CNBC Awards

Akumulasi Penyusutan, Contoh, dan Rumus Menghitungnya

Diterbitkan:

Para pemilik bisnis dan tim finansial perlu memastikan setiap aset tetap perusahaan tercatat dengan nilai yang sebenarnya. Transparansi ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kredibilitas laporan keuangan di mata investor maupun regulator.

Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, kita perlu menyinkronkan metode penyusutan dengan masa manfaat aset secara konsisten. Langkah ini penting untuk mencegah selisih antara nilai buku di sistem dengan kondisi operasional aset di lapangan.

Artikel ini akan membahas tuntas langkah pengelolaan depresiasi agar laporan aset tetap akurat dan akuntabel. Anda dapat menyederhanakan seluruh proses tersebut melalui dukungan software keuangan terbaik untuk bisnis yang mampu bekerja secara otomatis.

Key Takeaways

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Apa Itu Akumulasi Penyusutan?

      Akumulasi penyusutan adalah total biaya penyusutan yang telah dibebankan pada aset tetap sejak mulai digunakan hingga periode tertentu. Dalam laporan keuangan, akun ini dikategorikan sebagai akun kontra aset dengan saldo kredit yang mengurangi nilai buku aset.

      Pencatatan dilakukan setiap kali beban penyusutan didebit, sehingga nilai tercatat aset di neraca semakin berkurang seiring pemakaian. Saldo kredit akun akumulasi penyusutan tidak boleh lebih besar dari biaya perolehan aset; pada akhir masa manfaat, nilai buku aset akan sama dengan nilai sisa.

      Sebagai contoh, jika mesin dibeli Rp100 juta dan disusutkan Rp10 juta per tahun, maka setelah tiga tahun akumulasi penyusutan Rp30 juta. Nilai buku mesin tersebut di neraca menjadi Rp70 juta, yang mencerminkan nilai wajar sesuai penggunaannya.

      Cara Menghitung Akumulasi Penyusutan

      Terdapat beberapa metode umum yang digunakan untuk menghitung akumulasi penyusutan, yang nantinya akan dicatat dalam jurnal penyusutan aset tetap sebagai bagian dari laporan keuangan perusahaan. Berikut tiga metode yang paling sering dipakai:

      1. Metode garis lurus (Straight Line Method)

      Metode ini mengasumsikan aset memberikan manfaat yang sama setiap tahun sepanjang umur ekonomisnya. Penyusutan dibagi rata sehingga beban setiap periode konsisten.

      Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:

      D = (AC – SV)/LT

      Keterangan:

      • D = beban penyusutan per tahun
      • AC = harga perolehan (acquisition cost)
      • SV = nilai residu (salvage value)
      • LT = umur ekonomis (useful life)

      Contoh:

      Sebuah mesin senilai Rp100 juta, nilai residu Rp10 juta, umur ekonomis 9 tahun.
      D = (100.000.000 – 10.000.000)/9 = Rp10 juta per tahun

      2. Metode saldo menurun (Declining Balance Method)

      Metode ini mengasumsikan aset lebih banyak berkontribusi pada awal pemakaian. Beban penyusutan lebih besar di tahun pertama, lalu menurun pada tahun berikutnya. Rumus untuk menghitung saldo menurun ini adalah sebagai berikut:

      D = d% x BV

      d% = 1 – ⁿ√(SV / AC)

      Keterangan:

      • D = beban penyusutan
      • D% = tingkat penyusutan (misalnya 2/LT untuk saldo menurun ganda)
      • BV = nilai buku (book value) tahun sebelumnya

      Contoh:

      Perusahaan membeli kendaraan Rp150 juta, nilai residu Rp30 juta, umur ekonomis 5 tahun. Dengan saldo menurun ganda (double declining balance):

      • Tahun 1: (2/5 x 150 juta) = Rp60 juta
      • Tahun 2: (2/5 x 90 juta) = Rp36 juta

      Penggunaan yang terdapat di dalam penghitungan beban dan juga akumulasi penyusutan akan lebih baik bila mampu sesuai dengan jenis aktiva yang perhitungan tersebut gunakan.

      3. Saldo menurun ganda (Double Declining Balance / DDB)

      Double Declining Balance adalah bentuk percepatan dari saldo menurun. Tarif garis lurus dikalikan dua, lalu diterapkan pada nilai buku awal periode. Rumusnya adalah:

      D = (2 / LT) x BV

      Keterangan:

      • LT = umur ekonomis aset
      • BV = nilai buku awal periode

      Contoh:

      Mesin senilai Rp100 juta, nilai residu Rp10 juta, umur ekonomis 5 tahun.

      • Tahun 1: (2/5) x 100 juta = Rp40 juta
      • Tahun 2: (2/5) x (100 – 40) = Rp24 juta
      • Tahun 3: (2/5) x (60 – 24) = Rp14,4 juta

      Perhitungan berlanjut hingga nilai buku mendekati nilai residu. Dengan cara ini, beban penyusutan lebih besar di awal dan semakin kecil menjelang akhir masa manfaat.

      Selain itu, penggunaan metode yang terintegrasi dalam aplikasi laporan keuangan juga akan menjadikan beban penyusutan lebih terukur dan pencatatan yang ada di dalam laporan keuangan akan menjadi lebih akurat lagi.

      Contoh Akumulasi Penyusutan 

      Misalkan sebuah perusahaan membeli mesin produksi dengan rincian berikut:

      • Harga perolehan (AC) = Rp100.000.000
      • Nilai residu (SV) = Rp20.000.000
      • Umur ekonomis (n) = 5 tahun

      1. Menentukan Tingkat Penyusutan (d%)

      Gunakan rumus:
      d% = 1 – ⁿ√(SV/AC)

      d% = 1 – ⁵√(20.000.000 / 100.000.000)
      d% = 1 – ⁵√0,2
      d% = 1 – 0,7248
      d% = 0,2752 = 27,52%

      Artinya, tingkat penyusutan tahunan ditetapkan sebesar 27,52%.

      2. Menghitung Beban Penyusutan per Tahun

      Rumus: D = d% x BV

      • Tahun 1: 27,52% x 100.000.000 = Rp27.520.000
      • Tahun 2: 27,52% x (100.000.000 – 27.520.000) = Rp19.958.000
      • Tahun 3: 27,52% x (72.480.000 – 19.958.000) = Rp14.475.000
      • Tahun 4: 27,52% x (52.522.000 – 14.475.000) = Rp10.490.000
      • Tahun 5: 27,52% x (38.047.000 – 10.490.000) ≈ Rp7.557.000

      3. Hasil Akumulasi Penyusutan

      Hasil akhirnya, di tahun ke-5 nilai buku mesin sama dengan nilai residunya Rp20.000.000, sesuai asumsi awal.

      Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku (BV)
      1 Rp27.520.000 Rp27.520.000 Rp72.480.000
      2 Rp19.958.000 Rp47.478.000 Rp52.522.000
      3 Rp14.475.000 Rp61.953.000 Rp38.047.000
      4 Rp10.490.000 Rp72.443.000 Rp27.557.000
      5 Rp7.557.000 Rp80.000.000 Rp20.000.000

       Jenis Penyusutan Aktiva

      jenis penyusutan aktiva

       

      1. Depresiasi

      Dalam praktik akuntansi, istilah depresiasi adalah bentuk akumulasi penyusutan yang umum digunakan perusahaan, dengan metode yang sering mengacu pada garis lurus atau straight-line dalam perhitungan beban penyusutan.

      Umumnya, depresiasi ini teraplikasikan pada berbagai aset yang memiliki wujud fisik, seperti komputer, laptop, mobil, motor, meja, kursi, printer, mesin produksi, mesin fotokopi, dan berbagai aset lainnya.

      2. Amortisasi

      Berbeda dengan depresiasi, metode amortisasi bisa teraplikasikan pada berbagai aset yang tidak memiliki wujud, seperti merek paten, trademark, franchise sampai dengan goodwill.

      Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), masa pemanfaatan pada berbagai aset yang terkena efek amortisasi ini tidak boleh lebih waktu 20 tahun.

      Alasannya sederhana, karena waktu selama 20 tahun adalah waktu yang sangat panjang sekali, sehingga kemungkinan aset yang bernilai di dalam periode waktu ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi setelah melewati umur 20 tahun tersebut.

      3. Deplesi

      Bila pada penjelasan akumulasi penyusutan sebelumnya kita sudah memahami penjelasan antara aset yang berwujud juga yang tidak berwujud. Maka pada jenis penyusutan deplesi, aset mengalami suatu penurunan berwujud yang habis secara manfaat dan juga fisiknya.

      Contoh sederhana dari aset yang mengalami deplesi adalah sumber daya alam milik suatu perusahaan. Di dalam perhitungan akuntansi, aset adalah sumber daya alam yang mengalami suatu penyusutan nilai dan pada periode waktu yang sama aset ini terus-menerus mengalami penurunan secara fisik.

      Tunggu dulu. Ambil jeda jika Anda mengalami kebingungan. Kini, Anda dapat mempermudah siklus kerja Anda berkaitan dengan akuntansi perusahaan hanya dengan satu klik. Bagaimana caranya? Klik banner ini saja!

      download skema harga software erp
      download skema harga software erp

      Variabel dalam Perhitungan Akumulasi Penyusutan

      Menghitung penyusutan dapat terjadi dalam berbagai metode. Namun, terdapat metode yang paling familiar, yaitu metode garis lurus dan saldo menurun. Kedua metode ini memiliki variabel-variabel penting yang wajib Anda ketahui, yaitu:

      • Harga perolehan: biaya yang perusahaan keluarkan untuk pengadaan aktiva tetap, yang mencakup harga beli dengan menambah berbagai biaya langsung lainnya, seperti biaya transportasi, pemasangan, perakitan, dll.
      • Nilai residu: Taksiran atau nilai sisa atas aktiva tetap setelah Anda gunakan. Nilai residu ini nilainya tidak tetap, sehingga aktiva tetap tidak mempunyai nilai residu.
      • Harga buku atau nilai historis: Harga saat mendapatkan aktiva, yang mana harga perolehan dengan mengurangi akumulasi penyusutan aktiva tetap selama umur ekonomis dari aktiva tetap tersebut.
      • Umur ekonomis: Taksiran usia pemakaian aktiva tetap ataupun batas waktu menggunakan aktiva tetap tersebut. Hal ini terkategorikan menjadi dua, yakni umur fisik dan juga umur fungsional.

      Faktor yang Memengaruhi Penyusutan

      Memahami faktor-faktor ini penting untuk menentukan nilai aset secara akurat serta menyusun laporan keuangan yang mencerminkan kondisi riil perusahaan. Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi penyusutan:

      1. Harga perolehan aset

      Harga perolehan merupakan dasar utama dalam menghitung penyusutan. Nilai ini mencakup harga beli aset ditambah biaya tambahan seperti pengiriman, instalasi, dan pengujian. Semakin tinggi harga perolehan, semakin besar nilai penyusutan yang akan dicatat sepanjang umur aset.

      2. Umur manfaat aset

      Umur manfaat adalah estimasi periode waktu aset dapat digunakan secara produktif. Semakin lama umur manfaatnya, semakin kecil beban penyusutan per periode, dan sebaliknya. Penentuan umur manfaat biasanya berdasarkan pengalaman, standar industri, atau kebijakan perusahaan.

      3. Nilai residu (Nilai sisa)

      Nilai residu adalah perkiraan nilai suatu aset di akhir umur manfaatnya. Nilai akumulasi penyusutan ini akan dikurangkan dari harga perolehan untuk menentukan total biaya penyusutan. Semakin tinggi nilai residu, semakin kecil penyusutan yang dicatat tiap periode.

      4. Metode penyusutan

      Terdapat beberapa metode penyusutan, seperti metode garis lurus, saldo menurun ganda, atau jumlah angka tahun. Setiap metode menghasilkan beban penyusutan yang berbeda tiap periode. Pemilihan metode harus disesuaikan dengan pola manfaat ekonomi dari penggunaan aset tersebut.

      5. Penggunaan dan perawatan aset

      Tingkat penggunaan dan perawatan aset juga memengaruhi umur manfaat dan kecepatan penyusutan. Aset yang digunakan secara intensif atau kurang dirawat akan mengalami penyusutan lebih cepat dibandingkan aset yang digunakan secara optimal dan dirawat dengan baik.

      Tahukah Anda?

      Dengan dukungan sistem akuntansi berbasis AI milik HashMicro, AI membantu Anda menindaklanjuti dan membuat invoice kapan saja, serta mempermudah komunikasi dengan vendor. Tingkatkan efisiensi keuangan bisnis Anda dengan sistem akuntansi HashMicro!

      Dapatkan demo gratis sekarang!

      Pentingnya Akumulasi Penyusutan

      1. Penilaian Aset yang Lebih Tepat: Akumulasi penyusutan mengurangi nilai awal aset untuk menunjukkan nilai tercatat yang lebih mencerminkan kondisi sebenarnya di laporan keuangan.
      2. Dampak terhadap Laba Bersih: Penyusutan menurunkan pendapatan kena pajak, yang berpengaruh pada besarnya laba bersih perusahaan.
      3. Mendukung Pengambilan Keputusan Manajerial: Data akumulasi penyusutan membantu manajemen membuat keputusan penting terkait aset, misalnya saat mempertimbangkan pembelian atau penggantian aset.
      4. Mempermudah Evaluasi Keuangan: Investor dan pemegang saham dapat memanfaatkan informasi penyusutan untuk menilai kinerja dan kesehatan keuangan perusahaan.
      5. Mengurangi Nilai Tercatat Aset Secara Bertahap: Akumulasi penyusutan menunjukkan total biaya penyusutan sejak aset digunakan, sehingga mengurangi nilai buku aset secara perlahan.
      6. Menerapkan Prinsip Pencocokan Akuntansi: Penyusutan memastikan bahwa biaya penggunaan aset disesuaikan dengan pendapatan yang dihasilkan, sesuai prinsip akuntansi.
      7. Meningkatkan Kualitas Laporan Keuangan: Penyusutan memberikan pandangan yang lebih akurat mengenai kondisi aset perusahaan dan membantu mendeteksi masalah lebih awal jika penyusutan tidak dilakukan dengan tepat.

      Perbedaan Beban Penyusutan dan Akumulasi Penyusutan

      Akumulasi penyusutan dan beban penyusutan adalah dua konsep yang saling berkaitan dalam akuntansi, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.

      Akumulasi penyusutan merupakan total biaya penyusutan yang telah perusahaan akui sejak aset tetap mulai bisnis gunakan hingga tanggal tertentu. Ini akuntan catat sebagai akun kontra aset di laporan neraca keuangan dan berfungsi untuk mengurangi nilai buku aset tetap.

      Sementara itu, beban penyusutan adalah biaya penyusutan yang perusahaan akui dalam periode tertentu, seperti bulanan atau tahunan, yang Anda catat dalam laporan laba rugi sebagai beban operasional.

      Berikut adalah rangkuman dari perbedaan keduanya:

      Aspek Akumulasi Penyusutan Beban Penyusutan
      Definisi Total biaya penyusutan yang telah Anda akui Biaya penyusutan untuk periode tertentu
      Lokasi di Laporan Neraca (akun kontra aset) Laba Rugi (beban operasional)
      Waktu Pengakuan Akumulasi sejak aset perusahaan gunakan Selama periode tertentu (bulanan/tahunan)
      Tujuan Mengukur total pengurangan nilai aset Mengukur pengurangan nilai aset untuk periode spesifik

      Studi Kasus: Kesalahan Penilaian Nilai Buku Akibat Akumulasi Penyusutan yang Tidak Akurat

      Pada 2022, sebuah perusahaan distribusi di Jakarta mencatat nilai aset tetap yang jauh lebih tinggi dari kondisi sebenarnya karena tidak memperbarui akumulasi penyusutan secara berkala. Akibatnya, laporan keuangan menampilkan nilai buku aset yang bias dan menyesatkan bagi manajemen.

      Kondisi ini menyebabkan kesalahan dalam perhitungan laba bersih dan pengambilan keputusan investasi, terutama saat perusahaan merencanakan pengadaan aset baru. Risiko ini semakin besar karena pencatatan penyusutan masih dilakukan secara manual dan tidak terintegrasi antar divisi.

      Untuk menghindari distorsi nilai buku tersebut, perusahaan mulai menggunakan software akuntansi terintegrasi yang otomatis dan mampu mencatat akumulasi penyusutan secara konsisten. Dengan dukungan sistem, manajemen memperoleh visibilitas nilai aset yang lebih akurat untuk mendukung keputusan bisnis jangka panjang.

      Kesimpulan

      Akumulasi penyusutan adalah kunci utama untuk melihat nilai aset yang sebenarnya dalam bisnis Anda. Hal ini memastikan laporan keuangan tetap transparan dan benar-benar mencerminkan kondisi operasional yang riil.

      Pengelolaan yang rapi membantu Anda mengambil keputusan strategis dengan lebih percaya diri di masa depan. Selain itu, pencatatan yang konsisten juga sangat mempermudah urusan perpajakan serta perencanaan pemeliharaan aset.

      Jika Anda ingin mempermudah seluruh proses manajemen aset melalui sistem yang sudah otomatis, kami siap mendukung. Silakan manfaatkan sesi konsultasi gratis untuk menemukan solusi paling pas bagi pertumbuhan perusahaan.

      Accounting_Definisi

      Pertanyaan Seputar Akumulasi Penyusutan

      • Akumulasi penyusutan masuk dimana?

        Akumulasi penyusutan dicatat dalam neraca untuk mengurangi nilai aset tetap, sehingga aset tersebut mencerminkan nilai bukunya.

      • Apa contoh biaya penyusutan?

        Menurut definisinya, beberapa jenis biaya penyusutan yang biasanya dicatat dalam laporan laba rugi meliputi penyusutan mesin, kendaraan, gedung dan bangunan, serta peralatan kantor.

      • Apakah depresiasi sama dengan penyusutan?

        Depresiasi, atau dalam Bahasa Indonesia sering disebut dengan penyusutan, adalah konsep akuntansi yang digunakan untuk menggambarkan penurunan nilai aset tetap karena penggunaan, keusangan, atau kemajuan teknologi.

      • Kapan aset bisa disusutkan?

        Aset tetap mulai dapat disusutkan ketika aset tersebut siap digunakan untuk operasional, bukan saat pembelian dilakukan. Menurut PSAK 16 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) dan pedoman pajak seperti UU Pajak Penghasilan Pasal 11, penyusutan dimulai saat: Aset telah siap digunakan, meskipun belum dipakai. Contohnya, jika mesin dibeli pada 1 Januari tetapi baru siap digunakan pada 1 Maret, maka penyusutan dimulai dari bulan Maret.

      Dewi Sartika

      Senior Content Writer

      Berbekal pengalaman selama 6 tahun dalam industri SaaS, Dewi telah menjadi praktisi untuk penulisan artikel terkait accounting dan bidang keuangan. Ia berfokus menulis artikel seputar Laporan keuangan (neraca, laba rugi, arus kas), standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), perpajakan (e-faktur, PPn, tax planning), dan manajemen biaya.

      Jennifer merupakan seorang profesional akuntansi yang memiliki gelar Bachelor of Accounting dari President University dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Accounting dari National University of Singapore. Pengalaman pendidikan ini membentuk kemampuannya dalam memahami dan menerapkan prinsip akuntansi serta manajemen keuangan dalam praktik bisnis. Pengalaman profesional di bidang keuangan dan pelaporan mengasah keahliannya dalam analisis finansial dan penyusunan laporan strategis. Selama tujuh tahun terakhir, Jennifer mengelola fungsi keuangan perusahaan di HashMicro, yang memperkuat kemampuannya dalam optimalisasi proses akuntansi, pengendalian internal, serta pengambilan keputusan berbasis data finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya