CNBC Awards

Kenali Peran Fleet Management System bagi Perusahaan Tambang

Diterbitkan:

Di salah satu tambang batubara di Indonesia, program monitoring kinerja armada berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar haul truck lebih dari 18%. Dan kalau dihitung pada 21 unit yang terdampak, potensi penghematannya mencapai sekitar US$3.36 juta per tahun.

Yang menarik, perbaikannya bukan datang dari ganti, tapi dari kebiasaan operasional yang jadi lebih terukur seperti data fuel burn, engine load, dan payload. Lalu, tim bisa menangkap pola masalah seperti tekanan injector rendah dan oil filter blockage sebelum berubah jadi pemborosan berkepanjangan.

Di sinilah fleet management system (FMS) relevan secara praktis. Ia membuat pembacaan ritme armada dan pengecualian (anomaly) bisa dilakukan sepanjang shift, bukan setelah rekap saja.

Key Takeaways

  • Fleet Management System (FMS) bagi pertambangan adalah kombinasi dari software khusus yang menghubungkan ke kendaraan dan area lokasi Anda.
  • Fleet management system membantu menangkap anomali lebih awal dan mempercepat keputusan dispatch serta jadwal maintenance.
  • Dampak FMS paling terasa ketika jumlah unit dan rute hauling makin kompleks, karena semua tim pakai data yang sama.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Cara Fleet Management System Membaca Ritme Operasi Tambang

      Dalam satu shift, performa armada biasanya berubah seiring waktu. Contohnya, di awal shift (07.00–09.00) siklus hauling masih lancar, lalu sekitar jam 10.00 mulai muncul antrean di loading point, siang hari dumping mulai padat, dan menjelang sore unit-unit mulai idle karena aliran hauling sudah melambat.

      Pola perubahan inilah yang menentukan apakah target shift tercapai atau tidak. Kalau keterlambatan di satu titik tidak segera dikoreksi, efeknya akan menumpuk dan menurunkan produktivitas di sisa shift.

      Fleet Management System dipakai untuk membaca pola ini secara rapi. Jadi, sistem menunjukkan kapan delay mulai naik dan delay itu terjadi di tahap mana (spotting/loading/hauling/queue dumping/dumping/return).

      • Dispatch bisa melihat antrean dan status unit berdasarkan data aktual, sehingga penugasan bisa terjadwal.
      • Maintenance bisa mengenali unit yang cycle time-nya menyimpang atau sering delay, lalu menentukan prioritas pengecekan sebelum downtime membesar.
      • Produksi mendapat angka yang konsisten untuk rekap shift dan evaluasi target per jam.
      • HSE bisa fokus pada area yang perlu perhatian, misalnya titik rawan kepadatan, pola stop mendadak, atau lokasi yang sering menimbulkan near-miss.

      Siklus Hauling yang Bisa Dikendalikan lewat FMS

      Siklus hauling biasanya berjalan lewat 6 tahap ini:

      1. Spotting/antri masuk loading point
      2. Loading di shovel/excavator
      3. Hauling ke dumping point/stockpile/crusher
      4. Queue dumping saat area dumping padat
      5. Dumping
      6. Return kembali ke loading point

      Fleet management system di mining mencatat tiap tahap. Jadi ketika cycle time naik, tim bisa langsung tahu sumbernya. Misalnya queue dumping memanjang, loading melambat, atau waktu hauling bertambah karena kondisi rute.

      Di tengah shift, biasanya ada tiga hal yang paling cepat diperbaiki karena dampaknya langsung ke aliran hauling.

      1. Queue (antrian)

      • Jika queue dumping panjang: alihkan sebagian unit ke dumping point lain, atur giliran masuk, atau kurangi aliran sementara ke titik tersebut.
      • Jika queue loading panjang: kurangi unit di satu shovel dan pindahkan sebagian ke shovel/area lain yang lebih longgar.

      2. Idle (unit berhenti terlalu lama)

      Idle sering muncul karena aliran tidak seimbang. Alat muat belum siap, dumping point macet, atau ada hambatan di rute. Tindakan cepatnya biasanya menyesuaikan alokasi unit per titik, atau mengubah rute untuk menghindari titik yang membuat armada berhenti.

      3. Re-route (ganti jalur)

      Jika rute utama mulai melambat (jalan rusak, traffic padat, slope bermasalah), re-route lebih cepat dilakukan daripada menunggu antrean makin panjang. Tujuannya sederhana: menjaga waktu hauling tetap masuk batas normal.

      Contoh keputusan harian yang terbantu FMS

      Berikut contoh keputusan harian yang umum, dan biasanya lebih cepat diambil saat datanya terlihat jelas di FMS:

      • Re-assign unit: 3 unit dipindah dari shovel A ke shovel B karena antrean di A sudah >15 menit, sementara B lebih longgar.
      • Ubah prioritas rute: hauling ke dumping X ditahan sementara karena queue panjang, lalu dialihkan ke dumping Y sampai arus kembali normal.
      • Mitigasi bottleneck: saat crusher down, dispatch mengurangi aliran ke crusher dan mengarahkan sebagian unit ke stockpile agar antrean dumping tidak “meledak”.
      • Cek unit yang menyimpang: satu truck punya cycle time jauh lebih tinggi dari unit lain; tim cek penyebabnya (ban, engine load, atau cara operasi).

      Metriks yang Wajib Dipantau di FMS Tambang

      Metrik Artinya di lapangan Normalnya dipantau per Kalau naik, biasanya karena Tindakan cepat
      Cycle time (breakdown) Total waktu 1 siklus hauling dari mulai spotting sampai kembali return, dibaca per tahap (loading/hauling/queue/dumping/return). Per jam & per shift Komponen tertentu membengkak: queue dumping naik, loading melambat, waktu hauling bertambah karena kondisi rute, atau return tertahan. Pecah cycle per tahap → tentukan bottleneck utama → re-assign unit / re-route / atur giliran masuk titik padat.
      Queue time Waktu tunggu unit di titik loading atau dumping sebelum bisa diproses. Real-time & per jam Kepadatan titik (arus terlalu banyak), kapasitas titik turun (alat/area terbatas), atau ada hambatan di area dumping/loading. Pecah arus: alihkan sebagian unit ke titik lain, batasi aliran sementara, atau rapikan urutan masuk.
      Idle time Waktu unit berhenti tanpa aktivitas produktif (di rute, dekat loading, atau dekat dumping). Per jam & per shift Mismatch aliran (shovel belum siap, dumping padat), hambatan rute, atau dispatch tidak seimbang antar titik. Cocokkan dengan queue & lokasi idle → seimbangkan alokasi unit per titik → putuskan re-route jika rute penyebabnya.
      Payload Beban angkut per trip yang menentukan tonase per siklus dan total tonase per shift. Per trip & per shift Variasi loading (spotting/posisi), kondisi material, mismatch alat muat, atau disiplin target payload tidak konsisten. Bandingkan payload vs trip count → cek titik loading yang deviasi → sesuaikan penempatan unit & praktik loading.
      Fuel burn / fuel rate Konsumsi bahan bakar per jam/per trip yang mengindikasikan efisiensi operasi dan kondisi unit/rute. Per jam & per rute Idle/queue lama, rute makin berat, payload tidak stabil, kondisi jalan menurun, atau anomali kondisi unit (ban/engine load). Cari deviasi per unit/rute → cek apakah dipicu queue/idle atau rute → tindak lanjuti unit yang menyimpang untuk inspeksi cepat.
      Availability Proporsi unit yang siap dipakai secara teknis (tidak breakdown, tidak masuk maintenance). Harian & mingguan Downtime meningkat, jadwal servis menumpuk, atau breakdown berulang pada unit tertentu. Identifikasi unit penyumbang downtime → prioritaskan perbaikan yang “mengembalikan unit siap jalan” → rapikan jadwal servis.
      Utilization Proporsi waktu unit benar-benar dipakai untuk aktivitas produktif dibanding total waktu tersedia dalam shift. Per shift & harian Alokasi unit tidak seimbang, queue tinggi, idle tinggi, atau ada “stop” yang sering berulang di titik yang sama. Cocokkan utilization dengan queue/idle → seimbangkan dispatch antar titik → kurangi stop berulang lewat reason code dan tindakan spesifik.
      Catatan: ambang hasil perhitungan ROI fleet management system tiap metrik berbeda per site (rute, jarak, jumlah unit, kondisi jalan, dan target produksi). Tabel ini dibuat sebagai panduan membaca metrik dan menentukan tindakan cepat.

      1. Cycle time dan komponen penyusunnya

      Cycle time sering dipakai sebagai angka utama, tapi tidak efektif kalau dibaca sebagai satu angka utuh. Yang perlu dilihat justru komponen penyusunnya, apakah spotting, loading, hauling, queue dumping, dumping, dan return.

      Cycle time naik karena queue dumping bertambah akan butuh tindakan berbeda dibanding cycle time naik karena loading melambat atau waktu hauling membesar akibat kondisi jalan.

      2. Queue time dan idle time

      Queue time dan idle time sering terlihat mirip, tapi artinya berbeda dan dampaknya juga berbeda.

      • Queue time biasanya menunjukkan kepadatan di satu titik (loading atau dumping). Ini biasanya merupakan sinyal masalah aliran.
      • Idle time menunjukkan unit berhenti tanpa aktivitas, dan bisa muncul karena banyak hal, seperti menunggu giliran, nunggu alat muat, rute terganggu, atau dispatch tidak seimbang.

      Cara bacanya harus berurutan. Kalau queue tinggi lalu idle ikut naik, masalahnya ada di titik tujuan (loading/dumping). Tapi kalau idle tinggi tanpa queue yang jelas, baru perlu dicek ke rute, koordinasi dispatch, atau kesiapan alatnya.

      3. Payload dan produktivitas

      Payload tidak bisa dibaca sendirian. Yang perlu dilihat adalah hubungan antara payload, jumlah trip, dan target produksi.

      Payload terlalu kecil akan membuat jumlah trip naik tapi total tonase tetap tertinggal. Payload terlalu besar bisa memperlambat cycle time, menambah fuel burn, dan meningkatkan risiko ke unit.

      FMS membantu melihat keseimbangannya, seperti payload rata-rata per trip, berapa trip per shift, dan apakah kombinasi keduanya mendekati target produksi.

      Di sini produktivitas dibaca sebagai ton per jam atau ton per shift.

      4. Fuel burn / fuel rate

      Fuel burn atau fuel rate adalah indikator awal pemborosan, karena perubahannya sering muncul sebelum biaya benar-benar melonjak.

      Beberapa faktor yang paling sering memengaruhi fuel rate adalah:

      • Kondisi rute (jalan rusak, tanjakan berat, traffic padat)
      • Payload yang tidak konsisten
      • Idle dan queue yang terlalu lama
      • Kondisi unit (engine load, filter, tekanan ban)
      • Pola operasi operator

      Dengan FMS, lonjakan fuel bisa dilihat per unit, per rute, atau per jam. Ini memudahkan tim menentukan apakah masalahnya ada di jalur hauling, unit tertentu, atau cara operasinya.

      Availability dan utilization

      Dua metrik ini sering tertukar, padahal fungsinya berbeda.

      • Availability menjawab: berapa banyak unit yang siap dipakai secara teknis (tidak breakdown, tidak maintenance).
      • Utilization menjawab: dari unit yang siap, berapa yang benar-benar dipakai secara produktif.

      Availability tinggi tapi utilization rendah biasanya berarti masalah di dispatch atau perencanaan. Utilization tinggi tapi availability rendah biasanya berarti unit dipaksa kerja terus dan berisiko breakdown.

      6 Fungsi FMS yang Paling Terpakai di Site

      Fitur-fitur Penting Software Fleet Management System untuk Pertambangan

      Di lapangan, tidak semua fitur fleet management system dipakai setiap hari. Ada beberapa fungsi yang paling sering benar-benar dipakai karena dampaknya langsung terasa ke shift berjalan.

      1. Cost Tracking (Pelacakan Biaya): Fitur ini memungkinkan Anda untuk melacak dengan cermat semua biaya terkait dengan kendaraan dan peralatan pertambangan. Ini mencakup biaya bahan bakar, perawatan, suku cadang, dan lainnya.
      2. Live status board per unit (state + timer): FMS menampilkan daftar unit dengan status aktif (loading/hauling/queue dumping/dumping/return/idle) lengkap dengan durasi di status tersebut. Di sini biasanya juga ada filter per area (pit, loading point, dumping point) supaya operator dispatch cepat lihat kondisi titik tertentu.
      3. Dispatch/assignment dari dashboard (manual atau semi-otomatis): FMS dipakai untuk menetapkan penugasan unit: unit A ke shovel/pit mana, lalu ke dumping point mana. Saat kondisi berubah, penugasan bisa diganti dari layar yang sama tanpa perlu menunggu rekap, biasanya lewat opsi re-assign, hold, atau redirect.
      4. Exception flagging berbasis threshold: FMS menandai kejadian yang melewati batas yang sudah diset: queue dumping > X menit, idle > X menit, cycle time di atas ambang, atau deviasi besar dibanding rata-rata shift. Outputnya biasanya berupa highlight/flag di unit list, notifikasi, atau daftar exception untuk ditindak.
      5. Shift log & event tagging (reason code): Fleet Management System mencatat event penting per unit dan per titik. Mulai loading, selesai loading, mulai hauling, sampai dumping, termasuk delay/stop yang bisa diberi reason code.
      6. Trend & perbandingan cepat: FMS dipakai untuk membandingkan performa: cycle time per jam, queue per titik, fuel rate per rute, payload per unit, atau produktivitas per shift. Biasanya bentuknya tabel/graph sederhana yang bisa difilter cepat untuk menemukan unit atau rute yang menyimpang.

      Kesimpulan

      Fleet Management System (FMS) membantu operasi tambang menjaga kontrol armada secara lebih rapi, mulai dari status unit, siklus hauling, hingga pemantauan fuel dan downtime.

      Pada penambangan nikel yang ritmenya cepat dan risikonya tinggi, visibilitas seperti ini membantu koordinasi dispatch, produksi, maintenance, dan HSE berjalan dengan acuan yang sama.

      Jika perusahaan sedang menimbang implementasi FMS, bagian rekomendasi fleet management di Indonesia dapat menjadi rujukan untuk membandingkan opsi yang paling sesuai dengan kebutuhan site dan skala armada.

      FleetManagement

      Pertanyaan Seputar Fleet Management System

      • Apa itu Fleet dalam dunia tambang?

        Fleet merupakan istilah yang digunakan untuk menjabarkan sekumpulan alat-alat berat. Alat-alat memiliki fungsi untuk pembuatan area tambang ataupun pengangkutan hasil tambang, seperti bulldozer, excavator, truck dan alat-alat pendukung lainnya.

      • Apa itu FS di tambang?

        Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pasca tambang.

      • Apa itu Fleet Controller?

        Menggabungkan efisiensi dengan kemudahan penggunaan, FleetController adalah solusi perangkat lunak sistem untuk Automated Guided Vehicles (AGVs). Ini terhubung dengan WMS (Sistem Manajemen Gudang) Anda, dan menjaga armada tetap berjalan dengan secara otomatis mengoptimalkan pesanan dan rute aliran material perusahaan.

      Jessica Wijaya

      Senior Content Writer

      Selama lebih dari 5 tahun sebagai Senior Content Writer, Jessica telah menulis topik yang mengulas tentang bidang inventory dan warehouse management. Keahliannya mencakup penulisan artikel manajemen stok dan persediaan, perencanaan kebutuhan, multi-warehouse management, dan integrasi sistem digital untuk pengelolaan barang.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya