Langkah-Langkah Manajemen Resiko di Perusahaan

Dias Marendra
manajemen resiko

Ada banyak sekali buku dan dokumen yang menjelaskan pentingnya sebuah perusahaan menjalankan manajemen resiko. Dalam buku-buku itu dijelaskan bahwa manajemen resiko berguna sebagai pencegahan sebelum terjadinya bencana yang menimpa perusahaan Anda.

Bencana yang dimaksud bukanlah bencana alam seperti banjir atau gempa bumi. Yang kami maksud adalah gagalnya pengerjaan proyek dan perusahaan berujung merugi dan terpaksa gulung tikar pada akhirnya. Manajemen resiko yang baik akan menghindarkan Anda dari kejadian-kejadian tersebut.

Dalam pengertiannya, manajemen resiko adalah memikirkan kejadian terburuk apa yang mungkin menimpa perusahaan, berapa besar kemungkinannya, dan mengambil tindakan preventif sebelum hal itu terjadi.

manajemen resiko

Menurut Warren Buffet, resiko akan menghampiri saat Anda mengabaikannya. Tak mengapa untuk memikirkan potensi resiko terburuk selama Anda memikirkan usaha yang bisa dilakukan untuk menghindarinya.

Pada kenyataannya, manajemen resiko tidaklah serumit yang dibayangkan. Yang penting prosesnya harus melibatkan seluruh aspek perusahaan Anda dan duduk bersama untuk membahasnya. Nah, berikut ini 5 proses yang harus dijalankan dalam manajemen resiko.

Pikirkan kemungkinan terburuk apa yang mungkin terjadi

Buat daftar kemungkinan terburuk apa saja yang bisa menimpa proyek, atau mengganggu jalannya perusahaan. Bertukar pikiran (brainstorming) dengan manajemen perusahaan adalah cara yang tepat untuk mencari tahu kemungkinan apa yang bisa terjadi.

Dengan membuat daftar seperti ini, Anda bisa melihat kemungkinan buruk mana saja yang bisa saling tumpang tindih. Dengan demikian Anda bisa menghindari dua hal buruk yang bisa menimpa perusahaan sekaligus, yang sudah pasti sangat merugikan perusahaan Anda.

Perkirakan kapan kemungkinan ini bakal terjadi

Setelah semua resiko dibuatkan daftarnya, beri tanggal kapan kiranya resiko tersebut bakal terjadi. Mengetahui hal ini adalah langkah penting untuk mempersiapkan diri agar jangan sampai resiko benar-benar terjadi.

Cara ini memungkinkan Anda untuk memberikan prioritas pada resiko yang mungkin terjadi lebih dulu. Anda juga bisa memberi tanda pada resiko yang tak mungkin lagi terjadi karena mitigasi untuk resiko tersebut sudah terlebih dahulu dilakukan.

Ukur dampak resikonya

Langkah selanjutnya adalah mengukur dampak dari masing-masing resiko. Ada dua hal yang harus diukur, yakni berapa besar kemungkinan resiko itu akan terjadi, dan seberapa besar dampak dari resiko tersebut, lalu berikan skor masing-masing.

Sebagai contoh, kita berikan rentang skor dari 1 sampai 5 untuk kedua hal yang harus diukur di atas. Setelah itu kita kalikan kedua hal tersebut untuk mendapatkan rating dari setiap resiko. Untuk mudahnya, mari kita lihat tabel di bawah ini:

manajemen resiko

Dari tabel di atas kita bisa melihat bahwa Resiko A kemungkinan terjadinya kecil sekali, meski dampaknya cukup besar terhadap perusahaan. Maka dari itu resiko A mendapat rating 4, yang mana mendapat prioritas yang rendah. Sementara Resiko B tinggi sekali kemungkinannya untuk terjadi dan berdampak pada mandeknya kelangsungan proyek atau bisnis Anda. Maka dari itu Resiko B perlu mendapatkan prioritas yang lebih tinggi.

Mengenai rentang resiko, Anda bisa menentukan sendiri. Misalnya dari 1 sampai 10 dikategorikan “tak mengkhawatirkan”, 11 sampai 18 terbilang “perlu diwaspadai”, dan 19 sampai 25 masuk dalam taraf “berbahaya” dan harus diprioritaskan mitigasinya.

Tentukan langkah mitigasi

Ada 4 langkah yang bisa dilakukan sebagai mitigasi resiko, yakni acceptanceavoidancelimitationtransference.

  1. Acceptance
    Mitigasi pertama yang bisa dijalankan yakni acceptance atau biarkan saja resiko itu terjadi. Umumnya langkah ini diambil saat resiko tak memiliki dampak yang signifikan atau kecil kemungkinannya untuk terjadi.
  2. Avoidance
    Anda melakukan berbagai macam cara untuk menghindari resiko tersebut menimpa proyek atau perusahaan Anda. Umumnya mitigasi semacam ini butuh investasi yang cukup besar, dan bisa dipertimbangkan jika kemungkinan terjadinya cukup tinggi dan imbasnya cukup besar.
  3. Limitation
    Anda tahu bahwa resiko tersebut pasti terjadi dan imbasnya cukup besar. Opsi ini diambil saat Anda tak bisa menghindarinya, namun sangat mungkin untuk meminimalisir dampak yang diterima perusahaan saat resiko menghampiri.
  4. Transference
    Alih-alih menelan pil pahit resiko, Anda meminta pihak lain yang mau dan mampu menenggaknya tanpa ragu. Mitigasi resiko semacam ini umum dilakukan perusahaan di aspek manajemen penggajian.

Tetapkan pihak yang bertanggung jawab

Meski dalam perumusan manajemen resiko dilakukan secara bersama-sama, namun tak serta merta setiap resiko ditanggung bersama. Harus ada satu penanggung jawab untuk masing-masing resiko. Sang penanggung jawab tersebut harus menjalankan mitigasi yang sudah ditetapkan.

Tak bijak rasanya jika Anda harus membebankan pekerjaan mitigasi pada orang yang tak hadir dalam diskusi ini, karena sudah pasti orang tersebut akan menolak tanggung jawab tersebut mentah-mentah. Berikan pada peserta diskusi karena sudah pasti ia memahami betul mitigasi seperti apa yang harus dilakukan.

Kesimpulan

Manajemen resiko bukanlah hal yang menakutkan dan perlu dihindari. Justru dengan mendiskusikannya bersama dengan karyawan perusahaan, Anda bisa mengambil langkah pencegahan terbaik untuk menangani setiap resiko yang mungkin menghampiri.

Manajemen resiko adalah salah satu bagian dari manajemen proyek di sebuah perusahaan. Adalah penting bagi setiap manajer proyek untuk mengetahui, mengukur, dan memitigasi resiko yang mungkin terjadi selama pelaksanaan proyek.

Baca tips lainnya seputar manajemen proyek dengan mengklik link berikut ini.

Dapatkan

Konsultasi Software ERP

GRATIS via WhatsApp

related articles