CNBC Awards

Karyawan Curangi Absensi dengan Fake GPS? Ini Solusi Nyatanya!

Diterbitkan:

Data absensi sering menjadi dasar keputusan yang sensitif mulai dari perhitungan gaji hingga penilaian produktivitas tim lapangan. Ketika data kehadiran tidak benar-benar akurat dampaknya dapat meluas ke dispute payroll, verifikasi reimbursement yang rumit, dan kontrol operasional yang melemah.

Oleh karena itu, banyak perusahaan beralih ke absensi berbasis lokasi untuk mengelola remote worker dan field staff menjadi lebih rapi. Meski demikian, metode ini memiliki celah. Salah satu yang paling sering terjadi adalah manipulasi titik lokasi melalui fake GPS, sehingga catatan “hadir” tidak selalu mencerminkan kondisi di lapangan.

Dengan memahami bagaimana celah ini, perusahaan dapat memperkuat kontrol yang tepat agar data kehadiran tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Key Takeaways

  • Fake GPS adalah metode untuk memalsukan lokasi perangkat agar terlihat berada di lokasi pekerjaan padahal sebenarnya berada di tempat lain. 
  • Praktik Fake GPS membawa dampak buruk bagi perusahaan yang langsung terasa adalah terganggunya produktivitas.
  • Tidak adanya verifikasi fisik adalah salah satu penyebab utama terjadinya kecurangan fake GPS.

Apa itu Fake GPS?

Fake GPS adalah metode untuk memalsukan lokasi perangkat agar terlihat berada di lokasi pekerjaan, padahal sebenarnya berada di tempat lain seperti rumah, kafe, atau bahkan luar kota.

Di lapangan, karyawan tetap bisa terlihat check-in tepat waktu dengan titik lokasi yang tampak wajar sehingga biasanya baru terdeteksi ketika muncul selisih data kunjungan, klaim biaya, atau temuan dari atasan langsung.

Proses ini umumnya dilakukan lewat aplikasi pihak ketiga yang mengatur titik lokasi palsu melalui fitur developer options di ponsel.

Selain itu, HR sering kesulitan mendeteksinya karena data lokasi yang masuk ke sistem tetap tampak valid, sementara verifikasi tambahan seperti pola pergerakan atau pengecekan silang dari sumber lain tidak selalu tersedia.

Bagaimana Fake GPS Bisa Terjadi?

Setelah mengetahui pengertian dari Fake GPS, pasti akan muncul pertanyaan, lantas bagaimana Fake GPS bisa terjadi? Umumnya, praktik pemalsuan lokasi biasanya dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut: 

  • Mengaktifkan Developer Options: Cara ini dilakukan dengan mengaktifkan Developer Options, lalu pilih aplikasi mock location, dan atur titik palsu ke area kantor. Karena sistem hanya membaca titik lokasi, bukan keaslian datanya, absensi tetap dianggap valid.
  • Menonaktifkan Pelacakan Lokasi Real-Time: Dengan mematikan pelacakan lokasi real-time, walaupun orang tersebut sebenarnya berada jauh dari lokasi kerja, sistem tetap menerima satu titik GPS palsu yang terlihat sah. Ini yang sering membuat data absensi menjadi tidak valid.
  • Menggunakan Aplikasi Tambahan: Aplikasi fake GPS seperti GPS Emulator atau Fake GPS Location banyak tersedia di Play Store. Contohnya adalah seseorang sedang berada di luar kota. Ia buka aplikasi fake GPS, set lokasi ke kantor, lalu buka aplikasi absensi. Sistem tidak menyadari bahwa data itu datang dari aplikasi palsu, karena tidak ada fitur pendeteksi manipulasi.

Tentu, praktik fake GPS membawa dampak buruk bagi perusahaan, salah satu dampak yang langsung terasa adalah terganggunya produktivitas. Misalnya, seharusnya hari ini ada 200 karyawan yang aktif bekerja di kantor, namun karena 25% dari mereka memalsukan lokasi, alur kerja jadi terhambat dan target harian pun meleset.

Dari sisi keuangan, penggunaan fake GPS berujung pada pembengkakan payroll. Perusahaan tetap membayar tunjangan kehadiran atau lembur kepada karyawan yang sebenarnya tidak berada di lokasi kerja. Akibatnya, dana operasional terkuras untuk sesuatu yang tidak memberikan kontribusi nyata.

Dalam jangka panjang, hal ini juga berdampak pada moral karyawan lain yang bekerja jujur. Mereka merasa diperlakukan tidak adil ketika melihat rekan yang curang tetap mendapatkan hak yang sama. Jika dibiarkan, hal ini bisa merusak budaya kerja perusahaan secara keseluruhan.

Cara Kerja Fake GPS

Fake GPS bekerja dengan dengan menimpa (override) data GPS asli dari perangkat menggunakan koordinat palsu yang dimasukkan pengguna. Saat diaktifkan, sistem operasi akan membaca koordinat buatan ini sebagai lokasi yang sah.

Setelah diaktifkan, pengguna dapat memilih titik lokasi yang diinginkan melalui peta dalam aplikasi Fake GPS. Ketika aplikasi lain mengakses lokasi perangkat, mereka menerima data GPS yang sudah dimanipulasi tanpa mengetahui perubahan tersebut.

Meski berguna untuk pengujian aplikasi atau melindungi privasi pengguna, penggunaan Fake GPS secara tidak tepat dapat melanggar aturan layanan beberapa platform dan dapat disalahgunakan khususnya oleh karyawan yang tidak bertanggung jawab.

Kelemahan Absensi Berbasis Lokasi

Beberapa celah dalam absensi berbasis lokasi membuka peluang munculnya praktik fake GPS.

Jadi, apa saja kelemahan yang membuat sistem ini mudah dimanipulasi? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini: 

1. GPS bisa dimanipulasi aplikasi pihak ketiga

Fake GPS bisa dilakukan dengan bantuan aplikasi pihak ketiga. Aplikasi ini sangat mudah ditemukan di marketplace seperti Play Store untuk Android dan App Store untuk iPhone.  Kombinasi antara kemudahan akses aplikasi dan lemahnya sistem verifikasi lokasi menjadikan kecurangan ini sangat mudah untuk dilakukan.

2. Absensi bisa dilakukan dari mana saja, termasuk dari rumah

Karena sistem membolehkan absensi dari mana saja, banyak karyawan akhirnya mencatat kehadiran dari rumah atau lokasi lain yang jauh dari tempat kerja. Hal ini berdampak langsung pada kedisiplinan yang memungkinkan karyawan tidak bekerja meski status absensinya menunjukkan “hadir”.

3. Tidak ada verifikasi fisik

Sistem absensi berbasis lokasi sering kali hanya mencatat koordinat GPS tanpa mengaitkannya dengan bukti kehadiran fisik. Karyawan bisa melakukan absensi tanpa face recognition, sidik jari, atau bentuk identifikasi lain yang berakibat pada perusahaan kehilangan kendali atas validitas kehadiran, dan karyawan jadi punya celah untuk menyiasatinya kapan pun mereka mau.

Tips Menghindari Kecurangan Absensi dengan Fake GPS

Untuk menghindari kecurangan absensi karyawan yang menggunakan Fake GPS, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari kecurangan tersebut.

Berikut adalah tips dalam menghindari kecurangan absensi dengan Fake GPS:

1. Gunakan Aplikasi Absensi Berbasis GPS & Geofencing: Pilih aplikasi absensi yang memiliki fitur geofencing, sehingga karyawan hanya bisa melakukan absensi di area lokasi kerja yang sudah ditentukan.

2. Aktifkan Fitur Deteksi Fake GPS: Beberapa aplikasi absensi modern, seperti HashMicro Attendance, dapat mendeteksi penggunaan aplikasi lokasi palsu dan memberikan peringatan kepada admin HR.

3. Gunakan Verifikasi Biometrik: Kombinasikan GPS dengan verifikasi wajah (face recognition) atau sidik jari agar absensi tidak hanya mengandalkan lokasi.

4. Perbarui Sistem Secara Berkala: Pastikan aplikasi absensi selalu menggunakan versi terbaru untuk menghindari celah keamanan yang bisa dimanfaatkan pengguna aplikasi Fake GPS.

5. Pantau Riwayat Lokasi Secara Real-Time: HR dapat memantau log lokasi karyawan secara berkala untuk memastikan kesesuaian dengan titik absensi yang ditentukan.

Oleh karena itu, solusi paling efektif adalah menambahkan sistem verifikasi berbasis face recognition. Lalu, apa sistem verifikasi kehadiran terbaik yang bisa digunakan? Temukan jawabannya di bawah ini! 

Sebelum menentukan vendor, pahami kriteria dan perbandingan solusi melalui hris software indonesia agar sistem yang dipilih benar-benar tahan terhadap manipulasi lokasi.

Contoh Studi Kasus Perusahaan yang Terdampak Fake GPS 

Untuk semakin memperdalam pemahaman Anda tentang risiko kecurangan absensi menggunakan fake GPS dalam attendance system, kami berikan contoh studi kasus dari sebuah perusahaan logistik berskala menengah di Jakarta yang bisa Anda simak.

Perusahaan ini menggunakan sistem absensi berbasis GPS untuk memantau kehadiran 120 orang field staff yang tersebar di Jabodetabek. Namun, selama lebih dari tiga bulan, tim HR mulai menyadari ketidaksesuaian antara laporan kehadiran dan hasil kerja lapangan. Setelah dilakukan audit internal, ditemukan bahwa sekitar 30 karyawan menggunakan aplikasi ini untuk melakukan absensi tanpa benar-benar berada di lapangan.

Dampaknya sangat signifikan. Harusnya, perusahaan bisa menyelesaikan rata-rata 60 pengiriman per hari dari wilayah Jabodetabek, namun karena absensi fiktif ini, output aktual hanya sekitar 40 pengiriman per hari.

Dari sisi keuangan, perusahaan mengalami kerugian akumulatif hingga Rp185 juta dalam tiga bulan, mencakup biaya operasional sia-sia, pembayaran upah tidak sesuai, dan kompensasi atas keterlambatan pengiriman ke klien.

Kasus ini menunjukkan bahwa ini bukan sekadar pelanggaran kecil, melainkan masalah serius yang bisa menurunkan produktivitas dan menyebabkan kerugian bisnis nyata jika tidak ditangani dengan sistem yang tepat.

Antisipasi Fake GPS dengan Implementasi Face Recognition pada Sistem

Untuk memahami dampak nyata dari fake GPS dan bagaimana teknologi Face Recognition bisa menjadi solusi efektif, mari kita simak ringkasan studi kasus yang telah dibahas sebelumnya.

Kasus ini berasal dari sebuah perusahaan logistik menengah di Jakarta yang mengalami kerugian hingga Rp185 juta dalam tiga bulan akibat manipulasi absensi oleh lebih dari 30 karyawan menggunakan aplikasi fake GPS.

Masalah ini berdampak pada penurunan produktivitas dan akurasi laporan kehadiran, serta merusak kepercayaan klien terhadap performa perusahaan.

Sebelum Implementasi Face Recognition Setelah Implementasi Face Recognition
Absensi bergantung sepenuhnya pada titik GPS, tanpa verifikasi fisik. Sistem absensi mewajibkan pemindaian wajah saat check-in dan check-out.
Karyawan dengan mudah memalsukan lokasi menggunakan aplikasi fake GPS. Teknologi biometrik HashMicro menghilangkan peluang manipulasi lokasi.
Target pengiriman harian tidak tercapai karena banyak staff tidak benar-benar bekerja. Produktivitas kembali normal dengan target pengiriman tercapai setiap hari.
Laporan kehadiran tidak mencerminkan kondisi kerja yang sesungguhnya. Data kehadiran menjadi akurat dan sesuai dengan performa karyawan.
Perusahaan mengalami kerugian operasional dan reputasi bisnis menurun. Perusahaan menekan kerugian dan memperbaiki hubungan dengan klien.

Kesimpulan

Kecurangan absensi seperti penggunaan fake GPS dapat menurunkan akurasi data kehadiran dan berdampak pada payroll, reimbursement, serta evaluasi produktivitas. Jika dibiarkan, keputusan operasional berisiko dibuat berdasarkan informasi yang tidak sesuai kondisi di lapangan.

Untuk memperkuat kontrol, sistem HR terintegrasi dengan verifikasi face recognition membantu memastikan pencatatan kehadiran lebih dapat dipertanggungjawabkan. Verifikasi ini menambah lapisan pengamanan agar peluang manipulasi lokasi dapat ditekan.

Pendekatan ini relevan untuk pola kerja hybrid dan tim lapangan yang membutuhkan kontrol real-time. Anda dapat menjadwalkan sesi konsultasi singkat bersama tim ahli untuk meninjau kebutuhan dan opsi penerapan yang paling sesuai.

HRM

Pertanyaan Seputar Fake GPS

  • Apa itu Fake GPS?

    Fake GPS adalah metode memalsukan lokasi perangkat secara digital menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk menipu sistem berbasis lokasi, seperti absensi online.

  • Apa tujuan orang menggunakan Fake GPS?

    Orang menggunakan fake GPS untuk memalsukan lokasi mereka demi keuntungan pribadi, seperti mencatat absensi tanpa benar-benar berada di tempat kerja. Tujuan utamanya adalah menghindari pengawasan atau memanipulasi sistem yang bergantung pada data lokasi.

  • Bagaimana cara mencegah kecurangan dengan Fake GPS di perusahaan?

    Perusahaan dapat mencegah kecurangan dengan fake GPS dengan menggunakan sistem absensi berbasis biometrik dan real-time seperti face recognition.

  • Apakah menggunakan Fake GPS itu ilegal?

    Menggunakan fake GPS bisa dianggap ilegal jika digunakan untuk tujuan curang atau merugikan pihak lain, seperti memanipulasi absensi atau melanggar kebijakan perusahaan.

Reno Wicaksana

Senior Content Writer on HRIS

Reno adalah HRM Specialist dan senior content writer dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri teknologi dan manajemen sumber daya manusia. Secara konsisten mengangkat topik artikel seputar performance management, rekrutmen dan pengembangan SDM, manajemen talenta, dan sistem HRIS untuk pengelolaan karyawan.

Jessica adalah seorang pakar yang memiliki gelar Bachelor of Science (BSc) dalam Psychology dari University of London yang didukung oleh pemahaman mendalam tentang perilaku manusia dan dinamika organisasi. Latar belakang psikologi ini memberikan keahlian khusus dalam memahami motivasi karyawan, mengelola pengembangan talenta, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di dalam tim.. Selama sembilan tahun terakhir, Jessica mendalami bidang Human Resource Management, mengembangkan keahlian dalam strategi rekrutmen, pengelolaan kinerja, pengembangan organisasi, serta implementasi kebijakan HR yang mendukung budaya kerja positif dan pertumbuhan perusahaan.



HashMicro berpegang pada standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi pemerintah, pedoman industri, serta publikasi terpercaya untuk memastikan konten yang akurat dan relevan. Pelajari lebih lanjut tentang cara kami menjaga ketepatan, kelengkapan, dan objektivitas konten dengan membaca Panduan Editorial kami.


Nadia

Nadia
Balasan dalam 1 menit

Nadia
Perlu bantuan atau mau lihat demo singkat dari kami? 😊

Chat di sini, akan langsung terhubung ke WhatsApp tim kami.
6281222846776
×

Chapter Selanjutnya