CNBC Awards

Strategi MRO Procurement: Panduan Optimasi Pengadaan

Diterbitkan:

Jika Anda menangani procurement, maintenance, atau operasional pabrik dan sering pusing karena spare part mendadak habis, vendor terlalu banyak, atau biaya kecil yang menumpuk tanpa terasa, topik ini memang untuk Anda. MRO procurement sendiri adalah pengadaan barang dan jasa untuk maintenance, repair, dan kebutuhan operasional harian yang menjaga aktivitas tetap jalan.

Masalahnya, MRO sering dianggap pengeluaran receh, padahal justru paling sering bocor karena prosesnya repetitif dan tersebar. Saat pencatatan masih manual, approval jadi lambat, pembelian cenderung reaktif, dan kontrol stok serta anggaran sulit dipantau.

Di artikel ini, Anda akan melihat kategori MRO yang paling umum, titik rawan yang bikin biaya membengkak dan downtime, strategi praktis untuk merapikan vendor dan pembelian, sampai KPI yang perlu dipantau. Anda juga akan dapat gambaran bagaimana software procurement membantu membuat proses MRO lebih rapi, cepat, dan terukur dari sisi biaya maupun kinerja vendor.

Key Takeaways

  • MRO procurement adalah proses pengadaan yang memastikan kebutuhan perawatan, perbaikan, dan operasional selalu tersedia agar bisnis berjalan lancar.
  • Tantangan MRO procurement adalah mengatasi visibilitas inventaris, manajemen vendor, pembelian spontan, dan proses manual agar pengadaan tetap efisien
  • Pola pengadaan MRO umumnya terbagi menjadi terencana dan darurat, dengan kebutuhan berbeda di tiap industri seperti manufaktur dan ritel.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      MRO Procurement yang Rapi Bikin Operasional Tidak Tersendat

      MRO adalah singkatan dari Maintenance, Repair, and Operations, yang merujuk pada semua barang untuk menjaga fasilitas tetap berjalan. MRO procurement adalah proses strategis untuk pengadaan semua kebutuhan pendukung ini, dari baut mesin hingga layanan perbaikan. Proses ini memastikan setiap departemen berfungsi optimal tanpa gangguan.

      Memahami cakupan MRO sangat penting karena sifatnya yang terdesentralisasi sering menjadi sumber inefisiensi. Berbeda dari pengadaan bahan baku, pengadaan MRO sering bersifat reaktif dan melibatkan banyak vendor. Mari kita bedah setiap komponen utama yang membentuk MRO dan perannya dalam bisnis.

      1. Maintenance (Perawatan)

      Aktivitas perawatan mencakup semua tindakan proaktif untuk menjaga peralatan dan fasilitas dalam kondisi kerja optimal. Ini adalah investasi untuk menghindari biaya perbaikan yang lebih besar dan downtime yang merugikan. Contohnya meliputi inspeksi rutin lini produksi, layanan pembersihan HVAC, dan kalibrasi alat ukur.

      2. Repair (Perbaikan)

      Komponen perbaikan berfokus pada aktivitas reaktif untuk mengembalikan aset yang rusak ke kondisi fungsional. Kebutuhan ini seringkali mendesak dan tidak terduga, sehingga memerlukan proses pengadaan yang cepat. Contohnya termasuk pembelian suku cadang mesin yang tiba-tiba rusak atau memanggil teknisi untuk memperbaiki kebocoran pipa.

      3. Operations (Operasi)

      Operasi mencakup semua barang habis pakai yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan bisnis sehari-hari. Kategori ini sangat luas dan sering melibatkan banyak departemen, dari produksi hingga administrasi. Contohnya meliputi alat pelindung diri (APD), perlengkapan kebersihan, dan alat tulis kantor (ATK).

      Karena item operasional sering habis pakai dan tersebar di banyak lokasi, perusahaan perlu menjaga akurasi tingkat ketepatan data stok untuk kebutuhan operasional harian agar pengadaan MRO tidak selalu bersifat reaktif dan mendadak.

      Kenapa Pengadaan MRO Sering Jadi Penentu Kelancaran Kerja

      Tahukah Anda bahwa pengeluaran MRO bisa mencapai 5-10% dari total biaya pengadaan tidak langsung sebuah perusahaan? Banyak yang memandang MRO procurement hanya sebagai fungsi administratif, padahal perannya jauh lebih strategis. Pengelolaan MRO yang buruk dapat secara diam-diam menggerogoti profitabilitas melalui downtime dan pembelian darurat.

      Sebaliknya, pendekatan yang terstruktur dapat menjadi sumber penghematan biaya yang signifikan. Dengan mengoptimalkan proses ini, perusahaan tidak hanya memastikan ketersediaan perlengkapan tetapi juga membangun ketahanan operasional. Pada akhirnya, MRO procurement yang unggul adalah tentang menjaga roda bisnis tetap berputar lancar, aman, dan efisien.

      Dalam praktiknya, pembelian darurat yang berulang sering kali berkaitan langsung dengan lemahnya alur permintaan maintenance yang tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga kebutuhan MRO baru terlihat saat kerusakan sudah terjadi.

      Membaca Pola Pengadaan MRO di Tiap Industri dari Contoh Nyata

      Memahami berbagai kategori pengadaan MRO membantu perusahaan merancang strategi yang lebih sesuai. Secara umum, proses ini dapat dibagi berdasarkan tingkat perencanaan, yang masing-masing memerlukan pendekatan berbeda. Perbedaan ini penting karena pengadaan tidak terencana sering menjadi sumber pembengkakan biaya.

      Jenis barang MRO juga sangat bervariasi tergantung pada sektor industrinya. Dengan mengenali kategori dan contoh spesifik, Anda dapat memetakan pola pengeluaran dan membangun sistem yang lebih relevan. Berikut adalah penjabaran kategori pengadaan MRO beserta contoh konkret di berbagai industri.

      1. Pengadaan terencana (Planned procurement)

      Pengadaan terencana mencakup pembelian MRO yang dapat diprediksi dan dijadwalkan berdasarkan data historis. Kategori ini memungkinkan perusahaan melakukan konsolidasi permintaan dan negosiasi harga yang lebih baik. Dengan perencanaan matang, perusahaan dapat menghindari pembelian mendadak dan mengelola arus kas lebih efektif.

      2. Pengadaan tidak terencana (Unplanned procurement)

      Pengadaan tidak terencana terjadi ketika ada kebutuhan mendesak akibat kerusakan mesin atau kegagalan peralatan. Sifatnya yang reaktif seringkali memaksa perusahaan melakukan pembelian dengan cepat tanpa proses tender. Meskipun tidak bisa dihilangkan, frekuensinya dapat diminimalkan melalui program perawatan preventif yang solid.

      3. Contoh MRO di industri manufaktur

      Dalam industri manufaktur, MRO procurement sangat krusial untuk menjaga kelancaran lini produksi. Barangnya sangat beragam, mulai dari komponen teknis hingga perlengkapan keselamatan standar. Contohnya meliputi pelumas industri, bantalan mesin, alat potong, sarung tangan keselamatan, dan bahan kimia pembersih.

      4. Contoh MRO di industri ritel

      Di sektor ritel, fokus MRO lebih kepada menjaga penampilan, fungsionalitas, dan keamanan area pelanggan. Tujuannya adalah memastikan pengalaman berbelanja yang positif dan kelancaran logistik. Contohnya mencakup bola lampu, perlengkapan kebersihan, suku cadang mesin kasir (POS), dan layanan perawatan rak pajangan.

      Titik Rawan MRO Procurement yang Paling Sering Bikin Boros

      Menurut sebuah laporan dari Deloitte, banyak CPO masih berjuang dengan kompleksitas data dalam pengadaan. Mengelola MRO procurement di lapangan memang dipenuhi tantangan yang dapat menghambat efisiensi. Tantangan ini muncul dari sifat barang MRO yang beragam, banyaknya pemasok, serta permintaan yang tersebar.

      Mengidentifikasi tantangan ini adalah langkah pertama untuk membangun solusi yang efektif. Dengan memahami akar masalahnya, Anda dapat merancang proses dan mengadopsi teknologi yang tepat. Berikut adalah empat tantangan utama yang paling sering dihadapi oleh bisnis dalam mengelola MRO procurement.

      1. Kurangnya visibilitas dan kontrol inventaris

      Salah satu tantangan terbesar adalah ketidakmampuan melacak stok MRO secara akurat di berbagai lokasi. Hal ini menyebabkan penumpukan stok untuk beberapa item dan kekurangan untuk item kritis lainnya. Kurangnya visibilitas membuat perusahaan sulit mengetahui kapan harus memesan ulang, yang memicu pembelian panik.

      2. Manajemen vendor yang kompleks

      Pengadaan MRO seringkali melibatkan ratusan vendor berbeda, masing-masing dengan harga dan syarat yang bervariasi. Mengelola basis data vendor yang besar dan mengevaluasi kinerja mereka secara manual adalah tugas yang rumit. Tanpa standarisasi, perusahaan berisiko terjebak dengan vendor yang tidak andal atau membayar harga mahal.

      3. Pembelian spontan (Maverick spending) yang sulit dikontrol

      Maverick spending terjadi ketika karyawan melakukan pembelian di luar saluran pengadaan yang disetujui. Praktik ini menghilangkan peluang untuk mendapatkan harga yang lebih baik melalui pembelian bervolume. Akibatnya, perusahaan kehilangan daya tawar, visibilitas anggaran, dan kontrol atas kualitas barang.

      Tanpa mekanisme persetujuan yang jelas, pola belanja di luar sistem ini akan terus berulang dan menyulitkan pengendalian strategi pengelolaan pengeluaran tidak langsung perusahaan dalam jangka panjang.

      4. Proses manual yang rentan kesalahan dan lambat

      Banyak perusahaan masih mengandalkan proses manual berbasis kertas atau spreadsheet untuk mengelola permintaan MRO. Proses ini tidak hanya lambat tetapi juga sangat rentan terhadap kesalahan manusia dan persetujuan yang tertunda. Keterlambatan ini dapat secara langsung menyebabkan downtime operasional jika suku cadang tidak datang tepat waktu.

      Cara Menekan Biaya MRO Tanpa Mengorbankan Ketersediaan

      mro procurement

      Mengatasi tantangan MRO procurement memerlukan pendekatan strategis yang terstruktur dan didukung teknologi. Tujuannya adalah mengubah proses yang reaktif menjadi proaktif, terpusat, dan berbasis data. Dengan menerapkan strategi yang tepat, perusahaan dapat memperoleh visibilitas penuh dan menghasilkan penghematan biaya.

      Setiap strategi ini saling mendukung untuk menciptakan ekosistem pengadaan yang kuat dan terkontrol. Kunci keberhasilannya terletak pada komitmen untuk melakukan standardisasi dan kemauan berinvestasi pada alat yang tepat. Berikut adalah lima strategi jitu untuk merevolusi proses MRO procurement di perusahaan Anda.

      1. Sentralisasi proses pengadaan MRO

      Langkah fundamental pertama adalah memusatkan semua aktivitas pengadaan MRO di bawah satu tim atau platform. Sentralisasi memungkinkan perusahaan mengkonsolidasikan volume pembelian, yang memberikan daya tawar lebih kuat. Selain itu, ini menciptakan standar proses yang seragam sehingga lebih mudah dikontrol dan diaudit.

      2. Implementasi sistem e-procurement untuk otomatisasi

      Mengadopsi platform e-procurement seperti software procurement dapat mengotomatiskan sebagian besar alur kerja manual. Sistem ini mempercepat proses, mengurangi risiko kesalahan, dan menyediakan jejak audit digital yang transparan. Dengan otomatisasi, tim Anda dapat fokus pada aktivitas yang lebih strategis daripada tugas administratif.

      3. Menerapkan manajemen inventaris berbasis data

      Gunakan sistem manajemen inventaris untuk mendapatkan visibilitas real-time terhadap seluruh stok MRO Anda. Dengan data akurat, Anda dapat menetapkan titik pemesanan ulang otomatis untuk mencegah stockout. Analisis data historis juga membantu Anda mengidentifikasi barang yang bergerak lambat untuk menghindari overstocking.

      4. Membangun kemitraan strategis dengan vendor

      Alih-alih bertransaksi dengan ratusan vendor, konsolidasikan pembelian Anda ke sejumlah kecil vendor pilihan yang strategis. Bangun hubungan kemitraan jangka panjang untuk mendapatkan harga yang lebih baik dan layanan prioritas. Lakukan evaluasi kinerja vendor secara berkala berdasarkan metrik yang jelas seperti ketepatan waktu pengiriman.

      5. Menganalisis data pengeluaran untuk pengambilan keputusan

      Manfaatkan data dari sistem pengadaan Anda untuk melakukan analisis pengeluaran secara rutin. Analisis ini membantu mengidentifikasi pola pembelian dan menemukan area potensial untuk penghematan lebih lanjut. Keputusan berbasis data jauh lebih efektif daripada yang hanya berdasarkan intuisi, memungkinkan Anda menyempurnakan strategi.

      Dari Manual ke Terukur: Peran Teknologi di MRO Procurement

      Di era digital, mengelola MRO procurement secara efisien hampir mustahil tanpa bantuan teknologi. Perangkat lunak modern menawarkan solusi untuk setiap tantangan, mulai dari kurangnya visibilitas hingga proses manual. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan fondasi utama untuk membangun proses pengadaan yang strategis.

      Dengan mengintegrasikan berbagai sistem, perusahaan dapat menciptakan aliran data yang mulus dari inventaris hingga akuntansi. Hal ini memberdayakan para pengambil keputusan dengan informasi akurat dan real-time. Mari kita lihat bagaimana berbagai jenis perangkat lunak dapat mentransformasi proses MRO procurement Anda.

      1. Software procurement untuk sentralisasi dan transparansi

      Software procurement berfungsi sebagai pusat kendali untuk semua aktivitas pengadaan. Platform ini memungkinkan pembuatan katalog produk, standarisasi proses permintaan, dan pelacakan status pesanan. Dengan fitur ini, perusahaan dapat memberantas maverick spending dan memastikan semua pembelian dilakukan melalui alur yang benar.

      2. Sistem manajemen inventaris untuk kontrol stok akurat

      Sistem manajemen inventaris modern memberikan visibilitas penuh atas setiap item MRO. Fitur seperti pemindaian barcode mempercepat proses penerimaan barang, sementara stock forecasting membantu memprediksi kebutuhan. Dengan level stok akurat, sistem dapat otomatis memicu permintaan pembelian saat persediaan mencapai batas minimum.

      3. Integrasi dengan sistem akuntansi untuk pelacakan biaya

      Ketika sistem pengadaan terintegrasi dengan perangkat lunak akuntansi, proses 3-way matching dapat dilakukan otomatis. Integrasi ini mengurangi beban kerja tim keuangan, mempercepat siklus pembayaran, dan memastikan setiap pengeluaran MRO tercatat. Hal ini memberikan gambaran finansial yang jauh lebih akurat untuk analisis.

      Ketika data pembelian, stok, dan biaya sudah terhubung, perusahaan dapat melihat dampak MRO secara langsung terhadap kesehatan modal kerja dan arus kas operasional tanpa perlu rekonsiliasi manual lintas departemen.

      4. Platform ERP sebagai solusi terpusat

      Untuk kontrol tertinggi, platform Enterprise Resource Planning (ERP) mengintegrasikan semua modul ke dalam satu sistem terpadu. Solusi terpusat ini menghilangkan silo data antar departemen dan menciptakan satu sumber kebenaran. Inovasi terkini seperti ai procurement software bahkan mulai mengubah cara perusahaan menganalisis data pengeluaran secara proaktif.

      KPI MRO Procurement yang Benar-Benar Dipakai Manajemen

      Untuk memastikan strategi MRO procurement Anda berjalan efektif, Anda perlu melacak beberapa Key Performance Indicator (KPI). KPI berfungsi sebagai rapor yang mengukur kesehatan dan efisiensi proses pengadaan Anda. Tanpa pengukuran yang jelas, upaya optimalisasi Anda hanya akan berdasarkan asumsi.

      Dengan memantau metrik ini, Anda dapat membuat keputusan berbasis data dan menunjukkan dampak positif dari investasi teknologi. KPI memberikan bukti kuantitatif bahwa tim pengadaan adalah kontributor strategis bagi profitabilitas. Beberapa KPI penting yang wajib Anda pantau antara lain Purchase Price Variance (PPV), tingkat pembelian darurat, waktu siklus pengadaan, dan perputaran inventaris MRO.

      Kesimpulan

      Mengelola MRO procurement secara rapi membantu operasional tetap stabil dan mencegah biaya kecil yang diam-diam membengkak. Saat data pembelian, stok, dan supplier tercatat konsisten, perusahaan lebih mudah menekan downtime, mempercepat keputusan, dan menjaga kontrol anggaran.

      Pendekatan berbasis sistem, seperti e-procurement yang terintegrasi dengan ERP, biasanya membuat proses lebih tertib karena approval, pemantauan pengeluaran, serta evaluasi vendor berjalan dalam satu alur. Hasilnya, tim procurement bisa fokus pada strategi pengadaan dan negosiasi, bukan sekadar mengejar kebutuhan mendadak.

      Jika Anda ingin memetakan titik bocor MRO dan menyusun proses yang lebih terukur, Anda bisa konsultasi gratis untuk menyesuaikan alur pengadaan dengan struktur tim dan kebutuhan operasional perusahaan.

      Pertanyaan Seputar MRO Procurement

      • Apa perbedaan utama antara MRO dan pengadaan tidak langsung (indirect procurement)?

        MRO adalah sub-kategori dari pengadaan tidak langsung. Pengadaan tidak langsung mencakup semua barang dan jasa yang tidak menjadi bagian produk akhir, sedangkan MRO spesifik untuk Maintenance, Repair, dan Operations.

      • Bagaimana cara memulai sentralisasi MRO procurement di perusahaan skala kecil?

        Mulailah dengan menunjuk satu tim yang bertanggung jawab atas semua permintaan MRO. Buat daftar vendor yang disetujui dan gunakan sistem sederhana seperti spreadsheet bersama untuk melacak permintaan sebagai langkah awal.

      • Apakah software ERP benar-benar dapat membantu mengurangi biaya MRO?

        Ya, secara signifikan. Software ERP membantu mengurangi biaya MRO dengan otomatisasi proses, peningkatan visibilitas stok, konsolidasi pesanan, dan penyediaan data untuk analisis pengeluaran guna menemukan area penghematan baru.

      • Bagaimana cara memilih vendor yang tepat untuk pasokan MRO?

        Pilih vendor berdasarkan kombinasi harga, kualitas, keandalan pengiriman, dan layanan pelanggan. Bangun hubungan kemitraan dan pertimbangkan untuk memiliki lebih dari satu vendor untuk item-item kritis guna mengurangi risiko.

      • Apa risiko terbesar jika manajemen MRO buruk?

        Risiko terbesar adalah downtime operasional yang tidak terencana. Ketika mesin produksi berhenti karena tidak ada suku cadang, kerugian dari hilangnya produksi bisa sangat besar dan merugikan finansial perusahaan.

      Jonathan Kurniawan

      Senior Content Writer

      Jonathan adalah seorang praktisi dalam bidang procurement, TMS, dan supply chain dengan pengalaman 5 tahun. Spesialis dalam mengulas topik seputar manajemen vendor, budget control procurement, otomatisasi proses pengadaan barang, dan analisis procurement. Tulisannya secara konsisten mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih strategis.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya