Bisnis logistik di Indonesia menunjukkan tren positif. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memproyeksikan pertumbuhan industri logistik dan rantai pasok mencapai 7–10% pada 2026, didorong oleh meningkatnya e-commerce dan digitalisasi rantai pasok.
Di balik pertumbuhan tersebut, perusahaan ekspedisi masih menghadapi masalah klasik. Mulai dari manajemen gudang yang tidak efisien, koordinasi divisi yang lambat, hingga keterlambatan pengiriman yang merugikan konsumen.
Untuk itu, pelaku usaha perlu memahami langkah strategis dalam mengatasi kendala operasional. Dengan pengelolaan yang tepat, bisnis logistik bisa lebih efisien sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu Bisnis Logistik?
Sebelum membahas cara memulai bisnis logistik, ada baiknya memahami pengertiannya terlebih dahulu. Bisnis logistik adalah aktivitas yang mengutamakan manajemen aliran barang, informasi, atau jasa dari titik asal hingga sampai ke tujuan dengan efisiensi dan ketepatan waktu.
Kegiatan ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proses seperti transportasi, penyimpanan, pengepakan, dan distribusi. Mulai dari pengangkutan barang hingga penyimpanan di gudang, logistik menjadi tulang punggung berbagai industri dalam menjaga kelancaran pasokan dan kepuasan pelanggan.
Persiapan Sebelum Memulai Bisnis Logistik
Apa saja yang harus Anda siapkan sebelum memulai bisnis logistik? Berikut daftarnya.
1. Tentukan Jangkauan & Jenis Layanan
Sebelum membeli kendaraan atau merekrut kurir, tentukan dulu:
- Mau melayani dalam kota, antar kota, atau antar provinsi?
- Jenis layanan apa yang diberikan? Contoh: same day, next day, cargo berat, logistik toko retail, cold chain, atau khusus e-commerce.
Dengan batasan ini, kebutuhan armada, gudang, SDM, sampai izin usaha jadi lebih jelas.
2. Pilih Bentuk Usaha
Ada dua pilihan utama:
- Asset-light: tidak punya kendaraan sendiri, armada sewa atau freelance, modal kecil, tapi kontrol operasional lebih rendah.
- Asset-heavy: punya kendaraan dan gudang sendiri. Biaya awal besar, tapi kontrol penuh.
Sesuaikan dulu dengan modal dan kapasitas tim. Jangan langsung B2B ke seluruh Indonesia kalau baru awal mulai.
3. Buat Rencana Operasional (SOP Sederhana)
Sebelum operasional berjalan, susun alur kerja seperti:
- Jam operasional dan jadwal pengiriman (harian atau hanya hari tertentu).
- Alur barang dari diterima → disortir → dikirim → diterima pelanggan.
- Standar jika paket gagal kirim, rusak, atau harus dikembalikan (retur).
- Target sederhana: misalnya batas waktu pengiriman (H+1), jumlah paket per kurir per hari, atau SLA waktu pengambilan.
4. Hitung Kebutuhan Modal
Setidaknya siapkan anggaran untuk:
- Sewa gudang atau tempat penyimpanan.
- Kendaraan (beli atau sewa).
- Gaji kurir dan admin.
- Bahan bakar, tol, biaya parkir.
- Perizinan, alat kerja (timbangan, scanner, plastik kemasan, bubble wrap).
- Dana darurat, minimal untuk operasional 2–3 bulan.
5. Urus Izin & Legalitas
Supaya bisnis bisa berjalan resmi:
- Daftar NIB (Nomor Induk Berusaha) lewat OSS.
- Urus SIUP atau izin usaha jasa pengiriman/logistik.
Siapkan dokumen penting seperti NPWP, KTP, akta perusahaan, dan surat sewa tempat atau gudang.
6. Fokus pada Layanan Profesional
Konsumen hanya akan loyal kalau barang sampai:
✔ Tepat waktu
✔ Aman
✔ Bisa dilacak
Karena itu:
- Buat standar pengemasan (khusus barang pecah, frozen, elektronik).
- Tentukan jadwal update status ke pelanggan (mis. barang dijemput, sedang dikirim, sudah sampai).
- Gunakan rak penyimpanan yang aman dari cuaca, debu, atau benturan.
Jika volume barang makin besar, gunakan juga software manajemen operasional untuk memantau pergerakan stok dan juga penyusunan strategi manajemen gudang logistik Anda.
5 Langkah Mengembangkan Bisnis Logistik
Dalam mengembangkan bisnis khususnya di sektor ekspedisi, ada beberapa hal penting yang harus Anda pertimbangkan terlebih dahulu, termasuk penerapan program distributor yang efektif.
Berikut 5 langkah awal dalam mengembangkan bisnis logistik yang sukses:
1. Diversifikasi model bisnis dan layanan
Perusahaan logistik dapat mengembangkan layanan dari sekadar pengiriman barang menjadi solusi end-to-end, misalnya penambahan layanan fulfillment, cold storage, atau ekspedisi internasional.
Sebagai contoh, banyak perusahaan ekspedisi di Indonesia kini menambah layanan last mile delivery untuk e-commerce, serta fasilitas penyimpanan barang di gudang dengan sistem cross-docking.
Model ini terbukti efisien karena barang bisa langsung dialihkan ke armada berikutnya tanpa harus disimpan lama di gudang.
2. Mengidentifikasi audience dan target pasar
Dalam menentukan model bisnis jasa logistik, biasanya perusahaan harus melihat potensi dan peluang pasar yang ada di sekitar. Misalnya, dengan mempromosikan melalui sosial media atau tulisan yang tertera pada kendaraan pick-up atau truk.
Selain itu, Anda dapat mengajukan proposal kepada supplier bahan baku untuk menjadi distributor produk seperti depot minuman, distribusi gas LPG dan sebagainya.
Adapun cara-cara lain, yang dapat mempermudah dalam menghubungkan antara perusahaan dengan konsumen yaitu melalui aplikasi-aplikasi seperti Gojek, Grab, Maxim dan lainnya yang dapat consumer akses melalui smartphone.
3. Memperluas jaringan pasar dan mitra
Langkah pengembangan berikutnya adalah memperluas jangkauan pasar, baik secara geografis maupun segmen pelanggan. Kemitraan dengan e-commerce, marketplace, atau manufaktur besar dapat meningkatkan volume pengiriman sekaligus memperkuat posisi bisnis di industri.
Sebagai ilustrasi, distributor LPG biasanya bekerja sama dengan depo resmi Pertamina agar distribusi berjalan lancar dan terjamin legalitasnya. Pola serupa bisa diterapkan oleh perusahaan logistik dengan menggandeng pemasok atau retail chain besar.
4. Mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan jasa logistik
Digitalisasi menjadi kunci dalam pengembangan logistik modern. Penerapan sistem manajemen gudang (WMS), pelacakan real-time, serta integrasi IoT dapat meningkatkan akurasi stok dan mempercepat pengiriman. Efisiensi operasional ini juga berdampak pada kepuasan pelanggan.
Contohnya, penggunaan RFID pada gudang memungkinkan perusahaan melacak pergerakan barang secara otomatis. Selain itu, pemerintah juga mulai mendorong sistem logistik nasional (Sislognas) yang mengedepankan digitalisasi rantai pasok agar distribusi barang antarwilayah lebih efisien.
5. Memastikan kepatuhan regulasi dan standar keselamatan
Ketika bisnis berkembang, risiko juga meningkat. Oleh karena itu, perusahaan harus memastikan semua armada dan gudang sesuai standar keselamatan serta mematuhi regulasi pemerintah, termasuk aturan mengenai ODOL (Over Dimension and Over Loading).
Sebagai referensi, Kementerian Perhubungan mengatur larangan ODOL melalui Peraturan Menteri Perhubungan No. 60 Tahun 2019. Melanggar aturan ini bukan hanya memicu denda, tetapi juga berisiko merusak reputasi bisnis.
Karena itu, audit kepatuhan armada dan pelatihan pengemudi menjadi bagian penting dalam tahap pengembangan logistik.
Berikut ini rangkuman empat langkah utama yang perlu Anda lakukan untuk membangun bisnis logistik yang sukses.
| Langkah | Deskripsi |
|---|---|
| Menentukan Model Bisnis | Tentukan fokus usaha: pindahan, e-commerce, atau armada sendiri. Model yang tepat meningkatkan efisiensi dan profit. |
| Mengidentifikasi Target Pasar | Kenali konsumen lewat riset pasar. Manfaatkan media sosial, branding kendaraan, hingga aplikasi digital. |
| Investasi Teknologi | Gunakan WMS dan sistem pelacakan real-time. Teknologi membantu kurangi kesalahan manual dan percepat distribusi. |
| Memperluas Jaringan | Bangun kemitraan dengan supplier atau marketplace. Contoh: distributor LPG resmi untuk distribusi stabil. |
| Legalitas & Kepatuhan | Lengkapi SIUP dan taati aturan pemerintah. Hindari praktik ODOL demi keamanan dan keberlanjutan bisnis. |
3 Kendala yang Sering Dihadapi Bisnis Logistik

Meskipun terlihat sederhana, bisnis ini ternyata memiliki sejumlah kendala yang sering pelaku bisnis hadapi. Berikut 3 kendala yang sering perusahaan hadapi dalam mengelola bisnis logistik:
1. Koordinasi antar divisi yang buruk
Koordinasi antara divisi gudang, transportasi, hingga layanan pelanggan sering kali menjadi titik lemah. Misalnya, tim gudang terlambat mengupdate status stok, sementara tim transportasi sudah menjadwalkan pengiriman.
Ketidaksinkronan informasi ini menyebabkan jadwal pengiriman terganggu dan pelanggan menerima barang lebih lambat dari yang dijanjikan.
Buruknya koordinasi juga membuat proses organisasi sulit berjalan efisien. Alih-alih membentuk alur kerja yang rapi, setiap divisi bekerja secara terpisah (silo).
2. Kesalahan dalam manajemen gudang
Gudang adalah pusat kendali bisnis logistik, sehingga kesalahan kecil sekalipun dapat berdampak besar. Pencatatan stok secara manual, salah penempatan barang, atau kurangnya prosedur stock opname sering menimbulkan masalah.
Dampaknya bisa berupa keterlambatan pengiriman, kehilangan barang, hingga penurunan kualitas produk yang disimpan terlalu lama.
Tanpa dukungan sistem manajemen gudang (Warehouse Management System/WMS), kesalahan seperti ini akan terus berulang.
Dalam jangka panjang, perusahaan bukan hanya kehilangan efisiensi, tetapi juga kepercayaan konsumen karena barang tidak sampai tepat waktu atau dalam kondisi terbaik.
3. Minimnya relasi dengan konsumen
Hubungan dengan konsumen adalah kunci keberhasilan logistik, baik di level B2B maupun B2C. Namun, banyak perusahaan ekspedisi hanya fokus pada pengiriman fisik barang tanpa memperhatikan pengalaman pelanggan.
Akibatnya, konsumen merasa tidak dilibatkan dan kurang percaya dengan layanan yang diberikan.
Di era digital, pelanggan menuntut transparansi penuh seperti pelacakan real-time, notifikasi otomatis, hingga layanan pelanggan yang responsif.
Jika hal ini tidak disediakan, maka konsumen akan mudah beralih ke kompetitor yang mampu memberikan komunikasi lebih baik dan pengalaman yang lebih memuaskan.
Semakin banyak titik distribusi, vendor, dan moda transportasi, semakin tinggi pula risiko keterlambatan dan inefisiensi. Tanpa visibilitas end-to-end, perusahaan sulit mengontrol aliran barang dan biaya.
Kesimpulan
Industri logistik dapat beroperasi dengan lancar jika manajemen gudang berjalan secara efektif dan efisien. Mengelola bisnis logistik tidaklah mudah, penting memikirkan langkah-langkah dalam operasionalnya.
Logistics Management Software berperan penting dalam mengoptimalkan dan memudahkan segala aktivitas dalam bisnis logistik. sistem ini membantu mengelola persediaan barang, monitoring barang serta mengendalikan stok.
Pertanyaan Tentang Bisnis Logistik
-
Apa contoh dari bisnis logistik?
Sebagai contoh, perusahaan pemasok perlengkapan pipa dengan operasi logistik yang efektif dapat menawarkan pengiriman di hari yang sama dan pengembalian dana cepat untuk suku cadang yang dikembalikan agar menonjol di pasar yang kompetitif dan membuat pelanggan terus kembali ketika mereka membutuhkan perlengkapan mendesak.
-
Apa saja 4 jenis logistik?
Empat jenis utama manajemen logistik adalah logistik masuk (inbound logistics), logistik keluar (outbound logistics), logistik balik (reverse logistics), dan logistik pihak ketiga (3PL) . Setiap jenis memainkan peran yang berbeda dalam proses logistik, dan penguasaan atas jenis-jenis tersebut dapat secara signifikan memengaruhi efisiensi rantai pasokan secara keseluruhan.
-
Apa beda transportasi dan logistik?
Transportasi berfokus pada pergerakan fisik barang, sementara logistik mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan aliran barang serta informasi terkait.




