CNBC Awards

Perkuat Asset Management Strategy untuk Aset yang Lebih Rapi

Diterbitkan:

Asset management strategy merupakan kerangka kerja yang membantu perusahaan mengelola aset secara terarah dan konsisten. Aset ditempatkan sebagai bagian penting dalam mendukung kinerja dan keberlanjutan bisnis.

Melalui strategi ini, perusahaan dapat menyelaraskan penggunaan aset dengan prioritas operasional dan perencanaan jangka panjang. Pendekatan ini mendorong pengelolaan aset yang lebih terukur dan berbasis informasi.

Seiring berkembangnya organisasi, kebutuhan terhadap transparansi dan koordinasi aset semakin meningkat. Asset management strategy membantu menjaga keteraturan pengelolaan aset tanpa mengganggu aktivitas bisnis.

Key Takeaways

  • Asset management strategy adalah pendekatan sistematis untuk mengelola aset sepanjang siklus hidupnya secara paling hemat biaya.
  • Ada beberapa tahapan siklus hidup aset yaitu perencanaan, akuisisi dan pengadaan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pelepasan.
  • Perusahaan dapat melakukan strategi pemeliharaan seperti preventive maintenance, predictive maintenance, dan reliability-centered maintenance.

Daftar Isi:

    Daftar Isi

      Memahami Strategi Manajemen Aset

      Asset management strategy adalah pendekatan sistematis untuk mengembangkan, mengoperasikan, memelihara, meningkatkan, dan membuang aset dengan cara yang paling hemat biaya.

      Ini bertujuan untuk mencapai tingkat layanan yang diinginkan secara berkelanjutan dengan risiko yang dapat dikelola. Relevansi strategi ini semakin meningkat seiring dengan kompleksitas operasional perusahaan.

      Tanpa strategi yang jelas, perusahaan rentan terhadap risiko ghost assets atau aset hantu, yaitu aset yang tercatat di buku besar tetapi secara fisik sudah tidak ada atau tidak dapat digunakan.

      Keberadaannya dapat mendistorsi laporan keuangan dan menyebabkan perusahaan membayar pajak atau asuransi untuk barang yang tidak memberikan nilai tambah.

      Cara Kerja Siklus Hidup Aset dalam Operasional Perusahaan

      Mengelola siklus ini dengan buruk akan mengakibatkan pembengkakan biaya operasional dan penurunan produktivitas. Berikut adalah tahapan kritis dalam siklus hidup aset:

      1. Perencanaan dan identifikasi kebutuhan

      Perusahaan menilai apakah aset baru benar-benar diperlukan atau aset yang ada masih bisa dioptimalkan, dengan melihat beban kerja dan dampaknya ke target bisnis.

      2. Akuisisi dan pengadaan

      Aset diperoleh lewat opsi yang paling cocok dengan likuiditas, seperti beli tunai, kredit, atau sewa guna usaha, terutama untuk aset yang cepat terdepresiasi.

      3. Operasi dan pemanfaatan

      Aset digunakan untuk operasional harian dan perlu dipantau utilisasinya agar tidak terlalu menganggur atau dipaksa bekerja berlebihan.

      4. Pemeliharaan dan perbaikan

      Fokusnya pencegahan agar performa tetap stabil dan downtime tidak terencana bisa ditekan, sehingga operasional tetap lancar.

      5. Penghapusan dan pelepasan (disposal)

      Saat biaya perawatan tidak lagi sebanding, aset dilepas melalui jual, daur ulang, atau pemusnahan, dengan pencatatan yang tetap rapi.

      Strategi Optimasi Finansial dan Akuntansi Aset

      Aspek finansial dalam manajemen aset penting untuk menjaga neraca perusahaan tetap sehat dan keputusan investasi lebih terukur. Karena itu, pengelolaan aset perlu selaras dengan tim keuangan, termasuk memilih metode depresiasi yang tepat agar pajak dan laba bersih tercatat sesuai kondisi bisnis.

      Di sisi lain, nilai pasar aset jangka panjang bisa berubah dan nilai buku tidak selalu mencerminkan nilai wajar setelah beberapa tahun. Karena itu, penilaian kembali aset perlu dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan nilai tercatat dengan kondisi pasar dan memberi gambaran yang lebih realistis bagi pemangku kepentingan.

      Selain depresiasi dan nilai pasar, Total Cost of Ownership (TCO) membantu melihat biaya aset secara menyeluruh, bukan hanya harga beli. TCO mencakup instalasi, energi, pemeliharaan, pelatihan, hingga pembuangan, sehingga perusahaan bisa memilih aset yang lebih efisien dalam jangka panjang.

      Strategi Pemeliharaan: Dari Reaktif ke Prediktif

      strategi pemeliharaan dari reaktif ke prediktif

      Model lama yang bersifat reaktif, di mana perbaikan baru dilakukan setelah aset rusak, kini dianggap tidak efisien dan berisiko tinggi. Strategi modern lebih mengedepankan pendekatan proaktif untuk menjamin keberlangsungan operasional.

      1. Preventive maintenance (pemeliharaan preventif)

      Preventive Maintenance adalah pemeliharaan terjadwal seperti inspeksi, pelumasan, atau penggantian suku cadang pada interval tertentu, namun berisiko over-maintenance yang membuat biaya tenaga kerja dan suku cadang membengkak.

      2. Predictive maintenance (pemeliharaan prediktif)

      Predictive maintenance memakai data sensor IoT untuk memprediksi potensi kerusakan dari pola seperti suhu atau getaran abnormal. Hasilnya, perbaikan dilakukan tepat waktu saat dibutuhkan sehingga usia pakai komponen lebih optimal.

      3. Reliability-Centered Maintenance (RCM)

      RCM adalah proses untuk memastikan aset fisik tetap berfungsi sesuai kebutuhan operasional saat ini, terutama pada peralatan berat dan mesin yang kompleks. Pendekatan ini mengklasifikasikan aset berdasarkan tingkat kekritisannya, lalu menetapkan strategi pemeliharaan yang paling sesuai untuk tiap kategori.

      Manajemen Risiko dan Kepatuhan Regulasi

      Aset perusahaan memiliki risiko seperti pencurian, kerusakan bencana, kegagalan teknis, hingga risiko hukum akibat ketidakpatuhan. Karena itu, strategi manajemen aset perlu mencakup kontrol keamanan fisik dan digital, seperti akses terkontrol, CCTV, dan GPS untuk aset bernilai tinggi.

      Dari sisi kepatuhan, banyak industri mewajibkan pengelolaan peralatan yang terdokumentasi, misalnya kalibrasi rutin untuk memenuhi standar ISO atau BPOM. Sistem manajemen aset digital memusatkan riwayat pemeliharaan, sertifikat, dan dokumen penting agar mudah ditelusuri saat audit dan proses operasional tetap aman.

      Expert's Review

      “Strategi aset yang matang membuat perusahaan tahu kapan harus merawat, kapan meng-upgrade, dan kapan melepas aset tanpa mengganggu operasional.”

      — Anandia Denisha, MBA, Regional Manager

      Adaptasi Strategi untuk Kebutuhan Tiap Industri

      Meskipun prinsip dasarnya sama, penerapan strategi manajemen aset dapat bervariasi tergantung pada karakteristik industri. Penyesuaian strategi ini penting untuk menjawab tantangan unik yang dihadapi oleh setiap sektor.

      1. Sektor manufaktur

      Fokusnya menjaga ketersediaan mesin karena downtime langsung menurunkan output produksi. Strategi biasanya menekankan predictive maintenance dan pengelolaan suku cadang (MRO) agar komponen kritis siap tanpa menumpuk stok.

      2. Sektor konstruksi dan alat berat

      Tantangan utamanya mobilitas aset karena alat berat sering berpindah antar proyek. Strategi berfokus pada pelacakan GPS, pemantauan bahan bakar, dan jadwal pemeliharaan berbasis jam kerja mesin (engine hours).

      3. Sektor ritel dan distribusi

      Aset mencakup peralatan toko dan armada pengiriman yang harus selalu siap agar layanan tetap lancar. Strategi menekankan pemeliharaan fasilitas dan manajemen armada, dengan kecepatan respons perbaikan sebagai KPI penting.

      Langkah Sistematis untuk Implementasi Strategi Perancanaan Aset

      Mengubah cara perusahaan mengelola aset perlu pendekatan terstruktur agar diterima lintas tim dan hasilnya konsisten. Fokusnya bukan perubahan cepat, tetapi perbaikan yang berkelanjutan.

      Mulailah dengan audit kondisi saat ini: data seluruh aset, verifikasi lokasi dan kondisinya, lalu cek ulang proses pencatatan. Tahap ini biasanya langsung menunjukkan titik boros dan celah kontrol.

      Berikutnya, bentuk tim khusus atau tunjuk manajer aset agar ownership jelas dan eksekusi tidak berhenti di tengah jalan. Tim ini menyusun SOP baru, mulai dari permintaan aset, peminjaman, hingga pelaporan kerusakan.

      Lanjutkan dengan memilih teknologi yang sesuai, skalabel, dan mudah digunakan agar adopsi lapangan tidak tersendat. Setelah itu, lakukan pelatihan terarah supaya proses baru berjalan konsisten.

      Terakhir, lakukan evaluasi rutin dengan KPI seperti ketersediaan aset, biaya pemeliharaan per unit, dan akurasi inventaris. Gunakan data tersebut untuk menyempurnakan strategi dari waktu ke waktu.

      Titik Rawan Asset Management Strategy dan Cara Mengatasinya

      Bahkan dengan niat terbaik dan teknologi terkini, proyek manajemen aset sering kali gagal mencapai potensi maksimalnya karena beberapa kesalahan mendasar. Mengidentifikasi jebakan ini sejak dini adalah kunci keberhasilan implementasi.

      1. Silo data antara keuangan dan operasional

      Silo data terjadi saat data aset di keuangan (nilai buku) tidak sinkron dengan kondisi aset di operasional, sehingga aset yang sudah rusak atau dibuang masih tercatat dan memicu biaya seperti pajak yang tidak perlu.

      Mitigasinya gunakan sistem terpusat/ERP yang mengintegrasikan Fixed Asset, Maintenance, dan Procurement, lalu lakukan rekonsiliasi rutin lintas tim (misalnya per kuartal) untuk memastikan status fisik dan finansial aset selaras.

      2. Resistensi pengguna di lapangan

      Resistensi pengguna lapangan muncul saat teknisi merasa input digital menambah kerja dibanding cara manual, sehingga data di sistem jadi tidak lengkap atau terlambat.

      Oleh karena itu, solusinya adalah pilih aplikasi yang user-friendly (terutama mobile), libatkan teknisi saat uji coba, dan buktikan manfaat praktis seperti akses riwayat perbaikan lewat scan barcode agar diagnosis lebih cepat.

      3. Terjebak dalam “over-maintenance”

      Over-maintenance terjadi saat aset dengan risiko rendah atau jarang dipakai tetap diservis terlalu sering, sehingga anggaran terbuang. Untuk mengatasi hasl itu, perusahaan dapat menerapkan Risk-Based Maintenance (RBM) dengan mengelompokkan aset berdasarkan kritikalitas.

      Kesimpulan

      Strategi manajemen aset yang cerdas adalah elemen fundamental bagi perusahaan yang ingin bertahan dan berkembang di era industri modern.

      Dengan beralih dari pendekatan manual dan reaktif menuju pendekatan digital, terintegrasi, dan proaktif, perusahaan dapat membuka potensi nilai yang tersembunyi dalam aset mereka.

      Hal ini berdampak langsung pada efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, dan kepatuhan terhadap regulasi yang lebih baik. Perusahaandapat memastikan bahwa infrastruktur fisik mereka menjadi pendorong pertumbuhan yang kuat.

      AssetManagement

      Pertanyaan Seputar Asset Management Strategy

      • Apa perbedaan antara manajemen aset fisik dan manajemen aset finansial?

        Manajemen aset fisik berfokus pada pemeliharaan, operasi, dan siklus hidup barang berwujud seperti mesin dan gedung untuk memastikan kinerja optimal. Sementara itu, manajemen aset finansial lebih berfokus pada pengelolaan nilai investasi, saham, obligasi, dan strategi alokasi modal untuk memaksimalkan keuntungan portofolio.

      • Bagaimana IoT meningkatkan strategi manajemen aset?

        IoT (Internet of Things) memungkinkan aset untuk ‘berkomunikasi’ dengan sistem pusat melalui sensor. Hal ini memungkinkan pemantauan kondisi secara real-time (seperti suhu atau getaran), pelacakan lokasi GPS yang presisi, dan memungkinkan penerapan strategi pemeliharaan prediktif untuk mencegah kerusakan sebelum terjadi.

      • Apa indikator utama keberhasilan implementasi strategi manajemen aset?

        Indikator keberhasilan meliputi penurunan biaya pemeliharaan, peningkatan uptime atau ketersediaan aset, akurasi data inventaris yang mendekati 100%, perpanjangan usia pakai aset, dan efisiensi dalam proses audit serta pelaporan kepatuhan.

      Ana Kristiani

      Content Writer

      Ana adalah asset management specialist dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di bidang manajemen aset dan keuangan perusahaan. Fokus menulis tentang manajemen siklus hidup aset, inventarisasi dan pelacakan aset, dan integrasi sistem digital untuk monitoring aset, sehingga membantu bisnis mencapai kinerja maksimal.

      Anandia adalah seorang praktisi dengan gelar Master of Business Administration dari Universitas Bina Nusantara, serta memiliki kemampuan kuat dalam strategi bisnis dan manajemen pemasaran. Pengalaman lebih dari lima tahun di bidang marketing telah membentuk keahliannya dalam pengembangan strategi pemasaran, analisis pasar, dan pengelolaan tim lintas wilayah. Perjalanan karirnya di industri teknologi dan software enterprise memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan pelanggan B2B, mengelola kampanye pemasaran digital, serta mengoptimalkan performa tim untuk mencapai target pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.



      HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


      TINGGALKAN KOMENTAR

      Silakan masukkan komentar anda!
      Silakan masukkan nama Anda di sini

      Nadia

      Nadia
      Balasan dalam 1 menit

      Nadia
      Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

      Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
      6281222846776
      ×

      Chapter Selanjutnya