BerandaProductsAssetApa itu Start Up? Ini Perbedaannya dengan Perusahaan Konvensional!

Apa itu Start Up? Ini Perbedaannya dengan Perusahaan Konvensional!

Beberapa tahun belakangan, trend start up semakin dilirik para pebisnis muda yang baru mulai merintis usahanya. Perlu Anda ketahui bahwa keberhasilan perusahaan perintisan terletak pada manajemen aset yang Anda lakukan dengan tepat. Tanpa pengelolaan yang baik, Anda akan sulit menganalisis besarnya potensi bisnis yang Anda miliki. Inilah mengapa aplikasi pencatatan aset menjadi poin vital dalam pertumbuhan bisnis start up Anda.

Download Skema Perhitungan Harga Software Manajemen Aset HashMicro

Pemilihan aplikasi manajemen aset berteknologi canggih merupakan tindakan yang paling menentukan. Ada beragam opsi yang bisa Anda pilih. Salah satunya adalah software Manajemen Aset terunggul dari HashMicro yang mampu mengidentifikasi dan mengakurasi nilai aset secara otomatis. Dengan demikian, Anda tidak perlu lagi mengandalkan tenaga manual untuk selalu mengecek kondisi aset pada bisnis start up Anda. Unduh skema perhitungan harga software manajemen aset HashMicro untuk mengetahui kalkulasi biayanya.

Bagaimana perkembangan, perbedaan start up dengan perusahaan konvensional, dan apa saja intangible asset yang perlu Anda kelola? Untuk mengetahuinya, simak artikel berikut ini!

Start Up

Contoh Start Up yang Ada Saat Ini

Start up adalah perusahaan rintisan yang baru memulai operasionalnya secara terstruktur. Maksudnya, perusahaan ini masih berada dalam fase atau tahap pengembangan untuk bisa menemukan pasar dari layanan dan produk yang Anda kelola. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, definisi start up lebih mengarah pada perusahaan baru yang mamanfaatkan teknologi sebagai basic bidang usahanya.

Kemunculan bisnis start up adalah suatu tren yang menyerap perhatian masyarakat. Indonesia sendiri memiliki banyak perusahaan rintisan dengan beberapa di antaranya telah menduduki status Unicorn dan Decacorn. Perusahaan Unicorn berarti bahwa Anda memiliki nilai valuasi mencapai US$1 miliar atau setara Rp14,1 triliun. Sedangkan Decacorn memiliki nilai valuasi US$ 10 miliar.

Untuk mengetahui lebih lanjut, inilah empat contoh start up yang ada di Indonesia saat ini:

1. Gojek

Start Up Gojek
Sumber: https://wananow.id/

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan perusahaan satu ini. Mengusung layanan ojek online, Gojek adalah perusahaan start up pertama di Indonesia yang berhasil memperoleh status Unicorn. Dirintis Nadiem Makarim pada tahun 2010, aplikasi Gojek terus memperkuat akar bisnisnya dengan menyediakan layanan tambahan, seperti jasa pesan antar makanan serta barang, pembelian pulsa/paket data, dan e-wallet.

Inovasi itulah yang akhirnya membuat para investor mulai tertarik dengan eksistensi Gojek. Pada tahun 2016, Gojek menerima kucuran dana sejumlah 550 juta dollar AS atau sekitar 7,2 triliun rupiah. Suntikan modal tersebut berasal dari beberapa investor, seperti Warburg Pincus, Sequoia India, Northstar Group, Rakuten Ventures, dan lainnya. Alhasil, tahun 2020 status Gojek telah naik tingkat menjadi start up Decacorn.

2. Tokopedia

Di tahun 2017, Tokopedia menyusul kesuksesan Gojek sebagai start up yang juga menyandang gelar Unicorn. Perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce ini telah aktif sejak awal perintisannya tahun 2009 lalu. Kemudian delapan tahun berselang, Alibaba Group memutuskan untuk melakukan investasi pada Tokopedia senilai 1,1 miliar dolar AS.

Komitmennya mendorong pemerataan ekonomi digital di Indonesia sangat kuat sehingga Tokopedia sungguh-sungguh memberikan wadah kepada masyarakat untuk mengembangkan aktivitas marketing-nya. Melihat potensi yang dimiliki, Tokopedia resmi mengumumkan merger bisnis dengan start up on-demand Gojek sejak 2021. Kolaborasi GoTo Group inilah merupakan bagian dari misi keduanya untuk menciptakan ekosistem digital yang unik.

3. Bukalapak

Di posisi berikutnya, nama Bukalapak turut eksis sebagai start up Unicorn di Indonesia sejak 2018. Pendiri platform All commerce ini adalah Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid. Berbasis perdagangan dalam skala nasional, Bukalapak memberikan kesempatan luas bagi para UMKM untuk merambah jangkauan bisnisnya di media penjualan online.

Kiprah Bukalapak terus berlanjut dengan melakukan penawaran umum perdana (IPO/Initial Public Offering) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2021. Dengan harga penawaran Rp850 per lembar saham, BUKA berhasil mendapatkan dana Rp21,9 triliun. Lalu, akuisisi beberapa perusahaan perintisan juga menjadi catatan bahwa Bukalapak serius dalam memperkuat bisnisnya.

4. Traveloka

Start up Traveloka adalah perusahaan yang menyediakan layanan pembayaran dan reservasi untuk transportasi serta penginapan dengan fokus perjalanan domestik untuk seluruh wilayah Indonesia. Awal kemunculannya pada tahun 2012 merupakan hasil kerja keras dari Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang. Lima tahun setelah perilisan, Traveloka kini sejajar dengan start up Unicorn dengan menggaet sejumlah investor asing.

Mempertahankan pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebab, pandemi Covid-19 lalu sempat menempatkan posisi Traveloka pada titik terendah. Namun, dengan adaptasi strategi baru, perlahan bisnis ini memperlihatkan kondisi yang stabil bahkan grafiknya terus meningkat signifikan.

Baca juga: Manfaat Penggunaan ERP untuk Perusahaan Startup

5. KoinWorks

Sebagai perusahaan start up Fintech (financial technology) di Indonesia, pertumbuhan KoinWorks terbilang cukup apik. Pasalnya, bisnis ini dibangun tahun 2016 lalu sukses meraih penghargaan melalui ajang kelas dunia Asian Banker Financial Innovation Award 2019 dan beberapa yang lain. Terbaru, Tracxn memberikan statement bahwa KoinWorks berpotensi untuk masuk dalam jajaran Unicorn bersama start up Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka. Oleh karenanya, perusahaan dengan produk finansial tersebut mendapat Soonicorn Award.

Tidak mengherankan karena KoinWorks terus berupaya mengoptimalkan semua sisi yang ada di dalam bisnis. Solusi atas kebutuhan finansial miliknya diterima dengan baik oleh masyarakat. Hingga sekarang, penggunanya telah  tercatat melampaui angka 600.000 lebih.

Perkembangan Start Up di Indonesia dan Dunia

Eksistensi Bisnis Start Up Melejit
Eksistensi Bisnis Start Up di Indonesia Mulai Melejit

Dari contoh start up di atas, boleh Anda katakan bahwa perkembangan bisnis rintisan cukup pesat. Situasi ini berlaku untuk dunia bisnis di Indonesia dan dunia. Faktor utamanya tentu adalah transformasi digital yang masif untuk meningkatkan implementasi teknologi di kehidupan sehari-hari. Namun, ada pula beberapa faktor lain yang juga mendukung. Apa saja?

1. Keterbukaan terhadap Hal Baru

Transformasi digital yang berkaitan erat dengan perusahaan start up tidak akan mungkin berjalan jika tidak ada sikap open minded dari masyarakat dan pemerintah. Kedua pihak tersebut memiliki andil besar dalam setiap perubahan. Pencapaian sepuluh tahun terakhir pada bisnis start up adalah bukti bahwa semua elemen masyarakat sangat terbuka dengan peran teknologi bisnis.

2. Startup Memiliki Pasar yang Menjanjikan

Dengan sikap terbuka, masyarakat berarti memberikan keleluasaan terhadap perusahaan start up untuk tumbuh dan berkembang. Salah satu wujudnya adalah pasar bisnis rintisan yang bahkan menarik minat masyarakat untuk turut serta mendukung. Hal ini karena produk start up mampu menyediakan solusi untuk menunjang segala kebutuhan. Produk-produk tersebut tentu memiliki Hak Cipta sehingga Anda perlu memperhatikan detail manajemen aset agar dapat meraup profit sesuai target.

3. Mengikuti Tren

Alasan mengapa kehadiran start up di Indonesia dan dunia sangat populer adalah karena segala aspek penyusunnya lihai dalam mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari penerapan metode kerja karyawan yang tidak terbatas ruang dan waktu, hingga layanan berbasis teknologi yang bisa Anda gunakan setiap saat. Lebih rinci, perusahaan perintisan mampu melihat situasi yang sedang terjadi sebagai satu inovasi bernilai.

Download Skema Perhitungan Harga Software Manajemen Aset HashMicro

4. Dukungan dari Investor dan Pemerintah Cukup Baik

Selain keterbukaan masyarakat, adanya dukungan dari investor dan pemerintah merupakan kunci sukses dalam membangun usaha perintisan Anda. Bentuk dukungan investor adalah dengan memberikan bantuan dana modal untuk mengembangkan bisnis. Sementara pemerintah berperan sebagai pihak yang mempermudah semua proses dengan regulasi dan peraturannya.

Baca juga: Apa Itu Aplikasi Manajemen Aset dan Manfaatnya Untuk Perusahaan

Perbedaan Start Up dengan Perusahaan Konvensional

Perbedaan Startup dengan Perusahaan Konvensional
Sistem Kerja Bisnis Start Up Lebih Fleksibel

Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya perihal perbedaan start up dengan perusahaan konvensional. Jika Anda lihat, bisa saja tidak ada perbedaan mencolok antara keduanya. Namun, tetap saja ada beberapa segi yang menempatkannya pada dua jenis perusahaan yang berbeda. Berikut adalah penjelasannya:

1. Struktur Organisasi

Bisnis start up adalah perusahaan yang struktur organisasinya cenderung rata. Artinya, keberadaan atasan dan karyawan tidak terlalu menunjukkan adanya strata jabatan yang berlebih. Semua divisi tetap bisa menjalin komunikasi dua arah. Sedangkan pada perusahaan konvensional, setiap posisi sudah ada susunannya secara formal mengikuti budaya korporat. Bahkan ada sekat pembatas yang mengatur sikap karyawan dalam berkomunikasi, baik dengan atasan maupun antar divisi. 

Kemudian dari segi keterlibatan investor, perusahaan perintisan memiliki tangung jawab penuh atas manajemennya. Investor hanya berlaku untuk hal-hal strategis. Berbeda dengan perusahaan konvensional yang sering mengikutsertakan peran investor dalam manajemen.

2. Pendanaan

Pada tahap awal, perusahaan perintisan mengandalkan modal dari para founder. Kemudian dalam prosesnya, founder akan berusaha mencari investor untuk membantu pengembangan bisnisnya. Lain halnya dengan perusahaan konvensional yang sumber dananya mereka peroleh dari satu atau sekelompok orang. Pemodal inilah yang akan terus mendanai operasional perusahaan dan ditambah dengan hasil keuntungan yang bisa diputar kembali.

3. Tujuan keuntungan

Perbedaan berikutnya antara perusahaan konvensional dan bisnis perintisan adalah tujuan keuntungan. Perusahaan perintisan sangat menggantungkan profit untuk pertumbuhan dan perkembangan bisnis. Sebab, start up masih terus mencari pola bisnis dan target pasar yang tepat. Pada perusahaan konvensional, fokus utamanya adalah mendapatkan profit untuk memberikannya pada perusahaan atau pemiliknya.

Download Skema Perhitungan Harga Software Manajemen Aset HashMicro

4. Ritme kerja

Pola atau ritme kerja pada perusahaan perintisan memerlukan kinerja yang lebih cepat dan singkat. Mengapa? Tujuan paling penting adalah agar bisnis ini mampu bersaing dengan para kompetitornya. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang pula satu orang mengerjakan dua bidang pekerjaan sekaligus. Keunggulannya, perusahaan start up lebih fleksibel sehingga Anda bisa bekerja di manapun. Jauh berbeda dengan perusahaan konvensional yang hanya perlu melakukan pekerjaannya sesuai job desc.

Baca juga: 5 Tips Mengatasi Masalah Manajemen Aset Perusahaan

Intangible Assets dalam Start Up

Intangible Asset Traveloka dengan Ikon dan Slogannya
Sumber: https://www.traveloka.com

Perlu Anda ketahui bahwa perusahaan start up memiliki aset krusial yang mampu mendongkrak merek dagangnya. Aset berguna sebagai identitas bisnis Anda dalam memperoleh capaian profit. Salah satu jenis aset pada perusahaan perintisan, yaitu intangible asset yang tidak berwujud, namun bernilai.

Intangible asset adalah aset yang tidak bisa Anda jaminkan kepada perbankan, seperti pada tangible asset yang meliputi gedung atau properti. Hanya saja, aset ini melekat erat pada apa yang ingin Anda tampilkan kepada masyarakat, misalnya inovasi dan brand image.

Meskipun tidak bisa dijaminkan, Anda tetap bisa menghitung realisasi nilainya. Dengan aplikasi pencatatan aset terbaik, Anda dapat mengelola seluruh aset secara real-time. Untuk mengetahui detail biaya penggunaannya, unduh skema harga software manajemen aset HashMicro.

Apa saja jenis intangible asset? 

1. Goodwill

Sebuah perusahaan seringkali mengakuisisi perusahaan lain dengan tujuan untuk memperkuat bisnisnya. Pengambilalihan tersebut biasanya memunculkan selisih dari pembelian aktiva yang nominalnya lebih tinggi dari pasaran. Pertanyaannya, apakah Anda akan rugi? Tentu tidak karena Anda justru akan mendapat jumlah lebih dari aktivitas. Aktivitas inilah yang Anda kenal sebagai aset goodwill.

2. Patent

Hak paten adalah suatu hak yang diberikan kepada perusahaan atau pihak yang menemukan suatu inovasi, lalu memproduksinya untuk kepentingan komersial. Nilainya dapat Anda tentukan dari besar biaya yang Anda keluarkan hingga mendapatkan paten. Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016, patent bagi bisnis start up adalah sesuatu yang penting Anda gunakan untuk melakukan perlindungan terhadap invensi-invensi di bidang teknologi. 

Baca juga: Keuntungan Memiliki Hak Paten bagi Bisnis Anda

3. Copyright

Secara definisi, copyright adalah hak cipta yang melekat pada diri seorang pencipta atas hasil karyanya. Tujuan adanya hak cipta pada perusahaan perintisan adalah agar produk yang Anda pasarkan mendapat legalitas, perlindungan, dan terhindar dari plagiasi. Jelasnya, jangka waktu mengenai copyright ditegaskan dalam Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014.

4. Trademark

Masuk dalam satu rumpun bidang HKI, trademark atau merek dagang adalah identitas dari produk atau layanan yang Anda pasarkan menggunakan kata, logo, slogan, dan lain-lain. Merek dagang sangat penting untuk meningkatkan penjualan produk dalam rangka menunjang kontinuitas bisnis Anda. Maka dari itu, trademark menjadi aset yang perlu Anda maksimalkan dengan baik.

5. Franchise

Jika bisnis start up Anda merupakan franchise, tentu Anda berlaku sebagai franchisor (pihak pertama). Franchise atau waralaba merupakan bagian dari aset tak berwujud sebab dalam penerapannya, penerima akan membeli produk dari pihak pertama melalui perjanjian waralaba. Perjanjian tersebut mengatur tentang harga peroleh masing-masing pihak.

Kesimpulan

Start up adalah bisnis rintisan yang memiliki potensi besar untuk Anda kembangkan. Terbukti dengan adanya pertumbuhan start up di Indonesia yang memperlihatkan ekosistem digital mulai banyak diimplementasikan saat ini. Mengusung suasana kinerja lebih fresh daripada perusahaan konvensional, bisnis rintisan menitikberatkan pencapaian profit pada intangible asset. Untuk itu, Anda perlu mempertimbangkan penggunaan aplikasi aset yang tepat.

Start Up

Download Skema Perhitungan Harga Software Manajemen Aset HashMicro

Software Manajemen Aset Terintegrasi dari HashMicro adalah solusi yang mampu mengoptimalkan pengelolaan semua aset pada perusahaan perintisan Anda. Kalkulasikan nilai aset berupa depresiasi dan ROI secara otomatis untuk mempermudah pengambilan keputusan. Dengan fitur canggihnya, Anda juga dapat mempermudah pengelolaan kontrak aset dari aspek biaya hingga premis asuransi. Unduh skema perhitungan biaya software manajemen aset HashMicro untuk memperoleh rincian biaya yang perlu Anda siapkan. Jadwalkan demo gratis sekarang!

Tertarik Mendapatkan Tips Cerdas Untuk Meningkatkan Efisiensi Bisnis Anda?

Maydi Hanivirgine
Maydi Hanivirgine
Junior Creative Content Writer Marketing ([email protected])

Coba Gratis Software HashMicro

Diskusikan kebutuhan bisnis Anda dengan konsultan ahli kami dan DAPATKAN DEMO GRATISNYA!

Ingin respon lebih cepat?

Hubungi kami lewat Whatsapp

Nadia

Nadia
Balasan dalam 1 menit

Novia
Ingin Demo Gratis?

Hubungi kami via WhatsApp, dan sampaikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim ahli kami
+6287888000015
├Ś
Jadwalkan Demo Via WA