Smart Data vs. Intuisi: Mana yang Lebih Penting?

Syifa Fadiyah
smart data

Smart data kini seolah menggantikan intuisi manusia dalam pengambilan keputusan, terlebih dalam bisnis. Dulu, yang diagung-agungkan dalam kepemimpinan adalah “intuisi yang tajam”. Kini, setelah kemampuan mengolah data kita meningkat, pemimpin perusahaan seolah diharuskan memahami data untuk mengambil keputusan.

Tetapi, apakah layak menjadikan data sebagai satu-satunya pertimbangan dalam pengambilan keputusan? Tentu saja tidak. Ada beberapa situasi yang mana mengutamakan data, intuisi, atau gabungan keduanya. Simak penjelasannya.

Kapan menggunakan smart data?

Smart data terbagi menjadi dua: kualitatif dan kuantitatif. Dua pendekatan ini digunakan secara berbeda-beda pula. Data kualitatif dapat digunakan dalam dua kondisi:

1) Ketika Anda ingin mengetahui alasan mengapa sesuatu terjadi

Angka-angka memang kredibel ketika digunakan untuk melihat apa yang sedang terjadi, tapi kadang gagal menunjukkan mengapa sesuatu terjadi.

Misalnya, jumlah pelanggan Anda turun sebesar 15% dari bulan lalu padahal Anda sudah beroperasi dengan benar. Setelah ditelusuri, ternyata, banyak dari mereka sedang beralih ke kompetitor Anda karena mereka menawarkan sesuatu yang baru.

Anda bisa menggunakan data kualitatif untuk mencari tahu mengapa mereka menyukai produk terbaru kompetitor Anda, lalu menawarkan sesuatu yang lebih baik.

2) Ketika Anda ingin mengetahui cara melakukan sesuatu

Data kualitatif juga akan sangat berguna jika Anda menghadapi beberapa situasi berikut. Jika Anda ingin melakukan pengembangan produk, tentunya Anda harus tahu “bagaimana” caranya. Dan pertanyaan tersebut tidak boleh dianggap enteng.

Lain cerita jika Anda sedang menyelesaikan masalah dengan pelanggan. Anda harus mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus diambil. Lalu, jika Anda ingin menyaingi kompetitor, Anda perlu melakukan riset terhadap pelanggan Anda tentang produk seperti apa yang dapat memuaskan keinginan mereka.

Artikel terkait: Posisi yang Harus Diambil dalam Menghadapi Persaingan Bisnis

Sementara itu, data kuantitatif dapat digunakan dalam dua kondisi.

1) Memprediksi performa bisnis

Apapun yang berkaitan dengan pencapaian tujuan, perusahaan harus mengandalkan data kualitatif. Kategori yang wajib ada adalah metrik finansial dan engagement. 

Pastikan pula metrik tersebut mencakup data yang customer-oriented untuk memastikan tingkat kepuasan pelanggan tinggi. Cara ini dapat membantu Anda mendeteksi masalah-masalah yang mungkin muncul sebelum dampak yang diakibatkan membahayakan perusahaan.

2) Menguji hipotesis

Kondisi seperti ini dapat dijumpai ketika Anda sedang mencoba terobosan baru di perusahaan Anda. Misalnya, Anda ingin mencoba format marketing berbentuk video. Menurut perkiraan, Anda bisa menaikkan tingkat conversion sebesar 5%.

Untuk membuktikan teori Anda tentunya harus memiliki metrik yang dapat mengukur efektivitas video tersebut. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan kesimpulan yang bisa digunakan sebagai acuan untuk strategi yang akan datang.

Menggunakan data kualitatif dan kuantitatif

Lebih lanjut lagi, ada kondisi dimana kedua jenis dari smart data ini digunakan secara bersamaan. Yaitu ketika Anda harus memilih di antara dua pilihan. Misalnya, jika Anda ingin menunjukan beberapa konsep baru kepada pelanggan, maka Anda membutuhkan feedback kualitatif untuk membuat keputusan.

Tetapi, setelah meluncurkan produk tersebut, Anda perlu menggunakan data kuantitatif untuk melakukan A/B testing. Pendekatan ini berguna untuk melihat versi mana yang lebih diminati pelanggan. Lalu, kembali lagi ke data kualitatif untuk mencari tahu mengapa produk tertentu terjual lebih banyak.

Kapan menggunakan intuisi?

Intuisi dapat digunakan jika data yang ada berlawanan dengan apa yang Anda percayai. Setiap keputusan sebaiknya diambil berdasarkan data yang ada.

Tetapi, jika seluruh orang di perusahaan menuntut Anda untuk menggunakan bermacam-macam metrik dan Anda merasa ada yang salah dari data tersebut, maka Anda harus percaya dengan intuisi Anda.

Steve Jobs, misalnya. Tahun 2010, Steve Jobs mengatakan tablet akan mengambil alih peran PC suatu hari nanti. Padahal banyak laporan saat itu yang berkontradiksi dengan pernyataannya. Steve Jobs tetap pada pendiriannya dan berhasil menjual lebih dari 360 juta iPad sejak awal diluncurkan.

Kapan menggunakan smart data dan intuisi?

Anda dapat menggunakan data serta intuisi ketika Anda membutuhkan ide-ide yang liar. Satu dekade lalu mungkin bisnis penginapan di rumah pribadi tidak akan berhasil. Tapi sekarang, dengan fasilitas booking seperti Airbnb, hal tersebut bisa terjadi.

Sama halnya dengan transportasi online. Beberapa tahun lalu mungkin tidak ada cukup data yang bisa menunjukkan penggunaan kendaraan pribadi yang bisa digunakan untuk mengantar-jemput orang lain dengan tarif tertentu.

Data kualitatif yang terbatas tidak seharusnya membatasi Anda untuk mengeluarkan ide-ide yang luar biasa. Anda harus mempercayai intuisi dan pengalaman pelaku bisnis terdahulu.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus diajukan bukan “data atau intuisi?” melainkan bagaimana menggunakan data perusahaan yang akurat dan intuisi dan menggunakannya di situasi yang tepat.

Dapatkan

Konsultasi Software ERP

GRATIS via WhatsApp

latest articles