01.
Apa itu HashMicro
02.
ERP itu cocok untuk perusahaan seperti apa
03.
Kenali Produk HashMicro
04.
Keunggulan HashMicro
05.
Proses Implementasi
06.
Apakah demo nya gratis?
0:00 / 0:00
BerandaProductsAccountingKetahui Alasan Pabrik Manufaktur Membutuhkan Software Akuntansi

Ketahui Alasan Pabrik Manufaktur Membutuhkan Software Akuntansi

Pabrik manufaktur menjadi salah satu industri yang paling menjanjikan di Indonesia. Tidak hanya bergerak di bidang penjualan bahan baku atau bahan mentah, pabrik ini juga berperan penting dalam perputaran ekonomi negara. Karena hampir seluruh perusahaan di berbagai bidang memerlukan bahan baku untuk kegiatan produksinya. Hal ini juga yang membuat banyak pabrik manufaktur kewalahan terutaman dalam mengelola transaksi penjualannya dan beralih menggunakan software akuntansi berbasis cloud. Perkembangan teknologi yang pesat membuat persaingan antar industri ini semakin ketat dan untuk bisa menjadi perusahaan terbaik, namun tentu saja siklus keuangan serta sistem akuntansi perusahaan harus transparan.  

Sama halnya dengan perusahaan lain, pabrik manufaktur melakukan pencatatan transaksi keuangan menggunakan bantuan software akuntansi sebagai langkah dasar agar bisa mengatur keuangan perusahaan sebaik mungkin. Seluruh kegiatan transaksi nantinya akan tercatat pada bukti transaksi resmi secara otomatis oleh sistem akuntansi yang dapat menunjukkan laju aktivitas ekonomi perusahaan atas dana yang dialirkan. Meskipun sama-sama melakukan pencatatan transaksi keuangan, siklus akuntansi pabrik manufaktur berbeda dengan siklus akuntansi perusahaan lainnya. Berikut ini faktor-faktor penting yang harus ada di dalam laporan akuntansi pabrik manufaktur beserta contohnya.

Baca juga: Software Akuntansi Keuangan untuk Bisnis Manufaktur Anda

pabrik manufaktur

Biaya Pabrik Manufaktur

Biaya pabrik manufaktur
Sumber: freepik.com

Biaya-biaya yang terjadi dalam pabrik selama satu periode biasanya disebut dengan biaya pabrik (manufacturing cost). Biaya pabrik tersebut meliputi biaya bahan baku (raw materials), biaya buruh langsung (direct labor) dan biaya pabrikasi (overhead). Berbeda dengan biaya bahan baku dan buruh langsung yang dapat teridentifikasi secara langsung dengan barang jadi, biaya pabrikasi merupakan biaya yang tidak dapat teridentifikasi secara langsung dengan barang jadi, misalnya biaya untuk pemeliharaan dan perbaikan, perlengkapan pabrik, dan sebagainya.

Biaya Produksi Pabrik Manufaktur

Biaya  produksi (production cost) adalah biaya yang perusahaan gunakan selama proses produksi dalam suatu periode. Biasanya, hal ini terdiri dari pengeluaran yang perusahaan gunakan selama persediaan dalam proses awal ditambah dengan biaya pabrik. Secara singkat, biaya yang termasuk dalam biaya produksi adalah biaya yang perusahaan gunakan dari awal hingga akhir proses pada periode tertentu. 

Harga Pokok Produksi Pabrik Manufaktur

Biaya barang yang telah diselesaikan dalam proses produksi pada periode tertentu merupakan harga pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau harga pokok produksi. Harga pokok produksi ini terdiri dari biaya pabrik yang ditambah persediaan dalam proses awal periode dan kemudian dikurangi persediaan dalam proses akhir periode. Harga pokok produksi selama satu periode akan terlampir dalam laporan harga pokok produksi yang merupakan bagian dari harga pokok penjualan (cost of goods sold). 

download skema harga software erp
download skema harga software erp

Jurnal dan Buku Besar Pabrik Manufaktur

Jurnal dan buku besar pabrik manufaktur
Sumber: freepik.com

Untuk melakukan pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan, pabrik manufaktur membutuhkan jurnal dan buku besar yang nantinya akan mencatat semua transaksi bisnis misalnya seperti akun kas, biaya-biaya, piutang usaha, utang usaha dan lainnya. Nantinya, akuntan atau manajer akan melakukan pengecekan jika ada kesalahan pada buku besar karena akan berpengaruh pada siklus akuntansi perusahaan. 

Untuk menghindari kesalahan pencatatan, perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan software akuntansi berbasis cloud yang dapat mengotomatiskan pengelolaan arus kas dan pembuatan laporan keuangan. Untuk mengetahui lebih lanjut, Anda dapat mengunduh skema perhitungan dan mendapatkan gambaran harganya.

Baca juga: Sistem Akuntansi: Pengertian, Manfaat, dan Penerapannya dalam Bisnis

Pembelian Bahan Baku

Berikut merupakan gambaran contoh pencatatan dan pelaporan harga pokok produksi dalam sebuah perusahaan pabrik selama satu tahun.

Selama tahun 2000, PT. Kharisma Jaya membeli secara kredit bahan baku seharga Rp. 1440. Potongan pembelian-pembelian retur dan pengurangan harga serta transaksi-transaksi lain yang berhubungan dengan pembelian bahan baku diabaikan dalam contoh ini. Berikut merupakan jurnal yang dibuat untuk pembelian tadi, jika dicatat dalam jurnal umum:

(D) Pembelian bahan baku Rp. 1440

(K) Utang dagang                Rp, 1440

Jurnal di atas merupakan gabungan transaksi selama satu tahun. Namun pada kenyataannya, pencatatan akan perusahaan lakukan untuk setiap transaksi dalam buku pembelian. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pembelian bahan baku pada tanggal 31 Desember 2000 akan bersaldo Rp. 1440.

Pemakaian Buruh Langsung

Selama tahun 2000, pembayaran kepada buruh berjumlah Rp. 150. Upah yang masih harus dibayar pada akhir tahun berjumlah Rp. 23. Berikut ini merupakan jurnal yang harus perusahaan buat:

(D) Biaya buruh langsung     Rp. 173

(K) Kas/Bank                       Rp. 150

(K) Biaya yang masih harus dibayar         Rp. 23

Sementara itu, upah yang masih harus dibayar dicatat sebagai Jurnal Penyesuaian.

Pemakaian Biaya Pabrikasi

Dalam tahun 2000, biaya pabrik yang dibebankan dalam produksi berjumlah Rp 450. Jumlah ini sudah termasuk jurnal penyesuaian yang diperlukan. Jurnal yang perlu dibuat pada waktu pembelian biaya-biaya tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Biaya bahan pembantu                                                 Rp. 150

(D) Biaya buruh tidak langsung                                          Rp. 140

(D) Biaya gaji pabrik                                                          Rp. 40

(D) Biaya listrik, air, dan telepon pabrik                             Rp. 37

(D) Biaya perlengkapan-pabrik                                           Rp. 15

(D) Biaya pemeliharaan dan perbaikan pabrik                    Rp. 50

(D) Biaya asuransi ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 13

(D) Biaya pabrik lain-lain                                                    Rp. 5

(K) Biaya yang masih harus dibayar                                                 Rp. 450

Pembayaran biaya yang masih harus dibayar dalam buku pengeluaran kas tidak diperlihatkan dalam contoh ini. Juga pembebanan biaya yang berasal dari pembayaran dimuka, untuk biaya penyusutan, jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

(D) Biaya penyusutan pabrik                                                     Rp. 75

(K) Akumulasi penyusutan pabrik                                             Rp. 75

(D) Biaya Penyusutan¬† ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 9

(D) Biaya Penyusutan ‚Äď penjualan ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 10

(D) Biaya Penyusutan ‚Äď administrasi & umum¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 10

(K) Akumulasi Penyusutan ‚Äď bangunan ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 4

(K) Akumulasi Penyusutan ‚Äď kendaraan¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 20

(K) Akumulasi Penyusutan ‚Äď peralatan ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 5

Amortisasi aset tak berwujud pada pabrik manufaktur

Dalam contoh perusahaan dagang penyusutan dicatat melalui jurnal penyesuaian. Jurnal penyesuaian diatas terdiri dari dua bagian. Penyusutan mesin dibebankan seluruhnya dalam biaya pabrik. Sementara itu penyusutan bangunan, kendaraan dan peralatan (total Rp. 29) dialokasikan ke biaya pabrik, beban penjualan serta administrasi dan umum. Pengalokasian dilakukan berdasarkan penggunaan masing-masing aset tetap.

Dalam perusahaan pabrik terdapat akun aset tak berwujud. Aset tak berwujud adalah aset tetap yang secara fisik tidak nyata. Contoh aset tak berwujud adalah hak paten dan goodwill. Aset tak berwujud, seperti halnya aset tetap, harus disusutkan. Penyusutan untuk aset tak berwujud disebut amortisasi. Amortisasi aset tak berwujud juga dapat dialokasikan ke dalam biaya pabrik, beban penjualan serta beban administrasi dan umum. Berikut adalah jurnal yang perusahaan buat untuk mencatat dan mengalokasikan beban amortisasi:

(D) Biaya Amortisasi ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 13

(D) Biaya Amortisasi ‚Äď penjualan¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 6

(D) Biaya Amortisasi ‚Äď Administrasi & umum¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 6

(K) Aset tak berwujud                                                                Rp. 25

Jurnal Penyesuaian

Jurnal Penyesuaian yang perlu perusahaan buat untuk persediaan bahan baku adalah sebagai berikut:

(A)

(D) Ikhtisar harga pokok produksi                   Rp. 197

(K) Persediaan bahan baku                              Rp. 197

(B)

(D) Persediaan bahan baku                              Rp. 243

(K) Ikhtisar harga pokok produksi                   Rp. 243

Jurnal penyesuaian (A) berhubungan dengan persediaan awal bahan baku. Jumlah yang tercantum di neraca saldo merupakan saldo awal akun tersebut sehingga jurnal penyesuaian perlu dibuat untuk membebankan saldo awal ini ke harga pokok produksi. Sementara itu jurnal penyesuaian (B) dibuat untuk mengganti saldo akun bahan baku dengan jumlah yang ada pada akhir periode. 

Sistem akuntansi yang baik dapat menghasilkan jurnal penyesuaian yang akurat. Dengan begitu, jumlah pemakaian bahan baku pun dapat dihitung. Selanjutnya, perhatikan adanya akun ikhtisar harga pokok produksi. Akun ini seperti halnya ikhtisar laba rugi, akan perusahaan gunakan untuk menutup akun-akun biaya pabrik, pembelian bahan baku serta persediaan bahan baku dan persediaan dalam proses. Dari akun ini dapat dihitung harga pokok produksi.

Hal yang sama dilakukan terhadap persediaan dalam proses. Jurnal penyesuaian yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:

(C)

(D) Ikhtisar harga pokok produksi                    Rp. 15

(K) Persediaan dalam proses                             Rp. 15

(D)

(D) Persediaan dalam proses                              Rp. 20

(K) Ikhtisar harga pokok produksi                      Rp. 20

Jurnal Penyesuaian yang perusahaan buat untuk persediaan barang jadi sama dengan perusahaan dagang, yaitu yang berhubungan dengan jurnal penyesuaian untuk persediaan barang dagang. Jurnal penyesuaian ini membebankan saldo awal persediaan barang jadi ke harga pokok penjualan, sekaligus mengganti saldonya dengan nilai persediaan akhir. Berikut ini adalah contoh dari jurnal penyesuaian:

(E)

(D) Ikhtisar laba rugi                             Rp. 285

(K) Persediaan barang jadi                    Rp. 285

(F)

(D) Persediaan barang jadi                    Rp. 257

(K) Ikhtisar laba rugi                             Rp. 257

Laporan Harga Pokok Produksi

Laporan ini mencakup laporan harga pokok produksi dan laporan laba rugi. Untuk mengetahui lebih lanjut, simak contoh di bawah ini:

Laporan harga pokok produksi

Tahun berakhir 31 Desember 2000

Persediaan bahan baku :

Persediaan bahan baku, 1 Januari 2000                                  Rp. 197

Pembelian bahan baku                                                              Rp. 1440

Persediaan bahan baku tersedia untuk diproduksi                  Rp. 1637

Persediaan bahan baku, 31 Desember 2000                           (Rp. 243)

Total pemakaian bahan baku                                                    Rp. 1394

Biaya buruh langsung                                                               Rp. 173

Biaya Pabrikasi :

Biaya bahan pembantu                                  Rp. 150

Biaya buruh tidak langsung                           Rp. 140

Biaya penyusutan ‚Äď pabrik¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 84

Biaya pemeliharaan & perbaikan ‚Äď pabrik¬† ¬† Rp. 50

Biaya gaji ‚Äď pabrik¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 40

Biaya listrik, telp, air ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 37

Biaya perlengkapan ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 15

Biaya asuransi ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 13

Biaya amortisasi ‚Äď pabrik¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 13

Biaya pabrik lain-lain                                   Rp. 5

Total biaya pabrik                                                                            Rp. 547

Persediaan dalam proses, 1 Januari 2000                                     Rp. 2114

                                                                                                             Rp. 15

Total biaya produksi                                                                       Rp. 2129

Persediaan dalam proses, 31 Desember 2000                                 (Rp) 20

Harga Pokok Produksi                                                                   Rp. 2109

Laporan laba rugi

Tahun berakhir 31 Desember 2000

Penjualan (neto)                                                                      Rp. 3022

Harga Pokok Penjualan :

Persediaan barang jadi, 1 Januari 2000                                   Rp. 285

Harga pokok produksi                                                             Rp. 2190

Persediaan barang jadi tersedia dijual                                      Rp. 2394

Persediaan barang jadi, 31 Desember 2000                             (Rp) 257

Harga Pokok Penjualan                                                             Rp. 2137

Laba Bruto                                                                                 Rp. 885

Biaya Usaha :

Beban Penjualan :

Biaya iklan dan promosi                                                          Rp. 200

Biaya gaji dan upah                                                                 Rp. 75

Biaya pengiriman                                                                     Rp. 60

Biaya perlengkapan                                                                 Rp. 25

Biaya listrik, telp, air                                                                Rp. 20

Biaya pemeliharaan & perbaikan                                             Rp. 15

Biaya penyusutan                                                                     Rp. 10

Biaya asuransi ‚Äď pabrik¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 6

Biaya amortisasi ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 6

Biaya pabrik lain-lain                                                               Rp. 4

Total beban penjualan                                                              Rp. 421

Beban Administrasi & Umum :

Biaya gaji dan upah                                                                  Rp. 90

Biaya listrik, telp, air                                                                Rp. 15

Biaya pemeliharaan & perbaikan                                             Rp. 10

Biaya penyusutan                                                                     Rp. 10

Biaya perlengkapan                                                                  Rp. 8

Biaya amortisasi ‚Äď pabrik ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp. 6

Biaya asuransi ‚Äď pabrik¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† Rp.3

Biaya administrasi lain-lain                                                      Rp. 6 

Total beban administrasi & umum                                            Rp. 148

Laba Usaha                                                                                Rp. 316

beban lain ‚Äď lain (bunga)¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† (Rp) 113

Laba Bersih                                                                                Rp. 203

Jurnal Penutup

Jurnal penutup pada perusahaan pabrik manufaktur adalah penutupan atas akun ‚Äď akun yang berhubungan dengan kegiatan produksi. Untuk mengetahui lebih lanjut, perhatikan jurnal penutup di bawah ini:

(D) Ikhtisar harga pokok produksi                    Rp. 2160

(K) Pembelian bahan baku                                Rp. 1440

(K) Biaya buruh langsung                                  Rp. 173

(K) Biaya bahan pembantu                                Rp. 150

(K) Biaya buruh tidak langsung                         Rp. 140

(K) Biaya gaji                                                     Rp. 40

(K) Biaya listrik, telepon, air                              Rp. 37

(K) Biaya perlengkapan                                     Rp. 15

(K) Biaya pemeliharaan                                     Rp. 50

(K) Biaya asuransi                                            Rp. 13

(K) Biaya penyusutan                                       Rp. 84

(K) Biaya amortisasi                                         Rp. 13

(K) Biaya pabrik lain-lain                                  Rp. 5

Setelah jurnal penutup tersebut, selanjutnya akun ‚Äď akun biaya pabrik akan bersaldo nol. Sementara itu, akun ikhtisar harga pokok produksi, setelah jurnal penutup di atas, tampak seperti di bawah ini:

Ikhtisar harga pokok produksi

Tanggal      Keterangan                          Debit                  Kredit                 Saldo (D)  Saldo (K)

2000

Des 31   Peny. persediaan                      197                                                   197

bahan baku awal

Peny. persediaan

bahan baku akhir                                                   243                                         46

Peny. persediaan

dlm proses awal                      15                                                                 31

Peny. persediaan

dlm proses akhir                                                      20                                          51

Penutupan biaya pabrik             2160                                                    2190

Saldo debit akun ikhtisar harga pokok produksi sebesar Rp. 2109 merupakan harga pokok barang selesai perusahaan produksi. Jumlah ini kemudian ditutup ke akun ikhtisar laba rugi. Karena itu, jurnal penutup yang akan perusahaan buat adalah:

(D) Ikhtisar laba rugi                                     Rp. 2190

(K) Ikhtisar harga pokok produksi                Rp. 2190

Setelah jurnal penutup ini akun ikhtisar harga pokok produksi akan bersaldo nol.

Baca juga: Fungsi dan Contoh Jurnal Penutup dalam Akuntansi Perusahaan

Kesimpulan

Seperti yang sudah dijelaskan setelah mengetahui faktor-faktor penting yang harus ada dalam laporan akuntansi pabrik manufaktur dan melihat gambaran contohnya, tentu akan membuat Anda berpikir dua kali untuk berkecimpung di dunia bisnis pabrik manufaktur. Meskipun terlihat sulit dan pastinya akan menyita banyak waktu, nyatanya pembuatan laporan akuntansi pabrik manufaktur dapat perusahaan lakukan dengan praktis dengan menggunakan Software Akuntansi yang terintegrasi.

pabrik manufaktur

Sekarang, Anda dapat mengotomatiskan pengelolaan arus kas, pembuatan laporan keuangan, rekonsiliasi bank, jurnal penyesuaian, pembuatan faktur, dan lain-lainnya dengan Sistem Akuntansi Terlengkap dari HashMicro. Dapatkan skema perhitungan harga Sistem Akuntansi HashMicro secara lengkap sekarang, gratis!

Tertarik Mendapatkan Tips Cerdas Untuk Meningkatkan Efisiensi Bisnis Anda?

Sheren Nathalie
Sheren Nathalie
Hi there! I'm Sheren. Currently I'm working as a Junior Content Writer at HashMicro. Looking forward to give you lot of new insights! For business inquiries, you can contact me through [email protected]

Coba Gratis Software HashMicro

Diskusikan kebutuhan bisnis Anda dengan konsultan ahli kami dan DAPATKAN DEMO GRATISNYA!

Ingin respon lebih cepat?

Hubungi kami lewat Whatsapp

Nadia

Nadia
Balasan dalam 1 menit

Nadia
Ingin Demo Gratis?

Hubungi kami via WhatsApp, dan sampaikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim ahli kami
628111961171
√ó
Dapatkan Demo Gratis!