CNBC Awards

Obsolete Inventory Adalah: Penyebab, Dampak Finansial, dan Strategi Mengatasinya untuk Bisnis

Diterbitkan:

Obsolete inventory sering jadi pembunuh diam-diam arus kas karena stok menumpuk tanpa nilai jual dan baru terlihat saat audit. Akibatnya, modal kerja tertahan dan kerugian sulit dihindari.

Dilema antara menambah stok untuk antisipasi permintaan dan risiko barang usang makin besar jika data gudang tidak akurat. Dengan Software Inventory HashMicro, Anda bisa memantau pergerakan stok dan mendeteksi item berisiko usang lebih cepat dalam satu sistem.

Di artikel ini, saya akan membahas definisi obsolete inventory, cara pencatatan akuntansinya, serta strategi pencegahan yang praktis. Tujuannya agar stok tetap produktif, gudang efisien, dan cash flow tetap aman.

Key Takeaways

  • Obsolete inventory adalah persediaan yang sudah tidak lagi diminati pasar sehingga nilainya turun drastis dan sering perlu di-write-off dari aset perusahaan.
  • Obsolete inventory biasanya terjadi karena demand forecasting yang meleset, perubahan tren/teknologi yang cepat, dan minimnya visibilitas stok akibat sistem gudang yang tidak akurat.
  • Untuk menekan risiko obsolete inventory, Software Inventory HashMicro membantu Anda memantau aging stock secara real-time dan mendeteksi item berisiko usang lebih dini dalam satu sistem terintegrasi.

Klik untuk Demo Gratis!

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      DemoGratis

      Apa Itu Obsolete Inventory?

      Obsolete inventory adalah istilah untuk persediaan barang yang telah mencapai akhir siklus hidup produknya dan tidak lagi memiliki permintaan pasar yang signifikan. Dalam konteks akuntansi, jenis inventaris ini sering kali harus dihapusbukukan (write-off) dari aset perusahaan karena nilainya turun drastis atau bahkan menjadi nol. Barang ini secara efektif menjadi beban mati yang tidak mungkin terjual dengan harga normal.

      Berdasarkan pengalaman saya menangani berbagai klien industri, produk bisa dikategorikan “usang” bukan hanya karena kerusakan fisik. Kehilangan relevansi pasar akibat perubahan tren atau teknologi juga menjadi faktor utama perubahan status aset ini. Jika tidak ditangani cepat, inventaris ini akan terus membebani biaya operasional gudang tanpa memberikan imbal hasil investasi.

      Penting bagi Anda untuk membedakan stok usang dengan jenis masalah inventaris lainnya agar tidak salah mengambil langkah strategis. Banyak bisnis salah mengidentifikasi stok yang bergerak lambat sebagai stok usang, padahal penanganannya sangat berbeda. Berikut adalah perbandingan mendalam mengenai klasifikasi inventaris tersebut.

      1. Perbedaan Obsolete Inventory vs. Slow Moving Inventory

      Perbedaan paling mendasar terletak pada potensi penjualan dan nilai ekonomis yang masih dimiliki oleh barang tersebut di pasar. Slow moving inventory adalah barang yang perputarannya lambat namun masih memiliki permintaan dan nilai jual, meskipun butuh waktu lama untuk cair. Sebaliknya, obsolete inventory sudah tidak memiliki permintaan sama sekali dan sering kali nilai bukunya harus dinolkan dalam laporan keuangan.

      2. Perbedaan Obsolete Inventory vs. Excess Inventory

      Stok berlebih atau excess inventory terjadi ketika Anda memiliki jumlah barang yang melebihi proyeksi permintaan saat ini, namun barang tersebut masih relevan dan laku. Sementara itu, stok usang berkaitan erat dengan hilangnya relevansi produk akibat inovasi atau perubahan selera pasar. Strategi diskon mungkin efektif untuk excess inventory, namun sering kali gagal total untuk menyelamatkan nilai dari barang yang sudah usang.

      Penyebab Utama Terjadinya Obsolete Inventory

      Memahami akar masalah adalah langkah pertama yang krusial dalam mitigasi risiko kerugian stok di masa depan. Seringkali, perusahaan hanya fokus pada cara membuang stok usang tanpa memperbaiki proses hulu yang sebenarnya menjadi biang keladi. Faktor penyebab ini bisa berasal dari ketidakakuratan data internal maupun dinamika eksternal yang tidak terprediksi.

      Analisis penyebab ini tidak hanya harus dilihat dari sisi penjualan, tetapi juga dari sisi operasional dan keandalan sistem yang digunakan. Dengan mengidentifikasi pemicu utamanya, manajemen dapat mengambil langkah preventif yang lebih strategis dan terukur. Berikut adalah detail faktor penyebab yang paling sering terjadi di berbagai industri modern.

      1. Kesalahan dalam Demand Forecasting (Peramalan Permintaan)

      Ketergantungan pada data manual atau intuisi semata sering kali menghasilkan prediksi permintaan yang meleset jauh dari realita pasar. Hal ini memicu risiko over-purchasing, di mana barang dibeli dalam jumlah besar namun gagal terserap pasar sesuai ekspektasi waktu. Penggunaan sistem yang canggih dengan fitur forecasting berbasis data historis sangat diperlukan untuk meminimalisir celah kesalahan ini.

      2. Perubahan Tren Pasar dan Siklus Hidup Produk

      Faktor eksternal seperti perubahan selera konsumen atau rilis teknologi baru dapat membuat produk lama menjadi tidak relevan secara instan. Industri seperti elektronik dan fashion adalah sektor yang paling rentan terhadap risiko keusangan produk yang sangat cepat ini. Kelincahan atau agility dalam merespons sinyal pasar menjadi kunci agar perusahaan tidak terjebak menimbun barang yang sudah ketinggalan zaman.

      3. Kurangnya Visibilitas Sistem Manajemen Gudang

      Sistem inventaris yang terfragmentasi atau masih berbasis kertas sering menyebabkan ketidakakuratan data stok atau inventory discrepancy. Ketidaktahuan manajer terhadap posisi stok tua di gudang sering kali menjadi alasan utama barang tersebut “terlupakan” di sudut gudang. Akibatnya, barang baru terdeteksi saat sudah kadaluarsa atau rusak, sehingga kerugian tidak dapat dihindari lagi.

      Dampak Negatif Obsolete Inventory bagi Bisnis

      Dampak obsolete inventory bagi bisnis mencakup kerugian finansial langsung akibat penghapusbukuan aset dan peningkatan biaya operasional yang sia-sia. Selain itu, stok usang juga memakan ruang gudang yang berharga yang seharusnya bisa digunakan untuk barang fast-moving. Hal ini secara tidak langsung menghambat perputaran modal dan menurunkan rasio profitabilitas perusahaan di mata investor.

      Banyak pemilik bisnis hanya melihat kerugian dari sisi Harga Pokok Penjualan (HPP) barang yang tidak terjual semata. Padahal, dampak stok usang jauh lebih luas dan sistemik, mempengaruhi kesehatan arus kas perusahaan secara keseluruhan dalam jangka panjang. Berikut adalah rincian dampak tersembunyi yang perlu diwaspadai oleh setiap pemimpin bisnis.

      1. Beban Biaya Penyimpanan (Carrying Costs)

      Biaya penyimpanan atau carrying costs akan terus berjalan meskipun barang tersebut hanya diam berdebu di dalam gudang Anda. Komponen biaya ini meliputi sewa gudang, asuransi, listrik untuk pengondisian suhu, hingga gaji staf yang mengelola stok tersebut. Menyimpan barang usang pada dasarnya sama dengan membayar sewa mahal untuk penyewa yang tidak membayar uang sewa sama sekali.

      2. Gangguan Cash Flow dan Likuiditas Perusahaan

      Modal kerja yang terikat pada stok mati tidak dapat diputar kembali untuk investasi produktif atau biaya operasional harian. Kondisi ini secara langsung memukul likuiditas perusahaan, membuat bisnis sulit bernapas saat membutuhkan dana tunai cepat. Ketidakmampuan merespons peluang pasar baru karena dana yang “macet” di gudang adalah biaya peluang yang sangat mahal.

      3. Penurunan Margin Keuntungan dan Nilai Aset

      Keberadaan stok usang sering kali memaksa perusahaan melakukan diskon besar-besaran atau bahkan pemusnahan total aset. Tindakan ini secara langsung akan menggerus margin keuntungan bersih dalam laporan laba rugi periode berjalan. Selain itu, penurunan nilai aset persediaan juga akan memperburuk rasio keuangan perusahaan, yang bisa berdampak negatif pada penilaian kredit atau investasi.

      Perlakuan Akuntansi untuk Obsolete Inventory (Jurnal & Write-Off)

      Dalam akuntansi, obsolete inventory harus dicatat dengan metode write-down atau write-off sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku seperti PSAK. Jika barang masih memiliki sedikit nilai jual, nilainya diturunkan ke Nilai Realisasi Bersih (NRV), namun jika sudah tidak berharga, wajib dihapusbukukan. Pencatatan yang akurat ini krusial untuk menjaga integritas laporan keuangan dan kepatuhan perpajakan perusahaan.

      Pencatatan yang tepat bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi juga merupakan strategi manajemen laba yang bijak dan transparan. Kesalahan dalam mencatat stok usang dapat mengakibatkan pembayaran pajak yang terlalu tinggi atau laporan aset yang overstated (terlalu tinggi). Berikut adalah panduan teknis mengenai konsep dan jurnal pencatatannya.

      1. Konsep Write-Down vs Write-Off dalam Persediaan

      Write-down dilakukan ketika barang masih bisa dijual namun dengan harga di bawah biaya perolehan, sehingga nilainya diturunkan ke harga pasar. Sedangkan write-off dilakukan ketika barang benar-benar rusak, kadaluarsa, atau tidak laku sama sekali sehingga nilainya menjadi nol. Prinsip ini mengacu pada metode Lower of Cost or Net Realizable Value (LCNRV) untuk memastikan aset tidak dicatat melebihi nilai yang dapat dipulihkan.

      2. Contoh Jurnal Akuntansi untuk Obsolete Inventory

      Untuk mencatat penghapusan stok, Anda perlu mendebit akun beban dan mengkredit akun persediaan atau cadangan penurunan nilai. Jurnal umumnya adalah: Debit: Beban Kerugian Penurunan Nilai Persediaan dan Kredit: Persediaan Barang Dagang. Pencatatan ini akan langsung mengurangi laba bersih pada periode berjalan, namun membersihkan neraca dari aset yang tidak produktif.

      Strategi Efektif Mengatasi Obsolete Inventory

      Mengatasi obsolete inventory memerlukan kombinasi strategi penjualan yang kreatif dan keputusan manajemen yang tegas untuk memotong kerugian. Menunggu terlalu lama hanya akan menambah akumulasi biaya penyimpanan tanpa memberikan solusi yang nyata. Tujuannya adalah memulihkan sebagian modal kerja (recovery) atau setidaknya segera mengosongkan ruang gudang untuk barang yang lebih produktif.

      Strategi ini harus diurutkan dari opsi yang paling menguntungkan secara finansial hingga opsi terakhir yaitu pemusnahan barang. Pemilihan taktik harus disesuaikan dengan jenis produk, kondisi fisik barang, dan peluang pasar yang masih tersisa. Berikut adalah langkah-langkah taktis yang dapat segera Anda terapkan.

      1. Strategi Bundling dan Diskon Agresif

      Salah satu cara efektif adalah mengemas produk usang dengan produk best-seller dalam satu paket bundling yang menarik. Teknik ini memanfaatkan popularitas barang laku untuk mendorong keluarnya barang mati tanpa merusak persepsi harga produk utama. Selain itu, penerapan diskon agresif atau flash sale khusus cuci gudang juga bisa menjadi solusi cepat untuk menghasilkan uang tunai.

      2. Remarketing atau Repurposing Produk

      Pertimbangkan untuk memodifikasi atau memasarkan ulang produk ke segmen pasar yang berbeda, misalnya dari pasar ritel ke pasar B2B atau grosir. Dalam industri tertentu seperti elektronik, komponen dari produk usang mungkin masih memiliki nilai jual tinggi jika dijual terpisah sebagai suku cadang. Kreativitas dalam melihat fungsi lain dari produk usang bisa menyelamatkan nilai aset Anda.

      3. Likuidasi, Donasi, atau Pemusnahan (Disposal)

      Jika barang benar-benar tidak laku dijual, opsi likuidasi ke pihak ketiga atau donasi untuk kegiatan CSR bisa menjadi pilihan bijak. Donasi sering kali memberikan manfaat pajak tertentu dan membangun citra positif perusahaan di mata publik. Namun jika barang berbahaya atau rusak total, pemusnahan sesuai regulasi lingkungan adalah jalan terakhir yang harus ditempuh demi kepatuhan hukum.

      Cara Mencegah Obsolete Inventory dengan Teknologi

      Mencegah terjadinya obsolete inventory jauh lebih baik dan murah daripada harus mengatasinya saat sudah menjadi masalah besar. Teknologi manajemen inventaris modern memegang peranan kunci dalam memberikan visibilitas dan kontrol penuh atas pergerakan stok Anda. Dengan sistem yang tepat, Anda bisa mendeteksi potensi stok mati jauh sebelum barang tersebut benar-benar kehilangan nilainya.

      Di era digital tahun 2025 ini, mengandalkan spreadsheet manual untuk manajemen stok adalah risiko bisnis yang terlalu besar untuk diambil. Automasi proses dapat menghilangkan blind spot yang sering menyebabkan penumpukan barang yang tidak terdeteksi oleh manajemen. Berikut adalah bagaimana aplikasi stok barang untuk enterprise dapat membantu Anda.

      1. Pemanfaatan Fitur Stock Aging Analysis

      Laporan stock aging atau umur persediaan adalah fitur krusial yang membantu manajer mengidentifikasi barang yang sudah terlalu lama mengendap di gudang. Dengan rekomendasi inventory software untuk manajemen stok dari HashMicro, Anda bisa memantau durasi penyimpanan setiap SKU. Hal ini memungkinkan tim sales untuk segera membuat promo khusus bagi barang yang mendekati batas waktu usang.

      2. Integrasi Data Penjualan dan Pembelian (ERP)

      Integrasi antara modul penjualan dan pembelian dalam sistem ERP mencegah terjadinya overstocking akibat komunikasi yang buruk antar departemen. Data penjualan yang terhubung langsung memberikan sinyal kepada tim procurement untuk mengerem pembelian barang yang trennya sedang menurun. Keseimbangan ini menjaga level stok tetap optimal sesuai dengan permintaan pasar yang sebenarnya.

      3. Otomatisasi Notifikasi Low Stock dan Expiry Date

      Bagi industri yang memiliki barang dengan masa kadaluarsa seperti F&B atau farmasi, fitur pelacakan expiry date adalah penyelamat utama. Sistem modern dapat memberikan notifikasi otomatis jauh hari sebelum barang kadaluarsa kepada manajer gudang dan tim penjualan. Peringatan dini ini memberikan waktu yang cukup untuk menjual barang tersebut sebelum benar-benar harus dimusnahkan.

      Optimalkan Manajemen Bisnis Anda dengan Solusi dari HashMicro

      software inventory hashmicro

      HashMicro menyediakan sistem ERP terintegrasi yang dirancang khusus untuk mengotomatisasi dan menyederhanakan proses bisnis, termasuk mitigasi risiko inventory usang. Dengan solusi yang komprehensif, perusahaan dapat mengatasi tantangan seperti visibilitas stok yang buruk, kesalahan peramalan permintaan, dan kerugian akibat barang kadaluarsa yang sering tidak terdeteksi.

      Melalui modul Inventory Management System yang canggih, HashMicro membantu bisnis memantau pergerakan stok secara real-time dan akurat. Fitur-fitur canggih yang tersedia memungkinkan perusahaan untuk memproses data stok lebih cepat, mengurangi human error dalam pencatatan, serta mendapatkan analisis mendalam mengenai kesehatan inventaris di berbagai lokasi gudang.

      Sistem HashMicro dirancang dengan integrasi penuh antar modul, sehingga data dari berbagai departemen seperti akuntansi, inventaris, pembelian, dan penjualan dapat saling terhubung. Hal ini memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap seluruh operasional bisnis dan memastikan setiap keputusan pembelian atau penjualan didasarkan pada informasi yang akurat dan terkini.

      Fitur Software Inventory HashMicro:

      • Stock Aging Analysis: Memantau durasi penyimpanan setiap barang di gudang untuk mengidentifikasi stok yang bergerak lambat sebelum menjadi usang.
      • Automated Forecasting: Memprediksi kebutuhan stok di masa depan berdasarkan tren data historis untuk mencegah pembelian berlebih (overstocking).
      • Expiry Date Tracking: Melacak tanggal kadaluarsa produk secara otomatis dan memberikan notifikasi dini untuk prioritas penjualan (FEFO).
      • Multi-Warehouse Management: Mengelola stok di banyak lokasi gudang secara terpusat untuk memudahkan rotasi barang antar cabang.
      • Inventory Valuation Reports: Menyajikan laporan penilaian persediaan secara real-time untuk membantu keputusan write-off atau strategi diskon.

      Dengan HashMicro, perusahaan Anda dapat meningkatkan efisiensi operasional, transparansi data stok, dan otomatisasi proses bisnis yang lebih baik. Untuk melihat bagaimana solusi kami dapat membantu bisnis Anda mencegah kerugian stok secara nyata, jangan ragu untuk mencoba demo gratisnya sekarang juga.

      Kesimpulan

      Obsolete inventory bisa menggerogoti keuangan karena menambah biaya penyimpanan, menahan arus kas, dan memicu kerugian dari barang yang tidak lagi bernilai jual. Jika tidak ditangani cepat, stok usang berubah dari aset menjadi beban.

      Pencegahan paling efektif dimulai dari data stok yang akurat dan respons yang cepat terhadap perubahan permintaan. Dengan Software Inventory HashMicro, Anda bisa memantau pergerakan stok dan mengidentifikasi barang berisiko usang lebih dini dalam satu sistem.

      Coba demo gratis untuk melihat bagaimana kontrol inventaris dapat lebih rapi dan proaktif. Evaluasi kesehatan stok sekarang agar aset tidak berubah menjadi beban operasional.

      InventoryManagement

      Pertanyaan Seputar Obsolote Inventory

      • Apakah Obsolete Inventory Bisa Dijual Kembali?

        Ya, obsolete inventory masih bisa dijual kembali meskipun dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga normal. Strategi penjualan bisa melalui pasar likuidasi, penjualan ke pihak ketiga, atau sebagai barang scrap (rongsokan) untuk memulihkan sebagian nilai.

      • Apa Bedanya Write-Off Dan Write-Down Dalam Inventory?

        Write-down dilakukan ketika nilai pasar barang turun di bawah biaya perolehan namun masih memiliki nilai jual, sehingga nilai aset dikurangi. Sedangkan write-off dilakukan ketika barang sudah tidak memiliki nilai jual sama sekali atau rusak total, sehingga nilainya dihapus sepenuhnya dari buku aset.

      • Bagaimana Cara Menghitung Rasio Obsolete Inventory?

        Rasio obsolete inventory dapat dihitung dengan membagi total nilai persediaan usang dengan total nilai persediaan keseluruhan, lalu dikalikan 100%. Angka rasio yang semakin kecil menunjukkan manajemen inventaris yang semakin sehat dan efisien.

      • Apakah Obsolete Inventory Termasuk Aset Atau Beban?

        Secara teknis, obsolete inventory awalnya tercatat sebagai aset persediaan di neraca. Namun, ketika diidentifikasi sebagai usang dan tidak bernilai, nilainya akan dipindahkan menjadi beban kerugian pada laporan laba rugi melalui proses write-off.

      Jessica Wijaya

      Senior Content Writer

      Selama lebih dari 5 tahun sebagai Senior Content Writer, Jessica telah menulis topik yang mengulas tentang bidang inventory dan warehouse management. Keahliannya mencakup penulisan artikel manajemen stok dan persediaan, perencanaan kebutuhan, multi-warehouse management, dan integrasi sistem digital untuk pengelolaan barang.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×
      close button
      Violet

      Nadia

      Active Now

      Violet

      Nadia

      Active Now

      Chapter Selanjutnya