaskan, kapan perlu preventive maintenance, kapan cukup inspeksi, dan kapan lebih masuk akal diganti.
Beberapa sinyal yang biasanya jadi pemicu keputusan di ALM:
- Frekuensi kerusakan naik, sementara output stagnan
- Total biaya perawatan per kuartal mulai menyaingi biaya penggantian
- Aset berpindah lokasi/unit tanpa catatan kondisi terakhir
- Pengadaan aset baru terasa mendadak karena tidak ada proyeksi umur pakai
Fondasi Data Aset Sebelum ALM Berjalan Rapi
ALM sering terasa berat ketika data aset tersebar di banyak tempat dan formatnya tidak seragam. Hasilnya, tim sulit melihat kondisi aset secara utuh. Padahal, ALM butuh data yang konsisten untuk memetakan prioritas perawatan dan rencana penggantian.
Fondasi yang biasanya paling cepat dirapikan meliputi:
- Standar kode aset (misal TRK-JKT-001, GEN-SBY-002)
- Atribut wajib seperti lokasi, unit pengguna, vendor, tanggal beli, masa garansi, histori servis
- Pilot untuk 10–20 aset paling kritikal lebih dulu, baru bertahap ke aset lain
- Satu metrik utama berupa downtime/jam, biaya perawatan/bulan, atau MTBF (mean time between failures)
- SOP pencatatan kerja perawatan agar histori aset tidak putus
Kesimpulan
Asset lifecycle management membuat pengelolaan aset lebih terukur dari awal sampai akhir masa pakai. Empat tahap utamanya membantu perusahaan menekan pemborosan, mengurangi downtime, dan menjaga kinerja operasional.
Langkah berikutnya adalah merapikan data aset, menetapkan prioritas perawatan, lalu membuat tolok ukur biaya dan umur pakai yang masuk akal. Dari situ, keputusan perbaikan atau penggantian aset jadi lebih cepat dan lebih tepat.
Butuh arahan yang paling cocok untuk kondisi perusahaan Anda? Ajukan konsultasi gratis untuk bahas kebutuhan, proses, dan opsi tools yang relevan.
Pertanyaan Seputar Asset Lifecycle Management
-
Apa itu asset lifecycle management?
Asset Lifecycle Management (ALM) adalah pengelolaan aset dari akuisisi hingga penghapusan. ALM memastikan efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan aset. Proses ini mencakup perencanaan, pemeliharaan, dan pengelolaan aset secara terstruktur.
-
Apa saja tahap manajemen aset?
Tahap manajemen aset meliputi perencanaan, pengadaan, operasional, dan pembuangan. Setiap tahap bertujuan untuk memastikan aset memberikan nilai maksimal. Masing-masing tahap memerlukan perhatian dan pemeliharaan yang berbeda.
-
Bagaimana siklus hidup aset secara menyeluruh?
Siklus hidup aset dimulai dari perencanaan dan pengadaan. Aset kemudian dioperasikan dan dipelihara untuk memastikan performa optimal. Pada akhirnya, aset akan dihapus atau digantikan sesuai kebutuhan bisnis.






