5 Kesalahan Umum pada Manajemen Risiko Perusahaan

Syifa Fadiyah
manajemen risiko perusahaan

Para eksekutif tahu bahwa mereka menghadapi risiko yang dapat mempengaruhi operasi bisnis. Tetapi, kesalahan manajemen risiko perusahaan yang kerap terjadi bermula pada ketidaktahuan mereka akan risiko mana yang benar-benar ada dan yang tidak. 

Padahal, tujuan dari manajemen risiko adalah untuk mengatasi potensi masalah, mengendalikan masalah yang sedang terjadi, dan membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan. Jika dilakukan secara asal-asalan, keberlangsungan perusahaan dapat terancam. 

Untuk memberikan gambaran di mana letak kesalahannya, kami telah merangkum beberapa langkah manajemen risiko yang kerap tidak dilakukan dengan benar:

Pemimpin yang kurang handal

Kesalahan pada pemimpin hampir selalu menjadi faktor kegagalan manajemen risiko. Hal ini ditandai dengan seringnya eksekutif perusahaan mengabaikan dan menampis berita buruk yang mengimplikasikan tidak berjalannya strategi yang ia implementasikan. 

Selain itu, terdapat ciri lainnya seperti tidak adanya kesempatan bagi anggota organisasi lain untuk berkontribusi dalam pembuatan strategi dan kebijakan. 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kesalahan yang disebabkan oleh atasan yang tidak kompeten:

  1. Menyusun tata cara bagaimana manajemen risiko dilakukan dan memastikan bahwa struktur kebijakan, akuntabilitas, dan protokol pelaporan masalah berjalan dengan baik.
  2. Direktur harus waspada terhadap tanda bahaya seperti strategi bisnis yang tidak berjalan, tekanan kinerja, eksekutif yang kurang mumpuni, kompetisi internal yang tidak sehat, dan fokus berlebihan pada tujuan jangka pendek. 
  3. Manajemen harus mempersiapkan wawasan yang luas ketika hendak melakukan terobosan baru sehingga risiko dapat dikomunikasikan dan ditangani dengan baik. 

Artikel terkait: Supply Chain, COVID-19, dan Peran Teknologi dalam Mitigasi Disrupsi

Tidak mampu menerapkan Enterprise Risk Management (ERM)

Setelah perencanaan mitigasi risiko dibuat, terbitlah ERM. Namun demikian, ada kesalahan lain yang bisa muncul karena tidak terlaksanakannya protokol ERM dengan baik. Masalah ini ditandai dengan kurangnya dukungan manajemen dalam upaya mitigasi dan tidak dilibatkannya orang yang berkompeten pada masalah ini. 

Untuk menghindarinya, manajemen harus turut serta mendorong para eksekutif senior untuk mengambil peran yang seharusnya. Bersama mereka, lakukan evaluasi dengan bertanya: Apa prioritas risiko yang dihadapi dan bagaimana cara mengelolanya? Selain itu, monitorlah segala operasi bisnis dan fokuslah pada area yang membutuhkan perbaikan.   

Hanya mempercayai data kuantitatif

Ada sebuah mindset yang mengatakan jika sesuatu tidak dapat diukur, maka sesuatu tersebut tidak bisa dikelola. Meskipun ada benarnya, banyak manajer yang salah kaprah dengan pola pikir ini. Mindset tersebut malah menjadi alasan saat mereka tidak berbuat apa-apa ketika ada masalah karena risiko yang “sulit diukur”. Biasanya manajemen yang seperti ini tidak bisa membedakan data dan informasi. 

Untuk mengatasinya, ada baiknya jika semua data dianalis dengan baik agar bisa menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan. Lebih jauh lagi, manajemen harus:

  1. Mengidentifikasi prioritas risiko dan mencari data dan informasi yang tersedia.
  2. Mencari informasi tambahan untuk membangun Indikator Risiko Utama (IRU).
  3. Jika tidak ada informasi yang tersedia secara langsung, evaluasilah Key Performance Indicator (KPI).
  4. Mengomunikasikan risiko-risiko yang sulit diangkakan atau solusi yang kurang menjanjikan. 

Tidak mengintegrasikan manajemen risiko dengan data real-time

Risiko dapat terjadi karena formulasi strategi yang tidak tepat dan tidak realistis. Akibatnya, cara penanganan yang sudah dibuat tidak dapat digunakan karena tidak memiliki objektif yang sesuai. Masalah ini ditandai dengan:

  1. Tidak sesuainya respon manajemen dengan situasi yang dihadapi perusahaan.
  2. Tidak adanya hubungan antara manajemen risiko dengan operasi bisnis perusahaan
  3. Tidak ada solusi alternatif atau perubahan rencana mitigasi tanpa alasan yang jelas. 

Untuk menghindari kegagalan semacam ini, manajemen harus mengimplementasikan program yang dapat mengintegrasikan seluruh bagian operasi bisnis dan menghasilkan data real-time. Dengan demikian, baik perencanaan strategi, manajemen risiko, dan performa bisnis terkoneksi dengan baik. 

Mengabaikan budaya organisasi yang disfungsi

Budaya organisasi memiliki dampak yang besar dalam pencegahan risiko dan identifikasi potensi masalah. Jika budaya organisasinya tidak sehat, seringkali manajemennya abai dalam melihat tanda-tanda bahaya seperti adanya kesalahan atau sesuatu yang tidak beroperasi sebagaimana mestinya. 

Budaya organisasi yang bersmasalah bisa berupa adanya conflict of interest, target yang tidak realistis,  atau tidak seimbangnya tanggung jawab risiko di manajemen. 

Masalah manajemen budaya organisasi merupakan tantangan yang sulit tapi bisa diatasi. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah membagi tanggung jawab manajemen risiko ini secara adil. Kedua, bahas risiko dan peluang yang dihadapi perusahaan. Dan ketiga, pastikan semua orang tahu mengenai sanksi jika ada pelanggaran kebijakan. 

Itulah indikator utama kesalahan manajemen risiko di perusahaan yang sering terjadi dan cara menghindarinya. Jika kesalahan tersebut dihindari sebaik mungkin, manajemen eksekutif dapat memeriksa kesehatan dan kesiapan manajemen risiko perusahaan. 

Dapatkan

Konsultasi Software ERP

GRATIS via WhatsApp

related articles