Perbedaan Metode LIFO, FIFO, FEFO, dan Average Cost

Kanya Anindita
Perbedaan Metode LIFO, FIFO, FEFO, dan Average Cost

Metode LIFO, FIFO, FEFO, dan Average Cost – Inventaris mewakili sebagian besar dari aset bisnis dagang. Dengan demikian, inventaris merupakan komponen yang sangat penting dalam laporan neraca perusahaan. Inilah mengapa penting bagi pemilik atau manajer bisnis dagang untuk mengetahui nilai inventaris mereka. 

Ada empat cara yang umumnya digunakan oleh pemilik bisnis ritel dan grosir untuk mengatur penjualan dan mengetahui nilai barang persediaan mereka, yaitu metode LIFO, FIFO, FEFO, dan Average Cost. Bagaimana masing-masing metode ini bekerja dan apa yang membedakan keempatnya? Berikut ini penjelasannya secara detail.

Metode FIFO

Perbedaan Metode LIFO, FIFO, FEFO, dan Average CostDalam metode FIFO (First In, First Out), barang yang pertama kali masuk akan dijual atau dikeluarkan terlebih dahulu, sementara barang yang terakhir kali masuk akan dijual atau dikeluarkan di kemudian hari. Metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan dalam penilaian persediaan.

Metode FIFO ini didasarkan pada asumsi bahwa aliran biaya masuk persediaan harus dipertemukan dengan hasil penjualannya. Sebagai akibatnya, biaya per unit persediaan yang masuk terakhir dipakai sebagai dasar penentuan biaya barang yang masih dalam persediaan pada akhir periode (persediaan akhir).

Sebagai contoh, sebuah toko roti menghasilkan 200 roti pada hari Senin dengan harga satuan Rp. 10,000, dan 200 roti lagi pada hari Selasa dengan harga satuan Rp. 15,000. FIFO menyatakan bahwa jika toko roti tersebut menjual 200 roti pada hari Rabu, maka HPP nya (pada laporan laba rugi) adalah Rp. 10,000 per roti, karena ini adalah harga satuan roti pertama dalam persediaan. Roti yang harga satuannya Rp. 15,000 akan dialokasikan untuk mengakhiri persediaan (di neraca).

Baca juga artikel terkait: 6 Cara Terbaik Menjaga Inventaris & Mengelola Tingkat Persediaan

Metode LIFO

Metode LIFO (Last In, First Out) merupakan metode yang berbanding terbalik dengan metode FIFO. Menurut metode ini, barang yang terakhir masuk lah yang akan dikeluarkan atau dijual terlebih dahulu, sementara barang yang pertama kali masuk ke gudang justru akan dikeluarkan atau dijual di kemudian hari. Metode ini bertujuan untuk memudahkan proses penataan barang, baik itu pemasukkan maupun pengambilan barang persediaan. 

Metode LIFO memungkinkan perusahaan untuk dapat menghemat pajak ketika inflasi terjadi, dikarenakan kecilnya laba. Selain itu, laba operasi pada perusahaan tidak akan berpengaruh terhadap laba atau rugi fluktuasi harga yang terjadi. Meskipun demikian, penggunaan metode ini terbilang lebih rumit dibanding metode lainnya dan biaya pembukuannya lebih mahal serta laba/rugi yang dihasilkan lebih rendah. 

Metode LIFO sudah tidak diakui lagi oleh standar akuntansi internasional. Begitupun oleh standar akuntansi yang diterapkan di Indonesia. PSAK yang menjadi acuan akuntan Indonesia dalam pembukuan telah menyesuaikan dengan IFRS yang dipakai secara global.

Ada tiga alasan mengapa metode LIFO sudah tidak efektif untuk digunakan dalam menilai persediaan, yakni pertama karena adanya perbedaan laba yang cukup signifikan. Dibandingkan dengan metode  FIFO dan FEFO, metode LIFO, terdapat selisih yang cukup jauh dalam laba operasi yang dihasilkan jika menggunakan metode LIFO dalam menaksir persediaan.

Kedua, metode LIFO juga tidak merepresentasikan tingkat biaya persediaan terkini. Hal ini membuat nilai persediaan tidak memiliki nilai yang relevan atau keadaan yang sebenarnya. Pada akhirnya hal ini mengurangi kualitas dari laporan keuangan itu sendiri. Yang terakhir, metode ini juga dapat digunakan untuk memanipulasi pajak.

Metode FEFO

Perbedaan Metode LIFO, FIFO, FEFO, dan Average CostMetode FEFO merupakan metode dimana barang dengan masa kedaluwarsa yang terdekat harus dikeluarkan atau dijual terlebih dahulu, tanpa mempedulikan apakah barang tersebut datang terlebih dahulu atau belakangan. Metode FEFO biasa diterapkan oleh toko ritel makanan dan apotek. Biasanya, produk dengan masa expired terpendek akan ditempatkan di posisi paling depan agar dapat diambil terlebih dahulu oleh pelanggan. Produk yang memiliki masa expired yang masih lama biasanya akan disimpan di dalam gudang terlebih dahulu.

Metode Average Cost

Metode Average Cost merupakan titik tengah atau perpaduan dari metode FIFO dan LIFO. Dalam metode ini, barang yang akan keluar dicatat berdasarkan harga rata-rata barangnya. Untuk mendapatkan harga pokok average (rata-rata tertimbang), jumlah saldo awal barang yang akan dijual atau barang dagangan ditambah dengan keseluruhan total pembelian barang dagangan, kemudian dibagi dengan total kuantitas barang dagangan yang dibeli, lalu ditambah dengan kuantitas saldo awal barang dagangan.

Menghitung Nilai Stok Secara Otomatis

Menghitung nilai stok membutuhkan ketelitian tinggi. Karena kesalahan penghitungan bisa menyebabkan kerugian pada bisnis Anda,  sebaiknya Anda menggunakan perangkat lunak manajemen inventaris yang memungkinkan Anda untuk menghitung nilai stok secara otomatis. Alat ini memudahkan Anda untuk melakukan penilaian inventaris dengan menggunakan metode yang berbeda termasuk FIFO, FEFO, dan Average Cost, tentunya dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Dapatkan

Konsultasi Software ERP

GRATIS via WhatsApp

related articles