CNBC Awards

Apa itu ABC Analysis, Manfaat dan Penerapannya?

Diterbitkan:

Dalam praktik sehari-hari, mengelola inventory sering terasa rumit karena semua barang terlihat sama pentingnya. Padahal, ada item tertentu yang menyumbang nilai besar ke bisnis, sementara yang lain dampaknya relatif kecil. Jika semuanya diperlakukan dengan cara yang sama, kontrol stok bisa jadi tidak efektif.

Analisis ABC membantu menyederhanakan masalah ini dengan membagi inventory berdasarkan tingkat prioritasnya. Di artikel ini, kita akan membahas apa itu analisis ABC, kenapa metode ini relevan untuk pengelolaan stok, dan bagaimana penerapannya bisa membuat keputusan inventory lebih terarah dan mudah dijalankan.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Key Takeaways

      • Analisis ABC membantu perusahaan memprioritaskan pengelolaan inventaris dengan membagi barang berdasarkan nilainya terhadap total persediaan.
      • Perhitungan Analisis ABC dimulai dengan menghitung nilai total setiap barang, urutkan berdasarkan nilai setiap barang, dan tentukan kategori berdasarkan kontribusi nilai.
      • Ada beberapa tantangan dalam mengimplementasi analisis ini, yang dimulai dengan keharusan pengumpulan dan pemrosesan data yang akurat, perubahan dinamika pasar, dan resistensi dari karyawan/manajemen.

      Memahami Konsep Analisis ABC?

      Analisis ABC adalah metode klasifikasi inventory yang membagi barang ke dalam tiga kategori ABC berdasarkan nilai inventaris dari suatu produk. Metode ini membantu perusahaan memprioritaskan pengelolaan barang bernilai tinggi (kategori A) dan mengoptimalkan stok barang bernilai rendah (kategori C).

      Kategori Analisis ABC

      1. Kategori A mencakup barang-barang yang paling bernilai tinggi tetapi memiliki persediaan yang lebih sedikit. Meski jumlahnya kecil, barang-barang dalam kategori ini biasanya memiliki besaran nilai inventaris atau pendapatan perusahaan yang tertinggi. Dalam bentuk persentase, barang-barang di kategori ini memiliki jumlah sebesar 15-20% dari jumlah total barang namun berkontribusi sebesar 75-80% dari nilai inventaris atau pendapatan perusahaan.
      2. Kategori B berisi barang-barang dengan nilai menengah dan biasanya memiliki jumlah stok yang lebih besar daripada kategori A, namun kontribusinya terhadap keseluruhan pendapatan masih cukup signifikan. Dalam bentuk persentase, barang-barang di kategori ini memiliki jumlah sebesar 20-25% dari jumlah total barang namun berkontribusi sebesar 10-15% dari nilai inventaris atau pendapatan perusahaan.
      3. Kategori C adalah barang dengan nilai terendah dalam inventory, namun jumlah stoknya paling banyak. Meskipun kontribusi keuangan dari kategori ini relatif kecil, barang-barang ini tetap penting karena sering kali dibutuhkan dalam jumlah besar dan digunakan dalam operasi sehari-hari. Dalam bentuk persentase, barang-barang di kategori ini memiliki jumlah sebesar 50-70% dari jumlah total barang namun berkontribusi sebesar 5-10% dari nilai inventaris atau pendapatan perusahaan.

      Dengan mengelompokkan barang ke dalam kategori yang berbeda, perusahaan dapat memprioritaskan pengelolaan barang dengan lebih baik, memfokuskan sumber daya pada barang-barang yang paling mempengaruhi pendapatan, serta meminimalkan risiko kelebihan stok.

      Analisis ini dapat dikaitkan dengan hukum pareto yang menyatakan bahwa 80% hasil itu disebabkan oleh 20% penyebab. Dengan kata lain, efek yang paling besar dihasilkan oleh sebagian kecil penyebab.

      Peran Analisis ABC

      Sistem pengelolaan inventory yang baik harus mampu membantu perusahaan memaksimalkan efisiensi tanpa mengorbankan ketersediaan barang. Dalam konteks ini, Analisis ABC menawarkan solusi yang sangat efektif untuk mencapai tujuan tersebut.

      1. Memprioritaskan barang bernilai tinggi

      Analisis ABC mampu memfokuskan perhatian perusahaan pada barang-barang yang paling bernilai tinggi (kategori A) dengan memprioritaskan pengelolaan barang tersebut sehingga perusahaan dapat mencegah kekurangan stok dan menjaga kestabilan operasional.

      2. Mengurangi biaya penyimpanan

      Analisis ABC membantu mengurangi biaya penyimpanan perusahaan dengan fokus pada stok kategori A yang sedikit namun bernilai tinggi dibanding stok kategori C. Pengelolaan ini memungkinkan perusahaan memaksimalkan penggunaan ruang penyimpanan secara lebih efisien.

      3. Meningkatkan efisiensi operasional

      Dengan klasifikasi yang jelas, perusahaan dapat menyesuaikan strategi pemesanan dan inventory control sesuai kategori barang. Hal ini membantu menghindari pemborosan waktu dan meningkatkan produktivitas dalam pengelolaan stok.

      4. Peningkatan produktivitas

      Analisis ABC fokus terhadap mengelola aset perusahaan yang paling berpengaruh terhadap pendapatan. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat di tingkat organisasi maupun individu.

      5. Peningkatan kesadaran strategis

      Analisis ABC membantu meningkatkan kesadaran strategis dengan menyoroti aspek-aspek paling kritis dalam suatu sistem perusahaan, seperti barang atau aktivitas yang memiliki dampak terbesar terhadap tujuan bisnis.

      Dengan memahami prioritas ini, perusahaan dapat merencanakan strategi jangka panjang secara lebih efektif, mengalokasikan sumber daya dengan tepat, dan mengantisipasi risiko yang mungkin menghambat pertumbuhan.

      Tahapan Penerapan Analisis ABC

      Untuk menerapkan Analisis ABC dalam manajemen inventory, perusahaan perlu mengikuti beberapa langkah yang sistematis agar metode ini dapat berjalan secara efektif dan memberikan hasil yang optimal.

      1. Mengumpulkan data inventory

      Langkah pertama dalam implementasi analisa ABC adalah mengumpulkan data terkait seluruh barang dalam inventory. Data yang dibutuhkan mencakup informasi mengenai harga barang, jumlah stok, dan frekuensi penjualan.

      Informasi ini akan digunakan untuk menghitung total nilai setiap barang dan menentukan kategori yang sesuai. Penting untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan akurat dan mutakhir agar hasil analisis dapat diandalkan.

      2. Menghitung nilai total dan mengurutkan barang

      Setelah data terkumpul, perusahaan perlu menghitung nilai total untuk setiap barang dengan cara mengalikan jumlah stok dengan harga barang tersebut. Setelah itu, urutkan barang-barang berdasarkan nilai totalnya, mulai dari yang tertinggi hingga terendah. Contoh rinci perhitungan nilai total dan cara mengurutkan barang akan dibahas pada bagian selanjutnya untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam.

      Pengurutan ini akan membantu dalam menentukan barang mana yang termasuk dalam kategori A, B, atau C sesuai dengan kontribusi nilai terhadap keseluruhan inventory.

      3. Membagi barang ke dalam kategori A, B, dan C

      Langkah berikutnya adalah membagi barang-barang ke dalam tiga kategori berdasarkan hasil pengurutan nilai. Barang dalam kategori A biasanya mencakup sekitar 20% dari jumlah total barang namun berkontribusi sekitar 70-80% dari nilai inventory.

      Kategori B mencakup 30% barang dengan kontribusi sekitar 15-25% terhadap nilai, sementara kategori C berisi sekitar 50% barang yang hanya memberikan kontribusi sekitar 5% dari nilai inventory. Pembagian ini harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan.

      Dengan mengikuti langkah-langkah ini, perusahaan dapat menerapkan Analisis ABC dengan lebih efektif mengelola persediaan barang bisnis untuk mencapai efisiensi operasional yang lebih baik.

      Cara Hitung dan Metode Analisis ABC

      Analisis ABC dilakukan dengan menghitung nilai kontribusi setiap produk terhadap total penjualan tahunan. Caranya adalah dengan mengalikan jumlah unit yang terjual dalam satu tahun dengan harga per unit produk tersebut. Melalui analisis ini, Anda dapat mengidentifikasi produk mana yang menjadi prioritas utama dan mana yang memiliki kontribusi lebih rendah.

      Rumus:

      Nilai Total = Jumlah Stok × Harga per Unit

      Setelah nilai total dari setiap barang dihitung, barang-barang tersebut perlu diurutkan berdasarkan nilai totalnya, dimulai dari yang tertinggi hingga yang terendah. Pengurutan ini penting untuk menentukan kategori barang:

      • Kategori A: Barang dengan kontribusi nilai tertinggi (biasanya 70-80% dari total nilai inventory).
      • Kategori B: Barang dengan kontribusi nilai sedang (sekitar 15-25% dari total nilai inventory).
      • Kategori C: Barang dengan kontribusi nilai terendah (biasanya 5% atau kurang dari total nilai inventory).

      Contoh Perhitungan Analisis ABC

      Data Awal:

      Barang Jumlah Stok Harga per Unit
      Barang 1 100 Rp50.000
      Barang 2 200 Rp30.000
      Barang 3 500 Rp10.000
      Barang 4 50 Rp100.000

       

      Langkah 1: Hitung Nilai Total untuk Setiap Barang

      • Barang 1: 100 × Rp50.000 = Rp5.000.000
      • Barang 2: 200 × Rp30.000 = Rp6.000.000
      • Barang 3: 500 × Rp10.000 = Rp5.000.000
      • Barang 4: 50 × Rp100.000 = Rp5.000.000

      Langkah 2: Urutkan Berdasarkan Nilai Total (Dari Tertinggi ke Terendah)

      Barang Nilai Total
      Barang 2 Rp6.000.000
      Barang 1 Rp5.000.000
      Barang 3 Rp5.000.000
      Barang 4 Rp5.000.000

       

      Langkah 3: Tentukan Kategori A, B, atau C Berdasarkan Kontribusi Nilai

      • Total nilai inventory = Rp6.000.000 + Rp5.000.000 + Rp5.000.000 + Rp5.000.000 = Rp21.000.000
      • Barang Kategori A: Barang 2 (28,57% dari total nilai)
      • Barang Kategori B: Barang 1, Barang 3, dan Barang 4 (masing-masing sekitar 23,81% dari total nilai).

      Barang yang termasuk dalam kategori A menjadi prioritas utama untuk dikelola, karena memberikan kontribusi nilai terbesar terhadap inventory.

      Kendala Umum dalam Implementasi Analisis ABC

      abc-analysis-inventory

      Meskipun Analisis ABC menawarkan banyak keuntungan, implementasinya dihadapkan pada beberapa tantangan yang dapat mempengaruhi efektivitasnya. Berikut tantangan-tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan analisis berjalan optimal.

      1. Pengumpulan dan pemrosesan data yang harus akurat

      Untuk menerapkan Analisis ABC, perusahaan membutuhkan data penjualan dan inventaris yang terperinci dan akurat. Sistem yang tidak mampu menangani volume data dan informasi yang besar dari berbagai sumber dapat menghasilkan analisis yang tidak tepat.

      2. Perubahan dinamika pasar

      Permintaan pasar dan harga barang selalu berubah, dan kategori dalam Analisis ABC harus terus diperbarui. Tanpa pemantauan secara berkala, perusahaan bisa kehilangan kesempatan untuk mengoptimalkan inventaris.

      3. Resistensi dari karyawan atau manajemen

      Penerapan Analisis ABC sering kali memerlukan perubahan dalam budaya kerja dan proses operasional. Tanpa pelatihan yang memadai atau dukungan dari seluruh tim, resistensi terhadap metode baru ini bisa menjadi penghalang utama dalam penerapannya.

      4. Subjektivitas dalam klasifikasi

      Proses pengelompokan dalam Analisis ABC dapat bersifat subjektif karena bergantung pada kriteria yang digunakan untuk mengklasifikasikan barang atau aktivitas. Perbedaan dalam interpretasi kriteria ini dapat mempengaruhi hasil akhir analisis perusahaan.

      5. Biaya implementasi

      Implementasi Analisis ABC memerlukan waktu dan sumber daya, seperti pengumpulan data, pelatihan staf, dan kemungkinan penggunaan perangkat lunak manajemen, yang dapat menambah biaya.

      Dengan memahami dan mengatasi tantangan-tantangan ini, perusahaan dapat lebih efektif dalam menerapkan penggunaan software inventory yang tepat dalam analisis ABC untuk memaksimalkan efisiensi manajemen inventaris mereka.

      Expert's Review

      “Dalam praktiknya, Analisis ABC akan jauh lebih efektif jika diperlakukan sebagai proses yang dinamis, bukan sekadar klasifikasi satu kali, dengan evaluasi rutin dan kesepakatan kriteria yang jelas agar hasilnya benar-benar mendukung keputusan operasional, bukan sekadar laporan.”

      — Anandia Denisha, MBA, Regional Manager

      Contoh Penerapan Analisis ABC pada Beberapa Jenis Perusahaan

      Analisis ABC dapat diterapkan secara fleksibel pada berbagai jenis perusahaan untuk membantu mengelola inventory dengan lebih baik. Baik perusahaan manufaktur, ritel, maupun logistik, semua dapat memanfaatkan metode ini untuk mengoptimalkan ketersediaan stok dan mengurangi biaya penyimpanan.

      1. Perusahaan manufaktur

      Di perusahaan manufaktur, Analisis ABC sering digunakan untuk memastikan bahan baku penting selalu tersedia. Kategori A biasanya berisi bahan baku yang memiliki nilai tinggi dan krusial untuk proses produksi.

      Kategori ini diprioritaskan agar tidak terjadi kekurangan stok yang bisa menghambat produksi. Sementara itu, bahan baku dengan nilai lebih rendah yang masuk ke kategori B dan C dapat dikelola dengan persediaan yang lebih longgar karena dampaknya terhadap operasi tidak terlalu signifikan.

      2. Perusahaan ritel

      Dalam industri ritel, Analisis ABC membantu mengelola produk dengan cara yang lebih efisien. Barang kategori A bisa berupa produk premium yang memiliki margin keuntungan tinggi, sementara kategori C terdiri dari barang-barang dengan volume penjualan tinggi namun margin rendah, seperti produk kebutuhan sehari-hari.

      Dengan metode ini, perusahaan dapat fokus pada pengelolaan produk bernilai tinggi dan menjaga ketersediaan barang dengan lebih baik.

      3. Perusahaan logistik

      Di sektor logistik, Analisis ABC dapat digunakan dalam sistem inventory gudang. Barang kategori A biasanya adalah barang dengan permintaan tinggi yang perlu pengelolaan dan pengiriman lebih cepat, sedangkan kategori C mencakup barang yang dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa risiko kehilangan nilai.

      Dengan pemisahan ini, perusahaan logistik dapat mengatur tata letak gudang lebih efisien dan mengoptimalkan pengiriman barang.

      Dengan fleksibilitasnya, Analisis ABC dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan berbagai industri, memastikan manajemen inventory yang lebih efisien dan pengelolaan stok yang lebih baik di berbagai jenis perusahaan.

      download skema harga software erp
      download skema harga software erp

      Kesimpulan

      Analisis ABC membantu perusahaan memahami mana stok yang benar-benar perlu diprioritaskan dan mana yang cukup dikontrol secara sederhana. Dengan cara ini, pengelolaan inventory tidak lagi terasa rumit karena fokus diarahkan ke barang yang paling berpengaruh pada operasional dan nilai bisnis.

      Ketika analisis ABC diterapkan secara konsisten, keputusan terkait pembelian, penyimpanan, dan pengendalian stok jadi lebih jelas dan terarah. Perusahaan bisa mengurangi risiko penumpukan barang yang kurang penting sekaligus mencegah kehabisan stok krusial, sehingga operasional berjalan lebih efisien dan stabil.

      Inventory_Definisi

      Pertanyaan (FAQ) Seputar Analisis ABC

      • Apa yang dimaksud dengan analisis ABC?

        Analisis ABC adalah metode manajemen inventaris yang membagi barang berdasarkan nilai dan kontribusinya terhadap total persediaan. Barang dikategorikan menjadi tiga kelompok: A (barang bernilai tinggi dengan jumlah rendah), B (barang dengan nilai menengah), dan C (barang bernilai rendah dengan jumlah besar), untuk membantu perusahaan memprioritaskan pengelolaan stok.

      • Mengapa metode ABC lebih akurat?

        Metode ABC lebih akurat karena memfokuskan sumber daya perusahaan pada barang yang paling penting secara finansial. Dengan mengelompokkan inventaris berdasarkan kontribusi nilai, perusahaan dapat mengoptimalkan pengelolaan stok, menghindari kelebihan barang yang kurang penting, dan memastikan ketersediaan produk yang memiliki dampak besar pada profitabilitas.

      • Apa perbedaan dan persamaan Analisis ABC dengan Analisis Pareto?

        Analisis ABC dan Analisis Pareto sama-sama menggunakan Prinsip Pareto (80/20 Rule) untuk menentukan prioritas. Bedanya, Analisis Pareto fokus pada pola distribusi kontribusi (contoh: 20% barang menghasilkan 80% nilai), sedangkan Analisis ABC mengelompokkan inventory ke dalam kategori A, B, dan C berdasarkan nilai kontribusinya. Keduanya bertujuan membantu pengelolaan inventory lebih efektif.

      • Apa kelemahan ABC manual?

        Analisis ABC manual rentan terhadap kesalahan input data, memakan waktu, dan sulit diperbarui secara cepat. Untuk mengatasi ini, penggunaan software manajemen inventaris membantu otomatisasi proses dan memberikan analisis real-time yang lebih akurat dan efisien.

      Nur Fi'llia Nugrahani

      Content Writer

      Nuri adalah seorang spesialis dalam bidang inventory management dengan pengalaman 3 tahun. Berfokus pada penulisan yang mengangkat topik pengelolaan stok, pengendalian persediaan, dan implementasi sistem inventory digital untuk menjamin efisiensi operasional bisnis.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya