Pernah bertanya kenapa proses pengadaan di satu perusahaan bisa cepat dan rapi, sementara di tempat lain terasa panjang dan berulang? Perbedaannya sering ada pada strategi, alur kerja, dan cara prosesnya dijalankan.
Saat kebutuhan makin beragam dan vendor makin banyak, pengadaan perlu pola yang konsisten agar keputusan tetap cepat dan terukur. Di titik ini, otomatisasi membantu memangkas langkah yang repetitif tanpa mengorbankan kontrol.
Procurement life cycle menggambarkan rangkaian proses pengadaan dari awal hingga akhir, mulai dari identifikasi kebutuhan sampai pembayaran dan evaluasi pemasok. Pemahaman alur ini dapat membantu organisasi menyusun prioritas dan meningkatkan efisiensi proses.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Memahami Procurement Life Cycle
Procurement life cycle adalah kerangka kerja yang menyeluruh untuk mengelola semua tahap pengadaan barang dan jasa dalam perusahaan. Mulai dari identifikasi kebutuhan, pemilihan dan evaluasi vendor, proses pembelian hingga pembayaran.
Siklus ini memastikan pengeluaran perusahaan lebih efisien, terkontrol, dan selaras dengan tujuan strategis jangka panjang. Dengan pendekatan ini, fungsi pengadaan tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga menjadi pilar penting dalam pengambilan keputusan bisnis yang berbasis data.
7 Tahapan Krusial dalam Procurement Life Cycle

1. Identifikasi kebutuhan (needs identification)
Tahap pertama ini dimulai saat sebuah departemen menyadari kebutuhan akan barang atau jasa untuk operasional. Kebutuhan ini harus didefinisikan secara jelas, mencakup spesifikasi teknis, jumlah, dan kualitas yang diharapkan.
2. Pembuatan permintaan pembelian (purchase requisition creation)
Setelah kebutuhan divalidasi, langkah selanjutnya adalah membuat dokumen formal berupa permintaan pembelian atau purchase requisition. Dokumen ini dibuat oleh departemen terkait dan dikirim ke tim pengadaan untuk ditinjau dan disetujui.
Informasi rinci seperti deskripsi barang, kuantitas, dan estimasi harga memastikan adanya jejak audit yang jelas.
3. Pencarian dan seleksi vendor (vendor sourcing and selection)
Setelah permintaan disetujui, tim pengadaan bertanggung jawab mencari dan menyeleksi pemasok yang paling sesuai. Proses ini melibatkan pengiriman Request for Quotation (RFQ) untuk mendapatkan penawaran harga dan detail layanan.
Vendor kemudian dievaluasi berdasarkan kriteria seperti harga, kualitas, reputasi, dan waktu pengiriman untuk mendapatkan nilai terbaik.
4. Negosiasi dan manajemen kontrak
Setelah vendor potensial terpilih, tahap negosiasi dimulai untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Negosiasi mencakup harga, syarat pembayaran, jadwal pengiriman, dan Service Level Agreement (SLA).
Hasilnya dituangkan dalam sebuah kontrak formal yang mengikat secara hukum sebagai acuan utama hubungan kerja.
5. Pembuatan pesanan pembelian (purchase order creation)
Setelah kontrak disepakati, tim pengadaan menerbitkan Pesanan Pembelian atau Purchase Order (PO) kepada vendor. PO adalah dokumen komersial resmi yang mengonfirmasi detail pesanan seperti jenis produk, kuantitas, dan harga.
6. Penerimaan barang/jasa dan faktur
Saat vendor mengirimkan barang, tim internal akan melakukan proses penerimaan untuk memverifikasi kesesuaian dengan PO. Proses ini mencakup pemeriksaan kuantitas dan kualitas untuk memastikan tidak ada ketidaksesuaian.
Setelah itu, vendor akan mengirimkan faktur yang akan dicocokkan dengan PO dan dokumen penerimaan dalam proses three-way matching.
7. Pembayaran dan manajemen relasi vendor
Tahap terakhir adalah pembayaran oleh departemen keuangan sesuai syarat yang disepakati dalam kontrak. Setelah pembayaran selesai, semua dokumen terkait diarsipkan untuk keperluan audit dan pelaporan.
Isu yang Sering Muncul dalam Procurement Life Cycle
Meskipun procurement life cycle menyediakan kerangka kerja yang terstruktur, pelaksanaannya sering menghadapi kendala. Hal ini menjadi semakin relevan karena Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 menekankan bahwa proses pengadaan harus dilakukan secara transparan dan akuntabel di seluruh tahapan pengadaan.
Berikut ada beberapa tantangan dalam pengelolaan procurement life cycle:
1. Kurangnya visibilitas dan transparansi
Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya visibilitas menyeluruh terhadap seluruh aktivitas pengadaan. Ketika data tersebar di berbagai spreadsheet dan email, manajemen kesulitan mendapatkan gambaran utuh tentang pengeluaran.
Hal ini menghambat analisis pengeluaran yang akurat, sehingga peluang konsolidasi pembelian dan negosiasi harga sering terlewatkan.
2. Proses manual yang lambat dan rentan error
Ketergantungan pada proses manual menjadi sumber utama inefisiensi dan risiko dalam siklus pengadaan. Proses manual tidak hanya memakan waktu lama, tetapi juga sangat rentan terhadap kesalahan manusia seperti salah ketik atau kehilangan dokumen.
3. Manajemen vendor yang tidak efektif
Mengelola hubungan dengan ratusan vendor adalah tugas yang kompleks dan seringkali tidak efektif tanpa sistem terpusat. Proses evaluasi dan pemilihan vendor menjadi subjektif dan tidak didasarkan pada data kinerja yang solid.
Akibatnya, perusahaan dapat kehilangan daya tawar untuk negosiasi di masa depan dan gagal membangun kemitraan strategis yang kuat.
4. Risiko kepatuhan dan maverick spending
Maverick spending, atau pembelian di luar prosedur yang disetujui, adalah masalah serius yang mengikis potensi penghematan. Ini sering terjadi ketika proses pengadaan formal terlalu rumit, sehingga karyawan mencari jalan pintas. Pembelian di luar kontrak ini dapat membuka celah terhadap risiko penipuan.
Procurement Life Cycle yang Optimal untuk Kinerja Bisnis

Dengan memahami manfaat pengelolaan procurement life cycle secara optimal, perusahaan dapat mengubah fungsi pengadaan menjadi pusat nilai yang mendukung efisiensi, profitabilitas, dan keunggulan kompetitif. Berikut manfaat utamanya:
- Keuangan: Mengurangi biaya melalui negosiasi yang lebih baik dan pengendalian pembelian tak terencana, sehingga meningkatkan profitabilitas.
- Operasional: Otomatisasi proses membebaskan tim pengadaan untuk fokus pada kegiatan strategis seperti analisis tren pasar dan perencanaan kebutuhan.
- Strategis: Memperkuat hubungan dengan pemasok kunci untuk mendorong inovasi, stabilitas rantai pasok, dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Optimalisasi procurement life cycle tidak hanya meningkatkan efisiensi saat ini, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang.
KPI untuk Mengukur Keberhasilan Procurement Life Cycle
Untuk memastikan procurement life cycle berjalan optimal, perusahaan perlu menggunakan Key Performance Indicators (KPI) sebagai alat ukur yang objektif. Di bawah ini adalah penjelasan detail mengenai KPI procurement life cycle:
1. Penghematan biaya (cost savings)
Ini adalah KPI paling fundamental yang mengukur selisih antara harga yang dinegosiasikan dengan anggaran awal. KPI ini secara langsung menunjukkan kemampuan tim dalam melakukan negosiasi yang efektif tanpa mengorbankan kualitas.
Pelacakan penghematan biaya membuktikan nilai finansial dari fungsi pengadaan dan mendorong tim untuk terus mencari efisiensi.
2. Waktu siklus pengadaan (procurement cycle time)
KPI ini mengukur total waktu dari permintaan pembelian dibuat hingga pesanan diterima dan dibayar. Waktu siklus yang lebih pendek menunjukkan proses yang lebih efisien dan alur persetujuan yang lancar.
3. Kinerja vendor (vendor performance)
Mengukur kinerja vendor sangat penting untuk memastikan kualitas dan keandalan rantai pasok Anda. KPI ini mencakup metrik seperti tingkat ketepatan waktu pengiriman dan tingkat kecacatan produk. Perusahaan dapat membuat keputusan berbasis data saat memperbarui kontrak atau memilih vendor.
4. Pengeluaran di bawah manajemen (spend under management)
KPI ini mengukur persentase total pengeluaran yang melalui proses pengadaan formal. Angka yang tinggi menunjukkan tingkat kepatuhan yang baik dan minimnya maverick spending, memaksimalkan daya tawar perusahaan.
Sebaliknya, angka yang rendah menandakan adanya pembelian di luar kendali yang perlu segera ditangani.
Kesimpulan
Procurement life cycle adalah kerangka strategis yang penting untuk efisiensi operasional dan kesehatan finansial bisnis. Dengan memahami tahapannya, mengelola tantangan, dan memantau KPI, pengadaan dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif.
Di era digital, proses manual tidak lagi cukup. Otomatisasi melalui software pengadaan yang terintegrasi dapat membantu tim bekerja lebih efisien dan memperkuat hubungan dengan vendor. Anda juga dapat menjadwalkan sesi konsultasi gratis untuk membantu Anda merasakan manfaatnya secara langsung.
Pertanyaan Seputar Procurement Life Cycle
-
Apa perbedaan antara procurement dan purchasing?
Purchasing adalah bagian dari procurement yang berfokus pada tindakan membeli barang atau jasa. Sementara itu, procurement adalah proses strategis yang lebih luas, mencakup identifikasi kebutuhan, sourcing, negosiasi, hingga manajemen kontrak dan relasi vendor.
-
Apa tujuan utama dari procurement?
Tujuan utamanya adalah memperoleh barang dan jasa berkualitas dengan harga terbaik, pada waktu yang tepat, dan dari sumber yang andal. Proses ini juga bertujuan untuk memitigasi risiko, memastikan kepatuhan, dan mendukung tujuan strategis perusahaan secara keseluruhan.
-
Apa saja 3 tipe utama procurement?
Tiga tipe utama procurement adalah pengadaan langsung (direct procurement) untuk bahan baku produksi, pengadaan tidak langsung (indirect procurement) untuk barang operasional seperti ATK, dan pengadaan jasa (services procurement) untuk layanan seperti konsultasi atau pemeliharaan.




