Hindari 6 Kesalahan Paling Umum dalam Bisnis Grosir Ini!

Kanya Anindita
indari 6 Kesalahan Paling Umum dalam Bisnis Grosir Ini! Sumber: rwmloans.com

Menjalankan bisnis grosir tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari disintermediasi, perubahan tren dan permintaan pelanggan, hingga kemunculan teknologi baru. Alih-alih meningkatkan profit, banyak bisnis grosir yang gagal ketika berusaha mengalahkan tantangan-tantangan tersebut. Ini dikarenakan adanya berbagai kesalahan dalam pengelolaan bisnis mereka yang tidak mereka sadari. Dalam artikel ini kami merangkum enam kesalahan umum dalam bisnis grosir yang wajib Anda dihindari.

1. Membeli barang terlalu banyak

Anda mungkin sengaja membeli banyak barang karena Anda khawatir akan kekurangan stok atau agar Anda mendapatkan diskon dari supplier. Akan tetapi, membeli barang dalam jumlah besar tanpa memprediksi permintaan pelanggan dan tren bisa merugikan bisnis grosir Anda.

Jika Anda tidak bisa menjual seluruh barang Anda dengan cepat, berarti Anda harus menyimpannya di gudang Anda lebih lama. Ini bisa memungkinkan terjadinya kontaminasi, pembusukan, dan kerusakan yang pada akhirnya menyebabkan pemborosan. Hindari kemungkinan-kemungkinan tersebut dengan melakukan metode forecasting.

Forecasting atau prakiraan berguna untuk membantu Anda melakukan pemesanan dalam jumlah dan waktu yang tepat, sehingga menghindari pengadaan stok yang berlebihan. Selain memprediksi permintaan pelanggan dan tren, Anda juga perlu memantau tingkat persediaan secara rutin untuk mengetahui berapa banyak jumlah barang yang sebaiknya dipesan. Cara efektif lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan membuat blanket order agar Anda tidak perlu memesan banyak barang dalam satu waktu.

2. Tidak mencoba negosiasi dengan supplier

Kesalahan lain yang sering dilakukan dalam bisnis grosir yakni melupakan negosiasi dengan supplier. Produsen biasanya memang menentukan jumlah minimal order yang cukup besar. Namun, jika ini memberatkan Anda, maka Anda bisa mencoba untuk bernegosiasi.

Ada beberapa hal lain juga yang bisa Anda negosiasikan, misalnya harga barang, syarat dan ketentuan pembayaran, biaya pengiriman, atau kemasan produk. Negosiasi dengan supplier dapat membantu pemilik bisnis grosir untuk mengurangi biaya operasional serta meningkatkan profit.

3. Proses pemenuhan order yang tidak efisien

Pembeli Anda juga memiliki kepentingan untuk memenuhi permintaan pelanggan mereka. Tentunya mereka ingin agar barang yang mereka pesan dapat sampai lebih cepat. Anda harus bisa memfasilitasi hal tersebut, agar pembeli Anda tidak berpindah ke wholesaler atau distributor lain. Apalagi, saat ini sudah banyak pemilik bisnis retail yang memilih untuk memesan barang langsung dari pabrik.

Untuk menghindari disintermediasi, maka Anda perlu mengoptimalkan proses pemenuhan order Anda. Berikut ini adalah strategi langkah yang bisa Anda lakukan:

  • Kurangi lead time atau jangka waktu antara pesanan pembeli dan pengiriman produk
  • Mematok jumlah atau harga minimal pembelian yang tidak terlalu tinggi
  • Memudahkan pembeli untuk melakukan pemesanan dengan mengizinkan mereka untuk membeli dan membayar secara online

4. Tidak melakukan follow up setelah penjualan

Dulu Anda mungkin melakukan pitching ke toko-toko retail yang Anda tuju dengan sangat gencar. Anda mungkin rajin menelepon dan mengirimi mereka email demi memastikan agar mereka memutuskan untuk membeli produk Anda. Bagaimana dengan sekarang, apakah Anda masih rajin menghubungi mereka?

Follow up setelah penjualan sangat penting dilakukan agar pembeli selalu kembali lagi pada Anda. Ini juga menunjukkan kepedulian Anda kepada pelanggan Anda. Ucapkan terima kasih dan tanyakan kesan yang mereka dapatkan setelah membeli produk Anda melalui email yang dipersonalisasi. Lakukan ini segera setelah barang Anda sampai di tangan pembeli dan kontak mereka secara rutin misalnya setiap tiga bulan sekali.

  • 5. Lebih fokus pada harga ketimbang layanan

Zaman telah berubah. Dulu kompetisi harga memang terbilang efektif. Tetapi untuk sekarang, metode ini sudah tidak memberikan banyak manfaat. Menjual produk dengan harga rendah hanya akan menimbulkan persepsi tentang kualitas produk yang rendah. Ini juga bisa menjauhkan bisnis Anda dari keuntungan.

Daripada menurunkan harga produk, lebih baik Anda fokus meningkatkan layanan Anda. Tingkatkan pengalaman pembelian untuk pelanggan Anda, misalnya dengan menyediakan pemesanan online melalui situs web atau media sosial.

6. Melakukan seluruh proses bisnis grosir secara manual

Persaingan dalam industri grosir semakin tinggi. Anda harus menemukan cara untuk bisa mengungguli kompetitor Anda. Ini akan sulit dilakukan jika Anda masih melakukan aktivitas bisnis dengan cara kuno.

Melakukan pekerjaan secara manual membutuhkan banyak waktu dan tenaga sehingga ini menjauhkan bisnis Anda dari efisiensi. Selain itu, pembeli saat ini juga mencari penjual yang dapat memenuhi permintaan mereka dengan lebih cepat. Semua itu bisa diwujudkan jika Anda menggunakan solusi otomatis seperti sistem ERP. Sistem ini membantu Anda mengotomatiskan berbagai aktivitas bisnis seperti pengecekan stok, pembelian ke supplier, pemantauan pengiriman barang, pembuatan faktur, pembuatan laporan keuangan, dan masih banyak lagi.

Untuk membantu Anda memahami sistem ERP dengan lebih baik, silakan baca artikel berikut ini:

Apa Itu ERP Software dan Apa Kegunaannya bagi Bisnis Anda?