Penambahan SKU sering dianggap sebagai strategi untuk memperluas pasar. Namun, dalam banyak bisnis retail dan distribusi, jumlah SKU yang terus bertambah justru menciptakan masalah baru di gudang dan keuangan perusahaan.
Tanpa evaluasi berkala, SKU yang kurang produktif tetap disimpan karena masih tercatat sebagai aset persediaan. Akibatnya, gudang dipenuhi stok slow-moving, biaya penyimpanan meningkat, dan modal kerja tertahan lebih lama.
SKU rationalization menjadi pendekatan untuk menata ulang katalog produk secara terukur. Tujuannya bukan sekadar mengurangi jumlah SKU, tetapi memastikan setiap produk yang disimpan memiliki kontribusi yang sepadan terhadap profitabilitas dan efisiensi operasional.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Memahami SKU Rationalization dalam Pengelolaan Produk
SKU rationalization adalah proses evaluasi sistematis terhadap seluruh SKU untuk menentukan produk mana yang perlu dipertahankan, dioptimalkan, atau dihentikan. Evaluasi ini dilakukan dengan membandingkan performa penjualan, margin, serta biaya penyimpanan masing-masing SKU.
Dalam praktiknya, banyak SKU masih terjual tetapi tidak lagi sehat secara bisnis. Margin yang tipis, perputaran lambat, dan biaya penyimpanan yang tinggi membuat SKU tersebut menjadi beban operasional meskipun tidak terlihat secara langsung.
Melalui rasionalisasi, bisnis dapat membangun portofolio produk yang lebih terkendali dan selaras dengan kondisi pasar serta kapasitas operasional gudang.
Alasan SKU Rationalization Mulai Dibutuhkan oleh Banyak Bisnis
Kebutuhan SKU rationalization biasanya muncul dari kombinasi masalah operasional dan keuangan. Biaya gudang meningkat dari tahun ke tahun, sementara inventory turnover cenderung menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa modal kerja semakin lama tertahan dalam bentuk persediaan.
Di sisi operasional, terlalu banyak SKU meningkatkan kompleksitas proses picking dan penyimpanan. Waktu pemenuhan pesanan menjadi lebih lama, risiko salah kirim meningkat, dan produktivitas tim gudang menurun.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menekan margin bersih meskipun penjualan terlihat stabil. SKU rationalization membantu bisnis menghentikan kebocoran margin dan mengarahkan sumber daya ke produk yang benar-benar bernilai.
Pendekatan Data dalam SKU Rationalization
Agar keputusan tidak bersifat subjektif, SKU rationalization perlu dilakukan berbasis data. Data penjualan historis, margin, dan umur stok menjadi dasar utama evaluasi.
Salah satu metode yang umum digunakan adalah analisis ABC dalam pengelompokan SKU berdasarkan kontribusi nilai penjualan, yang membagi item persediaan sesuai dampaknya terhadap revenue perusahaan:
| Kategori | Karakteristik |
| A | Kontributor utama revenue |
| B | Kontributor menengah |
| C | Kontributor rendah |
Selain itu, SKU juga dapat dipetakan ke dalam matriks profitabilitas untuk menentukan arah keputusan:
| Kondisi SKU | Arah Tindakan |
| Margin & volume tinggi | Dipertahankan |
| Margin tinggi, volume rendah | Dioptimalkan |
| Margin rendah, volume tinggi | Diefisienkan |
| Margin & volume rendah | Dipertimbangkan untuk phase-out |
Pendekatan ini membantu bisnis memprioritaskan SKU yang benar-benar berdampak.
Strategi Phase-Out SKU yang Lebih Terkendali
Penghentian SKU tidak sebaiknya dilakukan secara langsung. Tanpa perencanaan, phase-out yang terlalu agresif dapat menyebabkan kerugian write-off dan gangguan pada pelanggan.
Strategi umum yang digunakan meliputi diskon bertahap untuk menghabiskan stok, bundling dengan produk fast-moving, atau penyaluran ke channel alternatif. Pendekatan ini membantu memaksimalkan nilai sisa stok tanpa merusak persepsi harga.
Dalam praktiknya, timeline phase-out berkisar antara 3–6 bulan, tergantung karakter produk dan kondisi permintaan pasar.
Benchmark Jumlah SKU dalam Praktik Bisnis
Sebelum menilai apakah jumlah SKU sudah terlalu gemuk atau masih ideal, bisnis perlu memahami praktik umum di industrinya. Benchmark berikut membantu memetakan posisi katalog produk secara lebih objektif.
Pertimbangan Akuntansi dan Regulasi di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, SKU rationalization perlu memperhatikan ketentuan PSAK 14 terkait penilaian persediaan, yang mengatur pengukuran stok berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih. Persediaan yang mengalami penurunan nilai wajib diakui secara akuntansi sesuai standar tersebut.
Selain itu, penghapusan atau donasi persediaan memiliki implikasi perpajakan dan memerlukan dokumentasi yang memadai. Untuk industri makanan dan farmasi, ketentuan BPOM terkait produk expired juga perlu diperhitungkan dalam analisis biaya per SKU.
Kesimpulan
SKU rationalization merupakan proses berkelanjutan yang membantu bisnis menjaga fokus pada produk dengan kontribusi nilai tertinggi. Dengan mengurangi SKU yang tidak produktif, perusahaan dapat menekan beban operasional dan meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan.
Evaluasi inventaris secara rutin memungkinkan keputusan alokasi sumber daya yang lebih akurat dan berbasis data. Pendekatan ini membantu bisnis merespons perubahan permintaan pasar tanpa terjebak dalam kompleksitas stok yang berlebihan.
Katalog produk yang lebih ramping memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap performa setiap SKU, menurunkan risiko stok mati, dan menciptakan fondasi yang lebih sehat bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Pertanyaan Seputar SKU Rationalization
-
Apa perbedaan SKU Rationalization dan Inventory Management?
Inventory management adalah pengelolaan stok harian, sedangkan SKU rationalization adalah analisis strategis untuk menghapus produk yang tidak menguntungkan.
-
Seberapa sering perusahaan harus melakukan SKU Rationalization?
Disarankan melakukan evaluasi minimal setahun sekali atau setiap kuartal untuk industri yang bergerak cepat seperti retail fashion.
-
Apa kriteria utama menghapus SKU dari katalog?
Kriteria utamanya meliputi profitabilitas rendah, volume penjualan kecil, biaya penyimpanan tinggi, dan tingkat retur yang tinggi.








