Langkah Tepat Membangun dan Meningkatkan Brand Awareness

Dias Marendra

Di saat Anda berkunjung ke dokter karena sakit maag, apakah dokter Anda melarang untuk makan mi instan atau “Indomie”? Begitu kuatnya brand awareness Indomie mengakibatkan kita terbiasa menyebut setiap mie instan sebagai Indomie. Meski yang sedang kita makan adalah Supermie.

Bisa dikatakan bahwa Indomie sudah berhasil mencapai level tertinggi brand awareness. Tak bisa dipungkiri, mencapai level ini butuh waktu dan biaya yang tak sedikit. Namun tak berarti mustahil bagi Anda untuk meningkatkan brand awareness perusahaan atau produk Anda.

Lalu, seperti apakah cara yang efektif untuk meningkatkan brand awareness produk/perusahaan Anda? Berikut ini beberapa di antaranya:

Artikel terkait7 Cara Membangun Citra Perusahaan yang Baik

Program referral untuk tingkatkan brand awareness

Promosi dari mulut ke mulut merupakan salah satu metode pemasaran terbaik, bahkan sampai dengan hari ini. Selama pelanggan merasakan manfaatnya, mereka tak akan ragu mempromosikan produk tersebut ke rekan atau saudaranya. Salah satu contoh sukses dari program referal ini dijalankan oleh Dropbox.

Dengan mereferensikan teman atau saudara untuk membuat akun baru, mereka mendapatkan tambahan tempat penyimpanan sebesar 500MB, dengan penyimpanan maksimal 16GB. Dengan cara ini saja, Dropbox berhasil menghemat banyak uang untuk promosi berbayar.

Sajikan data dalam bentuk infografik

Cara terbaik menyajikan data tanpa membuat orang yang membacanya bosan adalah dengan tampilan infografik. Alih-alih menyajikan data di dalam tabel, infografik membuat tampilan data jadi lebih menarik dan mudah ditelaah.

Cara ini banyak dijalankan oleh perusahaan media, baik cetak dan elektronik. Namun belakangan, para marketer mulai menerapkan cara ini agar konten yang dibuat tak hanya terlihat menarik, namun juga dibagikan oleh banyak orang. Tak sedikit jumlahnya artikel berujung viral karena terkandung data infografik di dalamnya.

Bangun brand awareness dengan konten freemium

Metode yang satu ini umum ditemukan pada perusahaan yang menjual produk online. Perusahaan menawarkan produk level basic kepada pelanggan secara cuma-cuma. Namun di saat pelanggan menginginkan fitur lengkap dari produk tersebut, mereka harus mengeluarkan sejumlah uang.

Konten freemium ini populer di produk-produk seperti aplikasi antivirus, video game, dan lainnya. Cara ini terbukti cukup efektif dalam membangun brand awareness produk. Beberapa brand yang  menggunakan metode ini adalah Avira, AVG antivirus, dan WinRAR.

Buat personaliti unik

Masih ingat dengan iklan Ramayana versi kasidah? Begitu uniknya iklan ini membuat siapa saja yang melihatnya tergelak karena saking lucunya. Alhasil, iklan ini sukses mengumpulkan view sampai belasan juta dan viral di berbagai media sosial.

Tak hanya itu, jargon yang muncul di iklan Ramayana pun populer di kalangan millenial. Contohnya, di saat ada rekan yang berkata “kerja keras”, Anda akan menyambungnya dengan berkata “bagai quda”. Inilah yang disebut sebagai personaliti unik.

Imbas dari bergetarnya jagat maya akibat iklan Ramayana membuat omset departemen store ini naik signifikan. Selain itu, brand awareness Ramayana pun naik dengan pesat.

Gunakan influencer

Sosial media seperti Instagram dan Facebook sangatlah populer di kalangan millenial. Dari sekedar bersosialisasi dengan rekan sejawat, hingga mencari referensi fesyen yang sedang in adalah kegunaan sosial media sehari-harinya.

Namun bagi para pebisnis, sosial media adalah sarana yang bisa digunakan untuk membangun brand awareness. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan influencer. Seorang selebgram dengan jutaan follower yang meng-endorse produk Anda jauh lebih efektif dibandingkan dengan iklan offline seperti billboard atau spanduk.

Namun perlu diperhatikan juga kesesuaian sang influencer dengan industri yang Anda geluti. Jika Anda memasarkan produk kecantikan, maka selebgram seperti Anya Geraldine atau Awkarin bisa jadi pilihan sebagai influencer.

Jangan sampai Anda memasarkan produk dengan influencer yang tak tepat sasaran. Selain pemborosan, bisa jadi sang selebgram menolak Anda mentah-mentah karena produknya tak sesuai dengan segmentasi follower yang dimilikinya.

Dapatkan

Konsultasi Software ERP

GRATIS via WhatsApp

related articles